
Karena tak ingin pernikahan antara Lily dan Ghara bocor ke media. Arabella mendatangkan desainer langsung ke rumahnya, dengan beberapa gaun yang sekiranya cocok di tubuh mungil Lily.
Masih di tempat yang sama yaitu butik langganan sang ibu mertua—Eliana Boutique, yang kini sudah dikelola oleh putrinya, Yuza.
"Sayang, kamu mau pilih yang mana?" tanya Arabella pada Lily.
Gadis yang tengah menunduk itu langsung mengangkat kepala ketika mendengar sang ibu bertanya. "Mommy aja yang pilihin, Lily gak ngerti soalnya."
Melihat sang putri yang tak berantusias membuat Arabella menjadi serba salah. Sebenarnya dia juga ingin Lily dan Ghara menikah setelah gadis itu lulus kuliah, tetapi mengingat sifat putranya. Dia tidak begitu percaya, kalau mereka bisa menahan selama itu.
Akhirnya Arabella mengambil satu gaun pengantin dengan lengan yang tak begitu panjang. "Sepertinya ini cocok untukmu, Sayang. Ayo dicoba."
Lily terlihat ragu, tapi mau seperti apapun rasanya dia tidak akan pernah bisa menolak pernikahan ini. Dia meraih gaun dari tangan Arabella dan mencoba untuk tersenyum.
"Ya udah, aku coba dulu ya, Mom."
"Iya, Sayang."
Lily pun berjalan ke arah ruang ganti, tetapi belum ada beberapa langkah, tiba-tiba pintu terbuka, dan menampilkan wajah Ghara. Lily menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan langkah setelah tahu siapa yang datang.
Hih, tukang cari gara-gara!
"Mom, mana baju yang harus aku coba?" tanya Ghara, setelah memberikan kedipan nakal pada Lily.
"Oh ada sama Nona Yuz."
Mendengar namanya dipanggil Yuza tersenyum tipis, lalu mengambil tuksedo milik Ghara. "Ini Tuan, kalau sekiranya ada kekurangan, nanti bilang saja pada saya."
Ghara hanya mengangkat kedua alisnya lalu melangkah ke arah ruang ganti, di mana Lily berada. Melihat itu, Arabella pun langsung berteriak. "Hei, mau apa kamu?!"
Ghara menoleh ke belakang, tepat ke arah sang ibu. "Ya mau ganti bajulah, Mom. Masa iya mau ngelakuin yang aneh-aneh."
"Ya gantian Ghara! Di sana kan ada Lily."
__ADS_1
"Lily kan calon istri aku, Mom. Ya gak apa-apa lah, besok malem juga aku udah bisa liat semuanya."
"Ghara!"
Arabella langsung berubah gelagapan, sebab di sana tak hanya ada dirinya saja. Ya, ada Yuza yang mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Gak! Kamu ganti di kamar mandi aja, kalo kamu ikut masuk yang ada satu tahun baru keluar!" cetus Arabella sambil menggerutu. Tak ingin Ghara bertingkah.
"Haish, Mommy gak asyik! Padahal Ghara mau nyicil dari pegang yang kecil-kecil"
Arabella tidak peduli dengan ocehan Ghara. Yang penting mata dan telinganya tidak tercemar lagi akibat kelakuan mesyum putra-putrinya.
Di kamar mandi, ponsel Ghara tiba-tiba berdering, menampilkan nama asisten sekaligus sahabatnya, Edo.
Sambil memakai celana, Ghara menerima panggilan tersebut, sekalian dia ingin memberitahu pria itu, bahwa hari ini dia tidak bisa masuk kantor. Karena harus mempersiapkan pernikahannya dengan Lily.
"Napa, Do?" sapa Ghara.
"Ah masih sama Pak Boby, Do. Kemaren belum dibalikin gue rasa."
"Terus elu di mana sekarang? Bentar lagi meeting, Anyingg!"
"Gue lupa kasih tahu elu sama Gerry, hari ini gue gak boleh ke mana-mana, katanya pamali!"
Mendengar itu, Edo langsung mengernyitkan dahinya. Tak paham dengan maksud Ghara. "Pamali apaan sih, Anjirrr?"
Ghara tersenyum lebar, sudah membayangkan pernikahan antara ia dan Lily besok pagi. Ah, dia pastikan Lily tidak akan menyesal. Dia akan membuat Lily merasa menjadi wanita paling beruntung, karena berhasil memilikinya.
"Besok gue kawin!"
Edo langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Ghara. Karena tiba-tiba pria itu membawa kabar berita, bahwa dirinya akan segera menikah. "What? Kawin? Kawin sama sape? Sama kucing?!"
"Sembarangan! Ya sama si Bawang Putih lah," balas Ghara dengan sewot.
__ADS_1
"Kok bisa?!" sentak Edo dengan keras.
"Bacott lu biasa aja, Anjingg! Kek gak percayaan banget gue bisa nikah sama si Lily."
"Ya kagak, kok bisa ngedadak gini, Ghar? Besok lho, emangnya gak ada hari lain? Maksud gue ya sebulan lagi kek, atau minimal minggu depan. Ini besok lho, siapa yang percaya?!"
Ghara menghela nafas panjang, lalu menggerakkan lidahnya hingga menyentuh pipi bagian dalam.
"Nyokap sama bokap gue takut si Lily melendung duluan."
"Lah emangnya lu sama si Lily udah e'e e'e?"
"E'e e'e apaan sih, Anjingg!"
Edo mendengus kasar, karena Ghara pura-pura polos. "Ngesexs, Nyettt! Kayak bocah kemaren aja lu!"
"Ya mereka 'kan tahunya gue udah e'e e'e sama si Lily," jawab Ghara, jadi ikut-ikutan bahasa Edo, yang entah berasal dari mana.
Edo terdiam sejenak. Dengan pikiran yang mulai terhubung satu sama lain, bak sistem paralel. Hingga detik selanjutnya dia pun manggut-manggut, paham maksud orang tua Ghara menikahkan pria itu dengan segera.
"Ya udah berarti lu gak masuk kantor nih?"
"Ya kagaklah, gue kan harus meni pedi, Do. Biar besok aura mantennya keluar semua."
"Bukannya elu cuma punya satu aura yak?"
"Aura apaan?"
"AURA SETAN!"
***
Tul tuh, Do🤣🤣🤣
__ADS_1