Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 95. Lato-lato Ghara


__ADS_3

Sore harinya, sepulang bekerja Ghara benar-benar membawakan apa saja yang diminta oleh Amora. Dia menjinjing kantong plastik, paper bag dan beberapa loyang pizza.


Ketika dia baru saja sampai di depan pintu, putrinya sudah berlari menghampiri dengan senyum cerah.


"Daddy, puyang!" seru Amora, membuat Ghara ikut tersenyum juga. Lelah di tubuhnya langsung hilang begitu saja ketika melihat wajah Amora.


"Give me a kiss," kata Ghara seraya menundukkan badan. Dia menyodorkan pipi agar Lily kecilnya lekas mencium.


Tanpa banyak kata, Amora langsung melakukan apa yang ayahnya inginkan. Tak hanya satu, bahkan Amora menciumi seluruh wajah Ghara, nyaris tanpa celah.


"Anah ais kim Moya?" tanya bocah cantik itu setelah selesai melakukan tugasnya.


"Ada. Tapi tunggu dulu!" Ghara memperhatikan memar di kening Amora. Dia menghela nafas karena ia tahu pasti sang anak tengah menahan sakit. "Jangan main lato-lato lagi ya. Jidat Moya jadi benjol tuh."


"Cio nang acak, Daddy," jawab Amora, dia meraih tangan Ghara saat pria itu mengajaknya untuk melangkah bersama.


"Iya makanya Moya gak perlu ikut-ikutan, Uncle Kecil kan resek!"


Baru juga berkata seperti itu, sang empunya nama tiba-tiba keluar dari kamar dengan bau wangi khas bocah balita. "Kak Gala!" seru Cio dengan berteriak, dia berlari menghampiri kakak dan keponakannya. Setelah tidur siang, baterainya kembali full power.


"Kak Gala bawa apa?" tanya Cio saat sudah di hadapan Ghara dan Amora.


"Kakak bawa pizza. Ayo kita makan sama-sama."


"Yeay, Cio mau picca!"


Mereka pun pergi ke dapur, ketika Ghara membuka satu bungkus pizza, Arabella dan Lily pun ikut bergabung.


"Sayang, aku beli sesuatu juga buat kamu," ucap Ghara seraya menyerahkan satu paper bag pada istrinya.


Dan hal tersebut tentu membuat Lily mengernyitkan dahi. Merasa penasaran apa yang sekarang Ghara bawa. "Apa ini, Dad?"

__ADS_1


"Rahasia, bukanya nanti aja di kamar," kekeh Ghara sambil memberikan tatapan menggoda. Membuat Arabella menyipitkan sebelah matanya. Seperti paham dengan apa yang ada di otak putranya.


"Cio juga mau es klim," kata Cio saat melihat Amora memakan es krim. Dia segera merebut apa yang ada di tangan Amora, membuat gadis kecil itu menjerit.


"Arghh, puna Moya!"


"Sayang, Cio, jangan yang itu, ini ada lagi, Kak Ghara beli banyak," sergah Arabella. Namun, Cio tak mengindahkan sang ibu, dia kembali mendekati Amora, karena perasaannya selalu bahagia ketika bisa mendapatkan apa yang ada di tangan Amora.


"Aku mau es klim kayak Moya."


"Ndak, inyi puna Moya."


Amora sedikit mendorong tubuh Cio, karena bocah tampan itu terus menyerang. Sementara Ghara tidak akan mungkin diam saja, dia segera memisahkan antara anak dan adiknya. "No, ini juga ada yang kayak Moya, rasanya sama."


"Argh! Cio mau yang itu!" tolak Cio, tubuhnya hendak diangkat oleh Ghara, tetapi tangan Cio langsung merauk es krim yang hendak masuk ke mulut Amora, hingga akhirnya es krim itu jatuh berantakan.


Melihat itu, bibir Amora langsung mencebik dengan mata yang berkaca-kaca. "Ais kim Moya, huaaaa ... Cio nakal, puna Moya ditatohin. Ndak awu nyenenan cama Cio."


"Astagaaa!" geram Ghara, dia segera meraih tubuh sang anak. Dan tepat pada saat itu juga, Amora langsung menangis. Dia memang terkenal cengeng, sementara sang paman kecil kerap mengganggunya. Jadi, mereka berdua benar-benar klop.


"Kan, Moya-nya nangis lagi," keluh Lily.


***


Malam harinya, setelah menidurkan Amora. Ghara kembali ke kamarnya. Dia melihat Lily yang sedang membaca buku, lalu menghampirinya.


"Udah dibuka belom, Yang?" tanya Ghara.


"Apanya?"


"Hadiah dari aku."

__ADS_1


"Oh belom."


"Buka dong, aku pengen kamu pake itu malem ini," bujuk Ghara sambil menciumi leher istrinya.


"Emang isinya apa?" tanya Lily sambil menaruh buku.


"Liat aja, nanti juga tahu."


Tanpa menimpali ucapan suaminya, Lily pun segera bangkit dari ranjang. Dia mengambil paper bag yang sempat dia telantarkan, lalu membukanya. Tiba-tiba alis Lily mengerut. "Lingerie baru? Buat apa sih, Kak?"


"Buat dipake lah, Yang. Kayaknya kamu bakal makin gemoy kalo pake itu."


"Malem ini juga?"


Ghara mengangguk.


"Ish, tapi gak ada aneh-aneh 'kan?"


Ghara bangkit dan menghampiri Lily. "Ada dong, Sayang. Buat jalan lahir yuk sekalian main lato-lato punya aku."


"Astaga, masih lama. 3 bulan lagi."


"Ya gak apa-apa, dimulai dari sekarang, biar tuh jalan baby makin lancar. Lagian juga bentar lagi Edo cuti nikah, aku pasti sibuk, Yang."


"Ngaco deh."


"Gak apa-apa kamu bilang aku ngaco, yang penting dapet malem ini."


Lily tak sanggup berkata-kata, apalagi Ghara terus-menerus menggodanya. Mau tidak mau, dia pun akhirnya mengalah, dia segera mengganti pakaian, lalu melakukan apa yang menjadi tugasnya.


Yaitu melayani sang suami di atas ranjang.

__ADS_1


***


__ADS_2