
Alessandro segera kembali ke rumah. Dia mengemudikan kendaraan roda empatnya dengan sangat cepat berharap segera tiba. Namun, di tengah perjalanan dia mendapat telepon dari Aston. Dia yakin pasti sang ayah tengah khawatir dengan keluarga kecilnya.
"Halo, Dad," sapa Alessandro setelah memasang earphone di telinganya. Sementara di seberang sana, Aston meloud speaker ponselnya, sebab dia sedang bersama Ellea. Sedari tadi wanita paruh baya itu merengek pada suaminya, agar menelpon Alessandro.
"Bagaimana? Apa masalahnya sudah beres?" tanya Aston to the point.
Alessandro mendesaahkan nafas, lalu menganggukkan kepala, seolah sang ayah tahu dengan gerakannya. "Udah, Dad. Sekarang aku lagi perjalanan ke rumah."
"Oh syukurlah. Sedari tadi Mommy-mu khawatir, dia terus merengek dan meminta Daddy untuk menelpon. Kalau begitu hati-hati, kalau sudah sampai hubungi Daddy lagi yah," ujar Aston seraya menghela nafas lega. Tadinya dia ingin menawarkan bantuan, tetapi sang anak ternyata sudah dapat mengatasi masalah itu sendiri.
"Iya, Dad. Salam untuk Mommy yah."
Setelah itu panggilan terputus. Dan Ellea kembali merengek pada suaminya. "As, ayo kita ke sana saja. Aku ingin bertemu Ara dan Lily. Kasihan kan pasti mereka tertekan."
"Baby, tenanglah. Ale sudah membereskan semuanya. Bukankah tadi kamu bilang hanya ingin menelpon, lagi pula kamu ini masih flu, nanti saja ke sananya."
"Tapi, Sayang, aku benar-benar merindukan anak dan cucuku," rengek Ellea, ingin meluluhkan hati Aston. Namun, pria paruh baya itu tidak akan membiarkan sang istri yang sedang kurang sehat itu berpergian jauh.
"Nanti kita ke sana kalau sudah sembuh, okey?" ujar Aston, kini dia berbalik membujuk Ellea, agar wanita yang sangat dicintainya itu mau mengerti. Mau tidak mau, Ellea pun mengalah, dia tahu Aston tidak akan pernah bisa dia bantah.
"Sekarang kita istirahat, nanti biar aku minta pembantu untuk mengupas buah untukmu."
"Aku mau disuapi."
"Wah, wah, kamu sepertinya kembali seperti ABG, Baby," ledek Aston sambil mengusap pipi Ellea. Membuat wanita paruh baya itu tersipu.
"Bukankah di matamu aku selalu terlihat muda?" tanya Ellea dengan penuh percaya diri, dia bangkit dari sofa untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Dan Aston segera menyusulnya, dia mensejajarkan langkah, kemudian meraih tangan Ellea, hingga mereka melangkah bersama.
__ADS_1
"Tidak hanya muda, kamu adalah wanita tercantikku untuk selamanya."
Jiah, buaya tua sedang melancarkan aksinya.
***
Setibanya di rumah, Alessandro segera keluar dari mobil. Dia melangkah lebar ke arah kamar, tetapi belum sampai di sana dia sudah disambut oleh wajah Arabella.
"Sayang," panggil Alessandro sambil mempercepat gerakannya. Tanpa ba bi bu dia segera memeluk tubuh istri kecilnya. Dia menciumi puncak kepala Arabella berusaha untuk mencari ketenangan.
"Kamu tidak melakukan sesuatu padanya 'kan, Kak?" tanya Arabella, dia takut jika suaminya sampai berbuat kasar pada Carissa. Walau bagaimanapun Carissa adalah seorang wanita, terlebih dia ibu kandung putri angkatnya.
"Gak sampe mati, Ra," jawab Alessandro dengan asal. Karena baginya, Carissa pantas mendapatkan itu semua. Namun, Arabella justru mendelik, dia menangkup kedua sisi wajah Alessandro, hingga mereka saling tatap.
"Apa maksud kamu, Kak?"
"Gak ada maksud apa-apa, Sayang. Dia baik-baik aja."
"Ya emang dia gak mati. Dan sekarang aku pengen ketemu Lily, aku pengen peluk dia, dan yakinin putri kita."
