Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 90. Aku Kangen Moya


__ADS_3

"Jangan, Nak," sergah Alessandro pada sang anak yang tengah menarik lembar demi lembar tisu, hingga membuat benda itu jadi berantakan dan ada di mana-mana.


Akan tetapi bocah tampan itu tak mau mendengarkan, dia justru semakin asyik dan terkekeh sendiri karena ulahnya.


Alessandro melirik ke arah Boby, pria itu tampak mengangkat bahu, karena sudah menyerah membujuk putra sahabatnya yang kelewat aktif itu.


"Cio, kita pesen makan aja yuk," ujar Alessandro, membuat sang anak mengangkat kepala.


"Tapi Cio mau main, Daddy," sahutnya, dia membuka tas lalu mengambil buku gambar dan pulpen.


"Kalo gitu mainnya yang wajar aja. Jangan berantakin ruangan Daddy, okey?"


Cio mengangguk patuh, lalu mulai menggambar dengan asal, dia juga mengeluarkan beberapa spidol dari tasnya untuk mewarnai. Namun, belum ada 10 menit, bocah tampan itu sudah kembali cekikikan.


"Ini Moya, ini Kak Gala, ini Mommy Yiyi," gumamnya dengan senyum yang mengembang sempurna.


Membuat Alessandro jadi curiga, apa yang sedang dikerjakan oleh putra bungsunya.


"Al!" panggil Boby dengan mata melotot, memberi kode, sementara Alessandro yang belum paham kenapa sang sahabat seperti itu, lantas mengangkat kedua alisnya. Seperti mengatakan ada apa?


Boby menunjuk Cio menggunakan ujung dagunya, dan tepat pada saat itu Alessandro langsung mengalihkan pandangannya pada sang anak. "Astaga naga, Cio! Kenapa temboknya dicoret-coret, Nak? Anak pinter, anaknya Arabella yang cantiknya ngalah-ngalahin artis Korea!"


"Aku lagi gambal muka Moya, Daddy. Aku kangen Moya," jawab Cio dengan enteng, padahal hari ini dia sudah berhasil membuat ayah dan kakaknya sakit kepala.


"Iya tapi gak di tembok juga, Cio. Kalo kayak gitu pabrik bukunya nanti nangis lho," seru Alessandro, terlihat sekali kerutan di wajahnya, karena sang anak yang terus-menerus membuat masalah.

__ADS_1


"Tapi aku kangen Moya! Mau Moya," timpal Cio berteriak, karena sudah dua hari ini bocah cantik bak Barbie hidup itu tidak dapat dia kerjai.


"Ya udah beli makan aja yuk, terus pulang." Alessandro bangkit dari kursi kebesarannya untuk mengajak sang anak turun ke bawah, tetapi Cio malah menolak ajakan Alessandro dengan menepis tangan pria itu.


"No, mau pulang cama Moya!"


Alessandro menghela nafas panjang, dia harus memiliki rasa sabar yang lebih besar, karena kalau tidak, bisa-bisa dia mengalami gejala stroke.


"Amora kan di rumah kakeknya, Cio. Nanti sore baru pulang," kata Alessandro, karena dia tidak tahu jika ternyata Lily hendak menjemput cucunya itu.


"Cio aja yang jemput pake motol, Moya duduk di belakang."


"Gak bisa lah, Sayang. Motornya Cio kan kecil."


"Ya udah Daddy beli yang becal, bial muat cemuanya. Cio mau motol lagi, hali ini juga!" tegas pria kecil itu seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Jangan bacott mulu, bantuin kek!"


"Udah mending kasih susu tuh bocah, keknya dari tadi dia gak bisa anteng karena kehabisan nutrisi, mirip elu kalo belum netee sama Ara," saran Boby sekaligus mencibir.


"Asuu lu!" cetus Alessandro, tetapi dia berencana untuk mengikuti saran dari Boby.


"Tapi Cio mimi susu dulu yah. Tadi mana bekel yang dikasih Mommy, sini biar uncle Boby yang buatin," bujuk Alessandro, seraya mengangkat tas punggung sang anak yang hanya berisi susu formula dan juga seperangkat alat tulis.


"Lho kok gue, Al?" Boby tampak tak terima, saat Alessandro menyerahkan botol susu kepadanya.

__ADS_1


"Yang penting anak gue diem, lagian kek elu gak pernah punya anak aja. Takerannya double, itu botolnya gede soalnya," jelas Alessandro, lalu mengusak puncak kepala Cio. "Abis ini baru kita keluar okey?"


"Oke, Daddy!" ujar Cio, lalu pandangannya beralih pada Boby yang sedang berjalan ke arah dispenser. "Uncle, ailnya janan yang nash-nash ya."


"Nas-nas apaan dah? Perasaan emang gak ada yang rasa nanas," timpal Boby.


"Airnya jangan panas-panas, Uncle Boby! Denger gak?" jawab Alessandro dengan ketus, juga matanya yang menajam.


"Yaelah, anak sama bokap sama aja, sama-sama suka nindas!" gerutu Boby, walaupun sudah ada petunjuk takaran, tetapi pria itu tetap membuat susu dengan asal-asalan, yang penting jadi dan Cio mau meminumnya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya botol susu milik Cio sudah terisi penuh. "Silahkan yang mulia," kata Boby dengan nada meledek.


"Bilang apah?" balas Cio seraya meraih botol susu.


"Terima kasih." Boby tersenyum tipis, tak sadar jika dia sudah dijebak oleh bocah balita itu. Cio dan Alessandro terkekeh, lalu mereka bangkit dari sofa untuk keluar. Sementara Boby baru sadar, ada sesuatu yang salah di antara mereka.


"Lho, lho, kenapa jadi gue yang makasih ya?" gumam Boby pada diri sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


***


Penasalan sama Balbie-nya Cio?


Ini Balbie-nya Cio🐰


(Amora)

__ADS_1



__ADS_2