
"Singkirin tangan lu!" teriak Ghara penuh amarah ketika melihat istrinya disentuh oleh pria lain. Di mata Ghara, mau muda ataupun tua sama saja. Selagi mereka laki-laki, maka dia termasuk seseorang yang harus Lily hindari.
Andreas yang mendengar itu pun langsung menarik tangannya, dia sangat terkejut, tak berbeda jauh dengan Lily. Apalagi saat mereka melihat Ghara yang melangkah ke arahnya.
Pria itu langsung menarik lengan Lily, agar gadis itu bersembunyi di belakang tubuhnya. Dan mulai menunjukkan tatapan penuh permusuhan.
"Ngapain lu pegang-pegang istri gue?" tanya Ghara tanpa basa-basi, apalagi embel-embel sopan santun. Karena dia merasa bahwa Andreas memiliki tujuan, entah jahat atau apa. Yang jelas dia tidak akan mengijinkan pria paruh baya itu menyentuh istrinya.
Sedari tadi dia sudah menunggu kepulangan Lily, karena batinnya terus merasa tak tenang. Dia benar saja, Andreas kembali menemui gadis itu.
"Gue tanya, elu mau ngapain?!" sentak Ghara dengan suara yang lebih keras. Karena Andreas tetap bungkam dengan tangan yang terus mengepal.
Andreas menarik nafas, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Dia sedikit mengangkat kepala untuk melihat Ghara, sumpah demi apapun, pria muda yang ada di hadapannya terlihat sangat seram, hingga dia reflek meneguk ludah.
"Saya tidak memiliki maksud jahat, Ghara. Saya hanya bicara sedikit dengan Lily, itu saja," jawab Andreas dengan sedikit tergagap.
"Ngomongin apa lu? Hah, perasaan Lily gak punya hubungan apapun sama elu!" Ghara semakin menunjukkan taringnya, membuat kedua gadis yang ada di sana jadi ketar-ketir.
"Kak, udah jangan diperbesar, dia gak apa-apain aku kok," ujar Lily, tak ingin sang suami ribut di tempat umum, apalagi Andreas adalah mantan calon mertuanya.
__ADS_1
"Diem dulu, Li. Ini gak bisa dibiarin, dia udah diperingatin sama Daddy, tapi kayaknya dia gak punya kuping!" jawab Ghara sambil menunjuk Andreas dengan dagunya.
"Tapi saya benar-benar tidak memiliki maksud jahat, Ghara."
"Kalo gitu jawab yang bener! Elu tadi abis apa, hah? Jangan tunggu gue marah, meskipun elu orang tua, kalo lu bersikap gak sopan, gue gak bakal liat umur elu!"
Andres sudah tidak tahu harus menjawab apa, karena dia benar-benar bingung. Hingga akhirnya dia pun memilih untuk pamit dari hadapan pria itu. "Saya sudah mengatakannya dengan jujur, jadi, kalau begitu saya pamit."
Dengan gerakan cepat, Andreas memutar badannya. Dia melangkah dengan tergesa, sementara Ghara yang ingin mengejar pria itu segera ditahan oleh Lily.
"Kak, cukup! Udah jangan diterusin lagi, dia beneran gak apa-apa!" ucap Lily sambil memeluk lengan Ghara dengan sangat erat.
"Terus tadi dia ngapain, Yang?" tanya Ghara dengan mata yang menyalak tajam, dia pun turut menuding Andreas yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Dia cuma bilang kalo ada seseorang yang kirim salam buat aku, Kak. Abis itu udah, gak ada apa-apa lagi."
"Terus kamu percaya?"
"Ya percaya gak percaya."
__ADS_1
Ghara langsung menangkup kedua sisi wajah Lily, kemudian menatap dalam mata istrinya itu. "Please, jangan mudah percaya sama orang, sekalipun dia orang yang kamu kenal. Selagi gak ada aku, kamu boleh abaiin mereka!" Ucap Ghara dengan mimik wajah yang sangat serius.
Dia melakukan itu, karena dia tidak mau terjadi sesuatu pada Lily, apalagi kemarin gadis itu hampir diperbudak oleh ibu kandungnya sendiri.
Lily mengangguk patuh dengan bola matanya yang berbinar lucu. "Iya, Kak. Aku bakal nurut apa kata Kakak."
Mendengar itu Ghara langsung tersenyum lebar. Tanpa melihat sekitar dia memeluk tubuh Lily dengan erat. "Pinter banget istrinya Ghara."
Dila langsung mendelik. Dia menutup mulutnya dengan satu tangan, karena reflek menganga.
Istri?
***
Sementara di dalam mobil, Andreas segera memasukkan rambut yang berhasil dia ambil dari kepala Lily.
Entahlah dia harus merasa senang atau sedih. Hingga dia hanya menunjukkan wajah datar saat menyerahkan rambut itu pada supir sekaligus asistennya. "Lakukan test DNA!"
"Baik, Tuan."
__ADS_1
***
Jangan lupa ritualnya Oey🤸🤸🤸