Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 69. Suatu Tempat


__ADS_3

Carissa benar-benar tidak menyangka jika yang membawa dia pergi adalah kedua sahabat Alessandro. Dia sangat yakin kalau mereka semua memiliki rencana untuk membalasnya. Namun, dia bisa apa?


Sedangkan Lily sudah tidak bisa dia andalkan. Bahkan bergerak pun dia susah.


Jerry dan Boby sengaja memakai seragam polisi untuk mengelabuhi Carissa. Dan ini semua atas perintah Alessandro. Mereka akan membawa Carissa ke tempat yang tidak akan ditemui oleh banyak orang.


Karena Alessandro tidak ingin Lily kembali berhubungan dengan wanita itu. Akan tetapi yang Lily tahu, ibunya benar-benar masuk penjara.


"Lu udah capek kerja 'kan? Tenang aja, di sana lu bakal bebas ngelakuin apa yang elu mau. Masalah makan nanti Ale yang tanggung, elu tinggal beraak, tidur, maen sepuasnya," ujar Jerry, yang membaca tatapan mata Carissa dari balik kaca spion. Dia tahu wanita itu bertanya-tanya.


"Udah jangan ngajak demit ngomong, ntar elu ikut kesurupan lagi!" timpal Boby, menghentikan ocehan sahabatnya.


"Oh iya ya, bisa bahaya kalo gue kena virus demit, yang ada auranya gelap mulu."


"Ya, demit mana ada yang cerah. Liat matanya aja udah suram."


Mendengar itu, Carissa mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat. Dia benci dengan situasi ini, kenapa Tuhan tidak pernah berpihak padanya? Kenapa dia tidak diizinkan untuk bahagia, walaupun sekali saja.


Padahal dari dulu dia hanya mencintai Alessandro, tetapi pria itu tidak pernah menganggapnya ada.


Carissa pun menangis, tetapi bukan untuk menyesali perbuatannya. Dia malah terus merutuk dan menyalahkan Alessandro atas nasib buruk yang menimpa dirinya.


Kamu adalah pria paling jahat yang pernah aku kenal!


Di belakang sana, Alessandro terus mengikuti mobil yang dikendarai oleh Boby. Tatapan pria itu senantiasa terlihat datar, hingga membuat wajah slengeannya hilang.


Dia berharap setelah ini tidak ada lagi masalah besar yang menimpa keluarganya. Sudah cukup, dari awal pertunangan Ghara dan Keysha, dia terus-menerus dilimpahi masalah. Dia sudah kenyang dengan itu semua.


"Gue bisa gila kalo gak ada elu di samping gue, Ra," gumam Alessandro sambil menyugar rambutnya ke belakang.

__ADS_1


Hingga tak berapa lama kemudian, kedua mobil itu mulai memasuki wilayah yang tak banyak dihuni oleh warga. Carissa semakin merasa cemas, sebenarnya apa yang akan dilakukan oleh Alessandro kepadanya?


Apakah pria itu akan tega membunuhnya dan tak menyisakan jejak?


Boby membelokan mobilnya ke arah kiri untuk masuk ke dalam gedung tua yang tak berpenghuni. Baru melewati gerbangnya saja, Carissa sudah merasa merinding. Dia memerhatikan alam sekitar, dan di sana benar-benar tidak ada warga.


Dan ketika kendaraan roda empat itu berhenti, jantung Carissa seperti ingin terlepas.


"Wuih villa barunya si demit keren juga yah," celetuk Jerry sambil membuka pintu, dia sekilas melihat ke arah Carissa yang mulai menunjukkan tampang ketar-ketir.


Dan ketika pintu dibukakan untuknya. Carissa justru bergeming, dia tidak ingin keluar, sebab dia tahu ketiga pria itu akan menyiksanya.


"Jangan ngeyel! Kita udah capek buang-buang tenaga buat elu!" ujar Jerry sambil memegangi tangan Carissa. Namun, wanita itu tetap pada pendiriannya. Dia tidak ingin keluar, atau dia akan mati mengenaskan.


Sampai beberapa saat, Carissa benar-benar tak mau bergerak. Dan berakhir Alessandro yang mengambil tindakan, dia segera meraih tangan Carissa, dan sekali seret wanita itu langsung keluar dari mobil.


"Jangan buat gue berlaku lebih dari pada ini!" cetus Alessandro, sementara Carissa hanya bisa meringis, karena tarikan Alessandro benar-benar kuat.


Dia tidak menyangka bahwa Alessandro telah menyiapkan semuanya. Dan ketika mereka sudah berhenti di depan pintu sel, Alessandro melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Carissa.


