Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 72. Aku, Kamu


__ADS_3

Seperti biasa Lily akan terbangun lebih dulu dari pada suaminya. Dia mengerjapkan kelopak matanya pelan-pelan, saat sang Surya mulai menunjukkan sinarnya.


Dia menoleh ke samping di mana Ghara terlelap dengan bertelanjang dada. Sebuah kebiasaan baru setelah mereka menikah.


Dengan perlahan Lily memindahkan tangan Ghara yang masih mendekap tubuhnya. Terasa cukup berat, karena Ghara memang memiliki otot tubuh yang besar.


Namun, semakin dilawan nyatanya Lily semakin merasa kesulitan. "Kakak, aku mau mandi, aku harus kuliah." Ujar gadis itu, masih berusaha untuk mengangkat tangan Ghara yang semakin naik ke leher.


Mendengar itu, Ghara pun ikut mengerjapkan bola matanya. Dia sedikit mengernyit, menyesuaikan cahaya yang mulai masuk ke indera penglihatannya. Dengan tersenyum smirk, Ghara semakin meringsekkan badan, untuk menindih Lily.


"Jatah Jeky, Yang," ucapnya dengan suara serak dan sensual.


"Jatah Jeky apa?" sentak Lily.


"Udah ikut bangun lho, Yang. Bobokin lagi yuk," rengek Ghara seraya menengadah. Sementara tangannya merayap masuk ke dalam piyama Lily.


Jika sudah begini Lily paham ke mana arah ucapan Ghara. Setelah tahu bagaimana nikmatnya bercinta, dia pun jadi merasa kecanduan, hingga akhirnya dia mengikuti kemauan suaminya. Namun, dengan gerakan malu-malu, agar tidak terlihat bahwa dia sedang berantusias.


"Tapi bentaran aja yak," tawar Lily, sementara Ghara tidak mengindahkan ucapan istrinya lagi. Dia segera menaiki tubuh Lily, dan membungkam bibir tipis itu.


Mereka berciuman dengan panas, hingga pagi itu menjadi lebih hangat. Tak butuh waktu lama, gairah mereka sudah sama-sama terbakar. Bahkan dengan tidak sabaran, Ghara membuka piyama Lily dengan cara kasar, lalu membuangnya sembarangan.


Lily semakin pasrah ketika Ghara membalik tubuhnya. Hingga gadis itu menghadap ke kepala ranjang. Sementara di belakang sana Ghara terus memberikan lumataan pada bagian tubuh Lily.

__ADS_1


Hingga menyisakan bekas kemerahan, tanda percintaan mereka berdua.


"Ah, Kak!" lenguh gadis cantik itu saat Ghara memainkan kedua pucuk dadanya. Dia menggelinjangg bak cacing kepanasan, dan hal tersebut membuat Ghara semakin bertambah liar.


"Panggil nama gue, Li. Gue seneng kalo lu panggil nama gue pas ngesexs," bisik Ghara seraya menciumi telinga istrinya, bahkan tak sedikit dia juga memberikan hisapan, hingga membuat gadis itu mendesahh di bawah permainan Ghara.


Lily hanya bisa mencengkram kuat sprei ketika Ghara tiba-tiba menyatukan tubuh mereka. Dia tersentak, karena benda panjang itu selalu membuat dia merasa sesak.


"I love you, Li. I love you so much," bisik Ghara lagi, sebelum bergerak. Namun, Lily tak dapat menjawabnya, dia hanya meringis lalu merasakan tubuhnya dihentak dengan keras. Hingga dengan sendirinya dia memanggil nama Ghara.


Pagi itu mereka terus berbagi peluh dan dessah, hingga mereka mendapatkan puncak pelepasan yang begitu melegakan.


Lily melenguh panjang, sementara Ghara mencengkram erat dada istrinya, sambil menahan bagian bawah tubuhnya yang tengah merasakan gelombang kenikmatan.


Tubuh mereka ambruk secara bersamaan karena merasa lemas. Namun, ada senyum kecil yang tercipta di bibir masing-masing menunjukkan kepuasan.


"Gak yakin aku," balas Lily dengan nafas tersengal-sengal. Membuat Ghara terkekeh mendengarnya.


"Beneran Lily Sayang. Gue siapin aer anget dulu."


Ghara hendak bangkit dari ranjang, tetapi Lily lebih dulu mencekal pergelangan tangannya. Hingga membuat Ghara menautkan kedua alisnya. "Kenapa? Elu butuh sesuatu?"


"Bisa gak manggilnya gak gue elu. Aku kan istri kakak, bukan temen yang bisa dipanggil seenaknya!" ucap Lily, mulai merasa risih dengan panggilan itu. Yah, katakan saja bahwa dia sudah mulai membuka hati untuk Ghara, jadi dia ingin senantiasa diperlakukan dengan manis.

__ADS_1


Mendengar itu, Ghara mengulum senyum. Akhirnya harapan yang dia impikan terwujud juga. Dia kembali duduk di samping Lily dengan tubuh telanjang, lalu mengusap puncak kepala gadis itu. "Maunya dipanggil Sayang terus?"


"Ya enggak, maksud aku—" Lily berubah tergagap, karena merasa kikuk sendiri.


"Iya-iya aku paham. Maunya kayak gini 'kan? Biar apa? Biar tambah romantis yah?"


"Ya biar lebih enak didenger aja," balas Lily mulai mencari alasan. Sementara dada Ghara sudah terasa ingin meledak. Dia sangat senang, karena akhirnya Lily mau menerimanya.


"Ya udah, sekarang aku mau ke kamar mandi ya, Sayang. Kamu tunggu di sini," ujar Ghara mengalah, tak ingin membuat Lily semakin malu.


Dia melanjutkan niatannya untuk masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Lily yang senyum-senyum tidak jelas. Ah, gila! Kenapa dia jadi merasa sangat senang yah?


***


Seperti hari-hari biasanya. Ayah Keysha bersiap-siap untuk bekerja. Setelah sarapan, dia pamit kepada istrinya untuk berangkat ke perusahaan. Namun, kali ini ada yang berbeda.


Sebab dia malah membelokkan mobilnya ke arah rumah keluarga Barrack. Dia ingin mencari tahu benar atau tidaknya pesan misterius itu.


Dan di sinilah dia sekarang, ketika satu keluarga itu sedang menikmati sarapan, ayah Keysha sudah berkunjung. Dan memberitahu pada seorang security, bahwa dia ingin bertemu dengan gadis bernama Lily, yang ia kenal sebagai adik Ghara.


"Tunggu sebentar ya, Tuan," ucap security tersebut. Dan ayah Keysha pun mengangguk.


Pria berseragam itu masuk ke dalam rumah, ingin memberitahu majikannya bahwa ada seseorang yang bertamu.

__ADS_1


"Permisi, Tuan, Nyonya, di depan ada Tuan Andreas, katanya beliau ingin bertemu dengan Nona Lily," ucap sang security, membuat semua orang langsung membelalakkan mata.


Untuk apa Andreas mencari Lily? Apakah ini semua ada hubungannya dengan Keysha?


__ADS_2