Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 63. Permintaan


__ADS_3

Tok Tok Tok …


Ghara mengetuk pintu ruangan sang ayah, ketika jam makan siang telah selesai. Dia ingin segera membicarakan masalah Lily, tak peduli meskipun sebenarnya dia memiliki banyak pekerjaan.


"Masuk!" teriak Alessandro dari dalam. Mendengar itu, Ghara langsung membuka pintu, dan membuat sang ayah menatap ke arahnya.


Pria paruh baya itu mengeryit, karena tidak biasanya Ghara datang ke ruangannya, kecuali dia yang meminta.


Tanpa menunggu dipersilahkan duduk, Ghara langsung melandaskan pantatnya di kursi yang ada di depan Alessandro. "Dad!"


"Ada apa? Tumben kamu masuk ke ruangan Daddy," balas Alessandro, terlihat tidak antusias dengan kedatangan Ghara. Karena dia tahu bagaimana julukan sang anak, yaitu pengacau.


"Aku mau cerita sesuatu," ujar Ghara. Bukan karena dia tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri, tetapi ini semua menyangkut masa lalu Lily. Itu artinya dia membutuhkan kesaksian Alessandro, sebagai seseorang yang telah merawat istrinya.


"Apa, tentang pernikahan kamu sama Lily?" Alessandro mengambil berkas, karena merasa itu semua bisa dia dengarkan sambil bekerja.


"Bukan, ada yang lain, tapi masih tentang Lily sih."


Mendengar itu, Alessandro langsung menghentikan laju tangannya yang sedang membolak-balik kertas. Dia mengangkat wajah dengan kernyitan yang semakin terlihat nyata. "Tentang Lily, maksud kamu?"


Ghara menyugar rambut panjangnya ke belakang, lalu mencoba untuk berbicara dengan tenang. "Daddy sama Mommy yang paling tahu masa lalu istri aku. Dan aku butuh itu, buat mecahin masalah kenapa Lily tiba-tiba berubah sikap."


"Tunggu! Tolong ngomongnya yang jelas, Ghara. Lily kenapa? Kalian ada masalah?" tanya Alessandro sambil menatap wajah sang anak yang terlihat serius.


Ghara menganggukkan kepala. "Aku udah ngomong jelas banget itu lho, Dad!"


"Ya maksud Daddy lebih rinci, jangan setengah-setengah, kamu pikir Daddy ini cenayang yang bisa menebak pikiran kamu!" omel Alessandro, karena Ghara mulai berbicara nyeleneh.


Akhirnya Ghara menceritakan duduk masalahnya, sama seperti ketika dia bercerita dengan Gerry dan Edo. Sementara Alessandro terdiam dan terus mendengarkan.


Ya, kemarin dia juga mendengar informasi itu dari Arabella, bahwa Lily berkenalan dengan seorang wanita paruh baya, dan tiba-tiba mereka menjadi dekat.


Namun, karena merasa tidak masalah, Alessandro tidak merasa curiga sedikitpun.

__ADS_1


"Aku pengen cari tahu, siapa ibu-ibu itu, dan ada hubungan apa dia sama Lily, Dad! Aku gak mau kalo sampe dia beneran jadi duri di keluarga kita! Terlebih di antara aku sama Lily!" terang Ghara di akhir kalimatnya.


Alessandro tampak termenung, dia sedang berpikir siapa kira-kira wanita yang Ghara maksud, dan apa tujuannya mendekati Lily. Benarkah wanita itu ibu kandung putri yang sudah dia rawat bersama Arabella?


"Kamu sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya?" tanya Alessandro setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Udah, aku udah kirim orang buat nyelidikin dia secepatnya. Dan aku minta, sama Daddy dan Mommy, buat lebih terbuka. Lily kayaknya butuh penjelasan lebih dalam mengenai masa lalunya."


Alessandro menganggukkan kepala, sementara ingatannya sedang berkelana pada masa 20 tahun silam. Saat dia baru saja menemukan Lily di depan rumahnya. Dia yang kala itu masih trauma melihat Arabella melahirkan, seketika merasa mendapatkan anugerah yang begitu indah.