"Tapi—"
"Ra … sumpah, aku gak ngapa-ngapain. Percaya sama aku."
Arabella menghela nafas panjang, dan akhirnya mencoba percaya pada ucapan suaminya. Alessandro menggenggam tangan Arabella, dan mereka melangkah masuk ke kamar Lily.
Di atas ranjang, Ghara masih menenangkan Lily yang terus menangis. Gadis itu masih tidak menyangka, sudah terlahir dari ibu seorang penjahat.
__ADS_1
"Udah dong, Yang. Yang penting kan elu gak ikut-ikutan jahat. Kalo dia gak naro elu di depan rumah Daddy, kita gak mungkin bisa kenal. Jadi, ya ambil hikmahnya aja," ujar Ghara sambil mengusap-usap punggung ringkih istrinya.
"Tapi kasihan Daddy sama Mommy 'kan, Kak. Mereka terus dijahatin sama ibu aku," balas Lily dengan sesenggukan. Seolah air matanya tidak akan pernah habis.
Ghara mengeratkan pelukannya. Meyakinkan Lily bahwa semua tidak masalah, ini hanya bagian dari masa lalu, dan sesuatu yang bisa mereka jadikan pelajaran.
"Mommy dan Daddy pasti bisa ngerti. Lagian elu liat kan gimana sayangnya mereka sama elu? Bahkan gue ngerasa, di sini gue yang anak angkat, Li. Karena Daddy sama Mommy lebih manjain elu, dan gak akan pernah rela kalo lu disakitin, sekalipun sama gue," ujar Ghara, sementara di belakang sana Alessandro dan Arabella mendengar semuanya.
Mereka saling pandang, kemudian memutuskan untuk masuk. Karena Alessandro tidak ingin membuat Lily menyalahkan dirinya sendiri.
"Lily, anak kesayangan Daddy," ucap Alessandro, membuat Lily langsung menghentikan tangisnya saat itu juga. Dia terkejut, sebab tiba-tiba mendengar suara sang ayah.
"Kamu gak perlu merasa bersalah kayak gitu, Sayang. Mommy sama Daddy, justru bersyukur, kamu bisa hadir di tengah-tengah kita. Meskipun yah, kamu terlahir dari seseorang yang pernah ada di masa lalu kami berdua. Tapi Lily inget, baik Mommy maupun Daddy, udah anggep Lily bagian dari keluarga kita. Lily anak yang hebat, dan Daddy percaya, kalo Lily gak sama sama ibu Lily," sambung Alessandro sambil mengusap puncak kepala putrinya, sementara Lily terdiam dan terus mendengarkan.
Dia belum berani memperlihatkan wajahnya.
"Iya, Sayang. Kami gak menyesal kok, toh apa yang udah terjadi, itu semua kehendak Tuhan. Kita hanya perlu menjalankan," timpal Arabella sambil terus memperlihatkan senyumnya.
"Maafin ibu Lily, Mom, Dad. Maafin dia udah jahat sama kalian, padahal kalian baik banget sama Lily," balas gadis itu dengan suara yang sudah sumbang.
Alessandro mengulum senyum, jujur saja kalau untuk memaafkan sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa. Namun, demi Lily dia akan menutupi kebenciannya terhadap Carissa. "Kalau begitu sini peluk Daddy."
"Noh, lihatkan, itu bukti kalo elu anak kesayangan," timpal Ghara, supaya Lily lekas kembali ceria.
Mendengar itu, Lily mengangkat wajahnya pelan-pelan, dia memukul dada Ghara, kemudian beralih memeluk Alessandro. Hingga mereka benar-benar persis seperti ayah dan anak. "Anak Daddy jangan nangis lagi yah, nanti cantiknya ilang."
Lily pun menganggukkan kepala, dan merentangkan tangan agar Arabella pun ikut memeluk tubuhnya. "Lily sayang sama Mommy dan Daddy." Ungkap gadis itu dengan tulus, tetapi hal tersebut justru membuat Ghara mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Sayang sama mereka doang nih? Gue enggak, ya elah, sia-sia gue bikin elu enak tiap malem," cerocosnya, membuat Arabella langsung memelototkan matanya.
"Gharaaaaaaaa …."