
Alessandro membawa Cio untuk turun ke bawah, karena mereka berencana untuk makan siang di luar. Sementara di belakang sana, Boby mengekor pada dua orang itu sambil menggerutu.
"Anjirrr, gue dikerjain sama bocah!" katanya dengan langkah yang begitu lebar. Hingga mereka sampai di basemen, Cio malah merajuk karena rasa susunya tidak seenak buatan sang ibu.
"Gak enak, Cio gak mau mimi!" seru bocah tampan itu dengan bibir yang mengerucut.
"Lho ini udah dibuatin sama Uncle Boby, rasanya sama aja, Sayang," ujar Alessandro, sedari tadi dia terus-terusan menghela nafas.
"Gak milip kayak punya Mommy."
"Punya Mommy jelas bedalah, Cio. Lagian itu mah bekas Daddy kamu, udah basi," timpal Boby, tak ingin disalahkan. Karena tadi dia asal menuang tanpa melihat takaran.
Mendengar itu tentu membuat Alessandro langsung mendelik. "Lu bahas yang mana, Njingg? Jangan macem-macem deh, anak gue masih polos!" Cetus ayah dua anak itu dengan mendekatkan wajah ke arah Boby, tak ingin otak putranya tercemar sejak dini.
"Lah si bontot bahas yang mana emang? Gue mah gak bayangin apa-apa ya, Al. Gue juga punya di rumah!" balas Boby menggebu.
"Daddy," rengek Cio dengan wajah gusar, karena sang ayah malah berdebat dengan sahabatnya. Dia menggoyang-goyangkan badan, ingin sekali melempar botol susu ke arah wajah Boby.
"Apa, Sayang? Tadi Uncle buatnya sesuai takaran kok, iya kan, Uncle?" Alessandro meminta pembelaan dari Boby, dan tentunya langsung direspon dengan anggukan kepala.
"Hooh bener tuh. Aku tadi buatnya sesuai sama punya Mommy kok."
"Gak, lacanya beda. Nih Daddy lacain!" kata Cio sambil mengulurkan botol susu ke arah mulut ayahnya.
"Masa Daddy minum susunya Cio, kan Daddy sudah besar."
"Bukannya kalo malem Daddy cuka mimi?"
__ADS_1
Alessandro langsung gelagapan, dari mana putranya tahu kalau dia suka menghisap milik Arabella? Perasaan pria kecil ini tidak pernah memergokinya.
"Parah lu maennya!" timpal Boby dari balik kursi kemudi, yang lantas mendapat tinju dari Alessandro.
"Gosah ikut-ikutan, gue gak pernah maen depan dia!"
"Lah terus itu apa?"
"Dah-dah lupain. Sini botol miminya," kata Alessandro mengalihkan pembicaraan dengan meminta botol susu sang anak. "Karena Cio gak mau mimi, jadi buat Uncle aja yah, kan Uncle yang buat."
"Al, jangan aneh-aneh deh!" sergah Boby. Namun, dengan berjingkrak kegirangan Cio setuju dengan ide ayahnya. Membuat Boby ternganga.
"Yeh, benel, Uncle aja yang mimi punya Cio."
"Nah 'kan, abisin nih! Disuruh bikin yang bener, lu asal-asalan sih!" ketus Alessandro seraya menyerahkan botol susu anaknya pada sang sahabat.
"Hah, boleh resign gak sih?" cibir Boby sambil melirik sebal ke arah Alessandro dan Cio.
"Ck, mati ajalah gue, Al!"
***
"Bab, balik ke perusahaan lagi, katanya ada Lily di sana, nanti biar Cio pulang sama dia," kata Alessandro saat mereka dalam perjalanan pulang dari restoran. Karena Lily sempat menghubungi ayahnya itu. Namun, bukannya tenang karena perut sudah kenyang, dua pria dewasa itu malah semakin dibuat tersiksa dengan suara yang dihasilkan oleh mainan Cio.
Tek Tek Tek
Tekotek kotek kotek ….
__ADS_1
"Aku mau kacih tahu Moya, kalo aku punya mainan balu," ujar Cio sambil tersenyum lebar, beberapa saat lalu di depan restoran ada tukang jualan mainan keliling. Sebagai anak yang aktif sekali, tentu Cio tertarik, apalagi mainan itu menghasilkan bunyi yang dia anggap asyik.
"Tapi mainnya pelan-pelan yah, itu benda berat soalnya," timpal Alessandro dengan wajah lesu. Namun, tetap mengawasi sang anak.
"Aku bica mainnya kok, Dad. Nih liat," serunya dengan penuh antusias.
Tekotek kotek kotek …
Tekotek kotek kotek …
Cio tertawa.
Hah, rasanya Boby ingin menyumpal telinganya. Sebab mainan itu sudah merajalela, tidak di rumah, di jalanan, di manapun, ada saja suara mainan itu. Hanya di kantor sumber ketenangannya, namun sekarang Cio malah merusak semuanya.
"Kalo bukan anak sahabat gue, udah gue lempar keluar!" umpat Boby dengan wajah pasrah.
Suasana di mobil benar-benar tidak pernah sepi, hingga mereka sampai di perusahaan. Alessandro segera membawa anaknya naik, untuk sampai di ruangan Ghara.
Tanpa mengetuk pintu, pria itu langsung masuk ke dalam ruangan anaknya. Namun, dia dibuat tercengang, karena Lily pun sedang memainkan benda yang sama, dengan milik Cio.
"Wah, Cio juga punya. Sini main sama Kakak," seru Lily, membuat Cio langsung turun dari gendongan sang ayah.
"Punya aku balu beli tadi cama Daddy."
Dan mereka pun memainkannya secara bersamaan. Sementara semua orang hanya bisa menyaksikan dengan mulut menganga.
"Ck, fiks, nanti malem gue kasih lato-lato yang asli, biar dimaenin sepuasnya!" cetus Ghara sambil mengayunkan tangannya ke udara.
__ADS_1
***
Fiks, ini merajalela banget🤣🤣