
Sementara di rumah, Lily sedang menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya. Dia sudah berjanji untuk datang ke kantor, sekalian menjemput Amora di rumah Andreas. Sebab sudah dua hari gadis cilik itu menginap di rumah nenek dan kakeknya.
Ya, setelah beberapa tahun berlalu, akhirnya pelan-pelan Lily bisa menerima Andreas sebagai ayahnya. Sebab mau dipungkiri seperti apapun, dia tidak bisa menolak takdir yang digariskan Tuhan untuknya.
Ada darah Andreas yang mengalir di tubuhnya. Semakin dia mengelak, dia pun semakin merasa tidak tenang. Tidak ada kedamaian apapun, meski Ghara meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Toh, Sonia begitu lapang dada menerima dirinya, tanpa membeda-bedakan status antara dia dengan Keysha. Yang notabenenya anak kandung mereka berdua.
"Li, kamu mau ke kantor Ghara yah?" tanya Arabella yang tiba-tiba masuk ke dalam dapur.
"Iya, Mom, aku sekalian mau jemput Amora di rumah Papa. Kenapa, mau nitip sesuatu?" jawab Lily, seraya memperhatikan ibunya yang sedang membuka lemari pendingin. Namun, tangannya tetap stay di atas tupperware.
"Gak, Sayang, Mommy cuma mau minta tolong, kalo ketemu Cio ajak dia pulang, biar gak bikin masalah. Biasanya kalo diiming-imingi ada Moya, dia suka minta ikut," jelas Arabella, paham betul bagaimana sifat putra bungsunya. Tadi pagi bocah tampan itu merengek meminta ikut dengan ayahnya, jadi dengan terpaksa Arabella mengizinkan Cio pergi bersama Alessandro.
"Oh itu, ya udah nanti aku coba bujuk dia deh," ujar Lily, padahal sebenarnya dia sedikit membatin, karena jika Cio sudah disatukan dengan Amora, hanya ada pertengkaran saja di antara mereka. Cio kan usil.
Setelah semuanya beres, ibu hamil itu pun mengambil tas yang ada di dalam kamar, lalu keluar dengan membawa bekal makan siang yang sudah dia siapkan untuk sang suami.
Di saat hamil seperti ini, bentuk tubuh Lily bertambah semakin seksi, sehingga dia kerap memakai baju yang sedikit lebih longgar.
__ADS_1
"Pak, kantor Daddy yah," ucap Lily pada sang supir, seraya memposisikan duduknya dengan nyaman.
"Baik, Nona," balas sang supir, lalu kendaraan itu pun melandas, menuju gedung Sixnine Entertainment.
Hanya butuh waktu kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya Lily tiba dengan selamat. Dia segera keluar dari mobil, lalu menaiki lift untuk sampai di ruangan suaminya.
Sebelum Lily mengetuk pintu, tiba-tiba benda persegi panjang itu sudah terbuka lebih dulu. Lily dan Edo sama-sama terkejut, karena tak sengaja berpapasan.
"Eh, Li, udah dateng, baru mau gue jemput ke bawah," kata Edo mencairkan keterkejutannya.
"Ya ampun kayak sama siapa aja sih, Kak, pake dijemput segala. Gak usah ikutin apa kata Kak Ghara deh, kalo emang mau niat jemput istrinya, ya dia aja!" balas Lily, sedikit kesal karena Ghara malah menyuruh orang lain.
Tanpa permisi wanita hamil itu masuk ke dalam ruangan suaminya, dan berdiri di depan Ghara.
"Iya ada, dan jawabannya kamu! Ngapain nyuruh buat nyusulin aku? Kenapa gak kamu aja?" omel Lily, setiap hamil bawaannya selalu sensitif saja.
"Aku lagi banyak kerjaan, Sayang. Dari tadi aku digangguin Cio terus, kan jadi gak fokus akunya," adu Ghara seraya mengusakkan kepala di ceruk leher Lily, sementara tangannya sudah melingkar, memeluk perut buncit wanita itu.
"Ya ampun, turun ke bawah itu gak ada lima menit. Aku udah bela-belain bawa bekal makan siang buat kamu. Tapi kamunya gak kasih feedback baik ke aku!"
__ADS_1
"Iya-iya aku minta maaf, Mommy Moya kalo lagi marah serem banget sih," rengek Ghara, mulai menciumi pipi Lily agar wanita itu lekas luluh.
"Aku gak marah!" tegas Lily dengan mata yang menyalak tajam, membuat Edo langsung menganga.
Lah kalo bukan marah itu apa namanya, Anjirrr?
"Iya kamu gak marah, kamu cuma kesel 'kan?" timpal Ghara, tak ingin ambil pusing, karena hal tersebut hanya akan membuat mood Lily semakin berantakan.
"Aku juga gak kesel!"
"Ya, terus apa dong?"
"Kamu ngerti gak sih apa yang aku rasain? Pas kamu ngelakuin sesuatu buat seseorang dan berharap dibales dengan baik, tapi ternyata—ah tahulah! Kamu gak peka!" cetus Lily seraya melepaskan pelukan Ghara. Dia berjalan ke arah sofa dengan nafas yang terengah-engah, tubuhnya terasa panas padahal suhu ruangan itu terasa normal.
Ghara menganga, setelah dipikir-pikir ternyata dia tidak lagi melihat sosok bawang putih pada diri Lily, sebab akhir-akhir ini dia selalu merasa tertindas dengan tingkah ibu hamil itu.
"3 bulan lama bener sih, rasanya pengen gue rudal si Lily!" gerutu Ghara.
"Aku denger!"
__ADS_1
Glek!
***