
"Anj—" Suara Ghara tertahan karena merasakan sakit yang luar biasa pada area pangkal pahanya.
Dia segera berbalik dan menjauh dari tubuh Lily, tak habis pikir kenapa gadis itu malah menabok Jeky dengan sekuat tenaga. Untung biji dragon ball-nya tidak sampai pecah.
Ghara menahan nafas, sementara Lily menatap nanar tangannya yang baru saja melakukan tindakan kekerasan. Dia terduduk, dan mencari apa saja yang bisa menutup tubuhnya yang telanjang.
"Kak, tadi aku—aku—" Lily tergagap dan merasa frustasi. Karena dia benar-benar tidak sengaja melakukan itu semua.
Dia terkejut, terlebih dengan ukuran milik Ghara yang bisa dibilang ukuran raksasa. Ya, meskipun ini pertama kalinya dia melihat senjata seorang pria. Akan tetapi dia jelas bisa menilainya.
"Cukup, Li. Ini kita belum apa-apa, dan elu udah KDRT sama Jeky," tukas Ghara, dengan rasa yang campur aduk.
"Tapi, Kak. Aku itu—"
Ucapan Lily kembali terpotong, karena tiba-tiba Ghara berbalik sambil memasang jari telunjuknya di bibir.
Namun, fokus gadis itu tidak ke sana, dia malah menurunkan pandangan hingga mengarah pada ekor buaya milik suaminya, yang masih berdiri tegak menantang dunia.
"Lu harus tanggung jawab, Li," ucap Ghara dengan nafas yang memburu. Dia kembali mendekati Lily, tetapi gadis itu malah beringsut hingga sprei semakin terlihat berantakan.
"Tanggung jawab gimana? Aku kan gak sengaja, lagian salah dia juga, kenapa nongol tiba-tiba, aku 'kan kaget!" jawab Lily apa adanya.
"Tapi sumpah, Li. Ini sakit banget," keluh Ghara sambil memukul-mukul ranjang. Dia menggigit bibir, merasakan sesuatu yang begitu menyiksa.
Melihat itu, Lily jadi merasa kasihan. Dia menghela nafas panjang dan akhirnya memilih untuk mengalah. Lily segera mengambil dress rumahannya yang tergeletak di lantai, lalu memakainya dengan cepat.
Lalu setelah itu dia memberanikan diri untuk mendekati Ghara dan duduk di samping pria tampan itu. Padahal dalam hati Lily masih ada rasa cemas, takut jika tiba-tiba Ghara menerkam dirinya.
"Aku minta maaf, aku beneran gak sengaja, Kak," ujar Lily, dia duduk dengan jarak aman. Tidak memberikan sentuhan apapun, sebab ia tahu itu akan membahayakan dirinya.
__ADS_1
Ghara menoleh ke samping. "Gue gak butuh maaf elu!"
"Maksud Kakak?"
Ghara meraih tangan Lily yang sudah terasa berkeringat dingin. Lalu membawanya untuk memberi salam pada Jeky. Namun, baru saja dua kulit itu saling menyapa, Lily kembali berteriak.
Kyaaa!!!
Gadis itu menarik tangannya sambil memelototkan mata. Menatap sang suami yang kembali terlihat frustasi. "Jangan nyuruh aku yang enggak-enggak!" Sentak Lily dengan nafas yang memburu. Bahkan sekujur tubuhnya berubah gemetar.
"Ya ampun, Li. Harus gimana sih ngenalin Jeky? Ini udah sopan banget lho," jawab Ghara dengan tampang memelas. Beruntung rasa sakit di inti tubuhnya mulai berangsur hilang.
"Ya gak gitu juga, Kak. Lagian emang boleh ya segede ini? Kayaknya punya Kakak gak wajar!" cerocos Lily entah mendapat pemikiran dari mana.
Sementara Ghara menganga, terperangah dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh istri kecilnya. Apa dia bilang, tidak wajar?
Astaga, bukankah biasanya wanita senang dengan ukuran senjata yang fantastis. Akan tetapi kenapa Lily menganggap semuanya tidak wajar, hah tidak bisa dibiarkan!
"Bohong, semua itu kelainan! Atau jangan-jangan Kakak konsumsi sesuatu biar ukurannya jadi lebih besar!"
Ghara langsung mendelik, semakin terperangah dengan pernyataan yang terlontar dari mulut istrinya. Dia benar-benar tak menyangka, kalau pikiran Lily sampai jauh ke sana.
"Astaga, lu kerasukan apa sih? Mana ada gue punya kelainan, ini aseli, Li. Gak gue apa-apain," ujar Ghara dengan menggebu-gebu. Ingin sang istri percaya, bahwa dia tidak melakukan apapun pada Jeky yang sedang dipojokkan, dengan tuduhan yang memalukan.
"Ya kita mana tahu," balas Lily dengan angkat bahu.
"Ya udah langsung ke inti aja. Jangan berbelit-belit!"
Membuat Lily langsung tersenyum sumringah. "Aku gak mau kenalan sama Jeky! Dia gak cocok sama punya aku yang imut dan menggemaskan."
__ADS_1
Hah?
"Terus? Maksud elu? Lu gak bakal pernah mau ngasih gue kue pukis?" sentak Ghara, tidak terima dengan keputusan Lily.
Sementara gadis itu melipat kedua tangan di depan dada, dengan ide yang tiba-tiba muncul di kepala. "Mau, asal ukurannya berubah!"
Dan ia yakin itu mustahil!
Namun, sepertinya Lily salah menantang keturunan si buaya rawa-rawa. Karena detik selanjutnya, Ghara berdiri dan menghadap ke arah Lily. "Segini?" Tanya Ghara sambil menunjuk Jeky yang sudah lemas dan tidak bertenaga.
Lily mendelik, tak menyangka jika Jeky akan berubah secepat itu. Tanpa menjawab pertanyaan pria itu, Lily langsung mengambil langkah seribu. Dia keluar dari kamarnya sambil berteriak. "Mommy, Daddy, Kak Gharanyaaaa!"
"Lily!" panggil Ghara panik, dia ingin mengejar Lily tapi dia tidak memakai apa-apa. "Astaga tuh bocah, kenapa malah kabur-kaburan kayak gini!?"
Ghara merasa kesal, karena di saat-saat seperti ini dia malah tidak menemukan sesuatu yang dapat membungkus tubuhnya.
Sementara itu Lily sudah naik ke lantai dua. Karena saking paniknya dia asal masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya.
Brak!
Pintu terbuka, membuat Alessandro yang sedang bergerak di tubuh Arabella berhenti seketika. Mereka saling pandang dalam beberapa detik, dan detik berikutnya, terdengar suara teriakan saling bersahut-sahutan.
"Arghh!"
"Arghh!"
"Arghh!"
***
__ADS_1
Buaya senior dan buaya junior mau adu skill🤣🤣🤣