
Di saat hati Lily hancur berkeping-keping. Maka hal itu pula yang dirasakan oleh Andreas. Dia benar-benar merasa bersalah, karena sudah menelantarkan putrinya. Meskipun pada kenyataannya, dia tidak tahu bahwa Lily ada di dunia, namun hati nuraninya tak bisa bohong, dia menyayangi darah dagingnya.
"Tuan Alessandro, saya mohon, saya mohon bujuk Ghara untuk membiarkan saya bertemu Lily. Saya tidak mau apa-apa, Tuan, saya hanya ingin memberikan apa yang menjadi hak Lily," ucap Andreas dengan tergugu.
Dia tahu Ghara adalah orang yang keras kepala. Dan pria itu akan menjaga betul apa yang telah menjadi miliknya. Seperti apa kata Keyhsa, kini dia benar-benar percaya bahwa Ghara memang pria yang berbeda.
Alessandro terdiam, karena sejujurnya dia juga tidak tahu harus merespon seperti apa. Terlebih dia begitu hafal dengan sifat putranya.
"Saya ingin tahu, apa yang menyebabkan anda menelantarkan Lily?" tanya Alessandro, karena sedari tadi hanya ada perdebatan antara Ghara dan Andreas, tanpa tahu duduk permasalahannya.
Andreas memejamkan matanya erat, sementara cairan bening itu terus bercucuran, dia teringat dosa-dosa yang telah dia perbuat di belakang istrinya. "Sebenarnya saya tidak tahu kalau saya punya anak dengan wanita itu, Tuan. Saya baru tahu beberapa hari yang lalu, karena tiba-tiba dia mengirimi saya pesan misterius. Saya penasaran, dan akhirnya saya mencoba membuktikannya sendiri."
"Jadi, anda benar-benar bermain api dengan wanita itu?"
Mendengar pertanyaan itu, Sonia langsung memalingkan wajah. Meskipun otaknya terus berteriak ikhlas, tetapi hatinya benar-benar sakit, jika teringat pengkhianatan yang dilakukan oleh Andreas.
Andreas menganggukkan kepala, mengakui segala kesalahannya di masa lampau. "Saya benar-benar bodoh saat itu. Bahkan saya sampai tidak tahu, kalau apa yang saya perbuat, menghasilkan seorang anak."
"Daddy," panggil Arabella, semakin tergugu. Dia merasa miris dengan nasib Lily, putrinya pasti sangat terluka, karena mengetahui fakta yang sangat mengejutkan ini.
__ADS_1
Alessandro langsung memeluk istrinya erat. Dia tahu semua orang merasakan apa yang Lily rasakan. "Sabar, Sayang. Putri kita pasti kuat, terlebih ada Ghara di sampingnya."
"Kasihan Lily, Dad. Aku pengen peluk dia," ujar Arabella dengan terisak-isak.
"Iya, Sayang. Nanti kalau dia pulang, peluk dia sepuasnya, Lily pasti akan tenang sama kamu."
"Tuan Alessandro, kami mohon bantuan anda. Karena walau bagaimanapun, suami saya tetap ayah kandungnya. Bilang padanya, bahwa saya pun siap menerima dia. Jangan khawatir tentang Keysha, jika dia berbuat jahat, saya tidak akan membelanya, karena posisi Lily dan Keysha sama. Mereka sama-sama anak saya," sela Sonia, menyatakan ketersediaannya menjadi ibu tiri Lily. Agar Alessandro percaya, bahwa maksud mereka baik.
"Kalau begitu, beri kami waktu untuk kembali berbicara ini semua pada anak-anak kami. Karena Lily tidak akan mungkin menerimanya secepat itu. Terlebih Ghara—dia adalah sosok suami yang paling mengerti bagaimana perasaan istrinya. Jadi, saya tidak bisa menjanjikan apapun," balas Alessandro, dari apa yang dia lihat, sepertinya Andreas dan Sonia memang sungguh-sungguh ingin menebus semua kesalahan itu.
"Terima kasih, Tuan. Itu sudah cukup bagi saya. Karena niat saya datang bukan untuk merebut Lily, melainkan memberitahu, bahwa saya pun orang tuanya, jika ada apa-apa saya siap membantunya," balas Andreas, dan Alessandro segera menganggukkan kepala.
***
Tiba di salah satu penginapan, Ghara langsung keluar, lalu membukakan pintu untuk istrinya. "Pegang tangan aku dan percaya semua bakal baik-baik aja." Ucapnya, lalu Lily pun menurut, dia mengekor pada Ghara, hingga mereka memesan satu kamar untuk satu malam.
"Nanti Daddy sama Mommy nanyain gimana?" tanya Lily dengan suara sumbang, karena dia sudah terlalu lama menangis.
"Kamu tenang aja, itu urusan aku. Nanti biar aku yang ngomong sama mereka," balas Ghara sambil merangkul bahu Lily. Kini mereka sedang berada di lift, menuju kamar yang sudah mereka pesan.
__ADS_1
Cup!
Ghara meninggalkan kecupan singkat di kepala istrinya. Menunjukkan kesungguhan bahwa dia akan selalu melindungi Lily, sampai kapanpun. "Gak mau tahu, malem ini kamu harus istirahat."
Lily hanya membalasnya dengan menggerakkan bibir, membentuk sebuah lengkungan kecil.
Setelah mereka tiba di sebuah kamar. Tanpa aba-aba Ghara langsung mengangkat tubuh Lily. Hingga membuat gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher Ghara.
"Kak!" panggil Lily karena terkejut.
"Aku pengen buat kamu lupa, kalo kamu baru aja dapet masalah," ujar Ghara seraya melangkahkan kakinya.
Dia merebahkan tubuh Lily di atas ranjang dengan penuh kehati-hatian, lalu dia pun ikut berbaring. Dia membenahi rambut Lily ke belakang telinga, lalu mengusap-usap pipi dengan pelan. "Kamu tahu gak, kalo senyum itu kita gak bisa nelen ludah."
Kening Lily mengeryit. "Masa?"
"Coba aja."
Patuh, Lily pun melakukan apa yang diminta oleh Ghara, dia tersenyum sambil menelan ludah, dan hal tersebut membuat Ghara ikut tersenyum pula.
__ADS_1
"Nah, kalo gitu kan cantik. I love you, Lily-nya Ghara."
Mendengar itu, wajah Lily langsung bersemu merah. Ternyata itu semua hanya trik Ghara untuk menyenangkannya.