
Tidak ada kata lelah untuk bercinta. Hingga mereka menghabiskan malam itu untuk menuju puncak nirwana, sepuasnya. Mereka sudah tidak memedulikan larangan Alessandro, sebab pernikahan itu sudah diketahui oleh media.
Sekarang target mereka justru membuat keturunan El Barrack semakin banyak. Sebab Ghara tidak terima jika harus kedahuluan sang ayah.
Pukul satu dini hari, erangan terakhir mengudara di kamar pengantin baru. Ghara ambruk di atas tubuh Lily dengan tubuh yang basah. Karena keringat mengucur deras, dengan dada yang naik turun.
"I love you, My Lily," bisik pria itu, menjadikan kalimat itu sebuah kebiasaan setelah mereka bercinta.
Gadis yang dipanggil namanya pun mengulum senyum malu-malu, dengan semburat merah yang begitu kentara. "I love you too, Gharaku."
Mendengar itu, Ghara langsung membulatkan kelopak matanya dengan sempurna. Karena dia baru pernah mendengar kalimat itu keluar dari mulut istrinya. "Apa, Yang? Kok aku kurang denger yah?" goda pria itu, ingin mendengar lebih banyak.
"I love you, Gharaku," kata Lily, lalu menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Dia terlalu malu, apalagi mereka sedang telanjang bulat.
Kali ini Ghara terkekeh kecil, dia berguling ke samping dan langsung menarik tubuh Lily untuk didekapnya. "Romantis banget sih istrinya Ghara sekarang. Belajar dari mana?" tanya pria itu seraya membenahi rambut Lily yang berantakan ke belakang telinga.
__ADS_1
Lily mencubit lengan kekar Ghara. "Dari siapa lagi kalo bukan kamu yang ngajarin!" ketusnya dengan bibir yang mencebik, pura-pura marah.
Membuat Ghara semakin gemas, dia memajukan wajah, lalu mengecupi wajah Lily tanpa celah.
"So, nyesel gak nikah sama aku?" tanya pria itu sambil menatap dalam dua bola mata Lily. Dia ingin mendengar kata cinta itu langsung, karena selama ini hanya dia yang terus mengejar Lily.
Gadis cantik itu mengulum senyum, jujur saja awalnya mungkin terasa sangat aneh menikah dengan orang yang sudah dia anggap sebagai kakak. Namun, lama kelamaan dia pun terlena akan semua perhatian dan kasih sayang yang Ghara berikan.
Apalagi pria itu sangat melindunginya, dari siapapun. Termasuk kejahatan ibu kandungnya sendiri. Dan dia tidak memiliki alasan untuk tidak berkata tidak.
"Kalau ada waktu seribu tahun lagi, aku pengen banget hidup selama itu. Dan kamu tahu dengan siapa aku pengen hidup?" Lily mulai bicara seraya mengusap pipi Ghara dengan sayang, mencurahkan perasaannya untuk sang pria. "Aku pengen hidup sama Kakak, selamanya." sambung gadis itu, yang membuat jantung Ghara berdebar sangat kencang.
"Hah, gila, bisa-bisanya aku blushing cuma gara-gara gombalan kamu, Li," kata Ghara sambil mengusap tengkuknya.
"Aku cinta sama kamu, Kak. Aku suka Kakak salah tingkah gara-gara aku," balas Lily yang membuat Ghara semakin terperangah. Ternyata gadis kecil ini tidak bisa diremehkan, yah, Lily sudah mulai pintar.
__ADS_1
"Kamu ngomong gini karena mau lagi?" ledek Ghara, tetapi bukannya risih dengan ucapan pria itu. Kini Lily yang sudah ketularan mesyum, justru menggerakan tangannya ke bawah sana.
"Kalo iya kenapa? Kan gak masalah, kita udah nikah," jawab gadis itu sambil tersenyum menggoda. Sementara Ghara langsung gelagapan.
"Ini beneran kamu 'kan, Yang?" tanyanya seolah tak percaya jika yang ada di hadapannya adalah sang istri. Bukannya menjawab, Lily justru semakin liar, dan membuat Ghara mengeluarkan desaah pelan.
***
Sementara di sudut yang lain, tepatnya di rumah sakit, Keysha sedang terbaring dengan jarum infus yang menancap di tangannya.
Dia terpaksa dirawat, karena janinnya benar-benar lemah. Beruntung, calon anaknya dengan Marcell masih bisa diselamatkan. Jadi, kedua orang tuanya pun ikut tenang.
Namun, ketika sadar, dia terus memikirkan tentang pengakuan Andreas, dia masih tak percaya bahwa Lily benar-benar adiknya.
"Kenapa takdir selalu mengikat kita? Padahal kita gak bisa bersama?" gumam Keysha meratap.
__ADS_1
***
Baput udah pinterπππ