Wanita itu mendelik, dan berakhir Alessandro yang menarik lakban dari mulutnya.


Srettt!


Carissa merasakan bibirnya yang seperti ingin terbawa. Dia sedikit berteriak, karena merasakan sakit dan juga kebas. Dengan tatapan penuh kebencian, dia menatap Alessandro. "Kamu mau membunuhku di sini?" Tanyanya seolah menantang.


Namun, Alessandro hanya menarik sudut bibirnya ke atas. "Gak, itu hukuman yang terlalu gampang buat elu. Dari dulu, elu udah usik hidup gue. Bahkan sampe sekarang, lu gak pernah berhenti buat lakuin itu. Jadi, gue pengen elu dapetin sesuatu yang setimpal."


Plak!

__ADS_1


Alessandro melayangkan tangannya untuk menampar mulut Carissa yang sudah berani menghina istrinya, dan mengatakan bahwa Arabella adalah wanita mandul. Dia tidak peduli jika Carissa mengatakan dia Badjingan atau apapun, tetapi dia tidak akan terima jika Arabella yang mendapatkan itu semua.


"Sebelumnya gue gak pernah kasar sama cewek. Karena nganggep mereka itu mahkluk yang lemah. Tapi setelah gue liat elu, heuh, ternyata gue salah, bentuk lu emang cewek pada umumnya, tapi hati elu tuh iblis. Iblis yang selalu menghalalkan segala cara, buat dapetin sesuatu, meski itu semua bukan haknya!" ujar Alessandro dengan penuh penekanan.


Sumpah demi apapun, jika dia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, mungkin sedari tadi dia sudah membabat habis tubuh Carissa. Namun, sayang akal sehatnya masih bisa digunakan, hingga hanya itu yang bisa dia lakukan.


Setitik darah keluar dari sudut bibir Carissa, karena tamparan Alessandro benar-benar terasa kuat. Akan tetapi dia tidak mau dianggap lemah, jadi dia hanya tersenyum smirk.


"Terserah kamu mau ngomong apa. Aku gak peduli, Al. Aku cuma mau bilang, kalo aku nyesel pernah suka sama kamu, orang yang bahkan gak punya hati. Padahal apa hebatnya Arabella? Hah, dia adik kamu, tapi kamu suka sama dia? Gak etis, Al!" jawab Carissa dengan senyum mengejek, membuat emosi Alessandro semakin memuncak.


"Hebatnya Arabella itu gak kayak elu. Dia gak bisa dibandingin sama siapapun, apalagi sama cewek rendahan dan sampah kayak elu, Bangsaat! Jadi, jaga congor lu, supaya bisa ngomong yang lebih baik. Atau tangan gue yang bakal bertindak!" jawab Alessandro sambil menuding wajah Carissa.


"Tapi sayangnya cewek yang kamu anggep rendahan ini, adalah ibu dari anak angkat kamu. Dan aku gak nyangka juga sih, selera anak kamu itu sama kayak ayahnya, dia suka sama Adek dia sendiri, dan otomatis, kita ini besan, Al. Aku ini mertua anak kamu! Dan gak menutup kemungkinan, Lily bakal punya sifat kayak aku, siapa tahu dia juga menjual dirinya di luar sana."


Mendengar itu, Alessandro sudah tidak bisa menahan dirinya, dia segera meraih baju Carissa dan mencengkramnya dengan kuat.


"Bacot lu dijaga, Anjingg!" sentak pria itu dengan mata yang menyalak tajam.


"Al!" panggil Boby dan Jerry berbarengan. Tidak ingin sang sahabat berlaku lebih, apalagi sampai mengotori tangannya untuk membereskan Carissa.


"Jangan kepancing, biar dia nikmatin aja villa barunya ini. Mending sekarang elu pulang, Lily pasti butuh elu," ucap Jerry menenangkan Alessandro. Dia pun segera melepaskan cengkraman tangan sang sahabat dari baju Carissa, meskipun cukup susah.


"Iya, Al, biar nih demit urusan kita," timpal Boby, membuat Alessandro akhirnya berangsur tenang.


Alessandro menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Dia membenahi jasnya, kemudian pamit untuk pergi. Sebab apa yang dikatakan kedua sahabatnya itu benar, pasti Lily dan keluarganya sedang membutuhkan dia.


"Kalo ada apa-apa telepon aja," ucap Alessandro.


Jerry dan Boby langsung menganggukkan kepala, sementara Carissa sudah dimasukan ke dalam sel. Tempat yang terasa sangat kotor dan menjijikkan. Bahkan tercium aroma bau bangkai.

__ADS_1


"Huwek!"


__ADS_2