Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 54. Siapa?


__ADS_3

"Udah sih, Ger, lu beli lagi aja, dengan bentuk dan warna yang sama. Jangan kayak orang susah deh!" cetus Edo yang sudah merasa bosan mendengar rengekan sahabatnya. Karena hal itu, menggangu konsentrasi kerjanya.


"Tapi nyokap gue tuh teliti banget, Do. Kalo kagak bau sabun berarti bukan punya dia! Lagian gue juga lupa kemaren bawa warna apa," jawab Gerry, frustasi sendiri menghadapi emaknya Minnie.


Sementara di tempat duduknya, Ghara malah senyum-senyum sendiri. Tidak memikirkan solusi apapun untuk Gerry.


"Ghar, bukannya bantuin malah mesam-mesem kagak jelas! Kesurupan jablayy lu?"


Mendengar namanya dipanggil Ghara langsung tersadar, dia mengalihkan pandangan pada sosok pria yang sedang uring-uringan di sofa. "Hah, apaan?!"


"Ah elah, giliran gue susah kayak gak ada yang peduli!" gerutu Gerry.


"Ya ampun, Ger. Masih masalah Tupperware?" tanya Ghara.


"Ya iya, terus apalagi, Anjiirr!?"


"Lagian idup lu kok dibikin ribet sih? Ya lu beliin aja tuh dua, bilang sama nyokap lu kalo Tupperware-nya kagak ketemu. Kasih cipokk-cipokk dikit biar luluh," ujar Ghara memberi saran singkat. Karena isi kepalanya sekarang hanyalah istri kecilnya. Wanita cantik yang membuat dia ingin cepat-cepat pulang ke rumah.


"Anjinggg, kagak ada yang nyimak dari tadi!" cetus Gerry dengan kesal. Membuat Edo dan Ghara saling pandang.


"Kagak ada yang nyimak apaan sih, Ger? Nih bocah minta dilelepin pala kenty-nya!" balas Edo dengan ketus. Sedari tadi laporan dia tidak selesai-selesai karena mendengar ocehan Gerry.

__ADS_1


"Kan gue udah bilang, kalo ganti suruh 10 kali lipat! Bisa abis tabungan gue cuma buat beli anak kesayangan istrinya Pak Jerry," cerocos Gerry sambil meraup wajahnya. Sementara Edo dan Ghara hanya mampu mengangkat alis masing-masing. Tak mau ambil pusing.


"Ya, dari pada lu gak pulang ke rumah, ya 'kan, Ghar?" ujar Edo meminta pendapat Ghara. Mereka saling kongkalikong, dengan kode berupa kedipan mata.


"Nah, bener. Udah mending elu turutin aja. Duit bisa dicari, kalo emaknya Minnie kagak bakal ada lagi," timpal pria itu, yang membuat Gerry mendengus kasar.


"Asuu lu bedua!"


***


Ketika jam kerja telah habis, Ghara berniat untuk langsung keluar dari ruangannya. Dia tidak ingin membuang-buang waktu, karena sudah ada seseorang yang menunggunya di rumah.


"Ya elah, manten baru buru-buru amat, masih sore, Nyet," cetus Edo ketika Ghara melewati mejanya.


"Enak ya udah bisa sawadikap skidipapap tralala trilili indehoy. Sedangkan gue sengsara!" timpal Gerry yang masih berbaring di sofa.


"Anak Curut gak usah banyak bacott, lu ikut sama Edo, nanti gue kirim makanan!"


Gerry langsung terlihat antusias, tetapi baru saja hendak menjawab. Pintu sudah tertutup rapat, karena Ghara sudah berlari menuju lift.


Dia menganga, sementara si pelaku terus tersenyum sumringah. Ghara mengendarai mobilnya, tetapi sebelum benar-benar pulang ke rumah, dia lebih dulu mampir ke toko bunga.

__ADS_1


"Mawar merah satu iket!" ucap Ghara pada si penjual.


"Pake kartu ucapan gak, Kak?"


"Pakein, tapi tulis aja for Lily-nya Ghara."


Mendengar itu, si penjual langsung mengulum senyum. Karena panggilan itu terdengar sangat manis. Apalagi bagi pasangan muda seperti yang ada di hadapannya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya bunga mawar merah itu sudah berada di tangan Ghara. Pria tampan itu segera kembali ke mobilnya, tetapi karena tergesa-gesa dia tidak sengaja menyenggol bahu seorang wanita paruh baya. Hingga membuat wanita itu terhuyung.


Hap!


Ghara menangkap kedua sisi lengan wanita itu. Hingga tak sampai terjatuh. Sementara tatapan mereka bertemu hingga beberapa detik, dan Ghara memutusnya lebih dulu.


"Maaf, Bu," ucap Ghara dengan sopan seraya melepaskan tangannya. Hingga wanita itu kembali berdiri dengan tegak.


"Ah iya, tidak apa-apa, saya juga kurang hati-hati," balas wanita itu, sambil memperhatikan Ghara dengan seksama. Hingga membuat pria itu merasa ada yang aneh, apalagi saat melihat kedua bola mata wanita itu, seperti tidak asing.


"Kalo gitu saya duluan, Bu," ujar Ghara, mempersingkat pertemuan mereka. Wanita itu menganggukkan kepala, dan membiarkan Ghara menghilang dari pandangannya.


Namun, meskipun mereka sudah berpisah, Ghara masih sekilas memikirkannya. "Mirip siapa yah?"

__ADS_1


***


Mirip elu, Bang, kan elu yang anak pungut 🤣🤣🤣


__ADS_2