Lily seperti menjadi pelengkap dalam rumah tangganya. Namun, dia tidak menyangka jika pada akhirnya kisah dia dengan Arabella akan terulang pada putra mereka.


Dan sekarang masalah terus datang silih berganti pada keluarganya. Seolah kebahagiaan beberapa tahun lalu, hanya bayangan semu semata.


"Kalau gitu kamu coba bujuk Lily lagi biar dia cerita. Nanti Daddy minta sama uncle Boby buat nyelesain semuanya," ujar Alessandro sambil menatap sang putra yang terlihat sebelas dua belas dengannya.


"Itu mah pasti, Dad. Tanpa Daddy suruh juga aku bakal bujuk si Bocil buat cerita," balas Ghara dengan gaya tengil.


"Iya, Ghara, iya. Sekarang kamu boleh balik ke ruangan kamu! Daddy banyak kerjaan."


"Stop! Jangan buat Daddy sakit kepala. Kali ini aja, kamu berhenti nyerocos."


"Tapi nanti malem aku mau ngomongin soal pernikahan aku sama Lily. Daddy jangan kaget yah."


Alessandro memutar bola matanya jengah. "Iya-iya. Pokoknya nanti kita bicarakan di rumah. Sudah sana pergi!"


Mendengar itu Ghara langsung tersenyum lebar. Dia bangkit dari kursi hendak meninggalkan ruangan sang ayah. "Aku balik dulu, Dad."


Alessandro hanya mengusirnya dengan gerakan tangan. Dan Ghara langsung melangkah sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Uncle Bob!"


"Ya, Tuan Muda? Ada yang bisa saya bantu?"


Ghara yang sudah membuka pintu, langsung menggelengkan kepala. "Gak, aku cuma mau bilang, tadi abis makan siang Edo minta kon&om sama aku. Katanya sih—"

__ADS_1


Mendengar itu, Boby langsung mendelik, dan mengalihkan pandangan matanya ke arah Alessandro. Karena pria itu pasti mendengar dengan jelas ucapan putranya.


"Apa?!" sentak Alessandro.


Hah, gak anak gak bokap sama aja!


***


Setelah makan malam, Lily langsung kembali ke kamar. Dia lupa bahwa Ghara ingin mengajaknya bicara dengan Alessandro dan Arabella.


"Yang," panggil Ghara ketika melihat Lily hendak masuk ke dalam kamar mandi, untuk bersiap-siap tidur.


Mendengar namanya dipanggil tentu membuat Lily menghentikan langkah. Dia berbalik dan langsung disuguhi wajah Ghara. Tangan gadis itu ditarik, dan berakhir duduk di pangkuan suaminya.


"Pasti lupa yah, kan gue bilang tadi pagi, gue mau ngomongin soal pernikahan kita, sama Daddy and Mommy," ujar Ghara sambil meletakkan dagunya di dada Lily.


Lily langsung berubah gelagapan, karena dia benar-benar lupa soal itu. Karena hari ini ada banyak sesuatu yang harus dia kerjakan. "Aku minta maaf, Kak. Aku lupa."


Ghara mengangguk lemah, dengan binar mata yang terlihat sendu untuk mencari simpati istrinya. "Li, please. Jangan kayak gini."


Lily terdiam dengan tubuh yang terasa lunglai.


"Gue tersiksa tahu, sebenarnya ada apa sih, ayo cerita. Anggep aja gue adalah kotak masalah yang siap nampung semua beban lu," ujar Ghara pelan-pelan.


"Gue sayang sama elu, Li. Gue tulus cinta sama elu, gak ada cewek yang bisa buat gue kayak gini. Kalo elu terus diem, itu artinya lu gak hargain gue sebagai suami lu," sambung Ghara seraya mengeratkan kembali pelukannya.


Lily terdiam sambil menatap dua bola mata milik Ghara. Pelan, dia menggerakkan tangan dan menggantungkannya di leher pria itu. "Apa itu artinya, aku bisa minta apapun dari Kakak?"


Ghara tidak mengerti apa maksud ucapan Lily. Akan tetapi dia berusaha untuk mengikuti permainan gadis itu. "Semuanya gue kasih."


Lily mengulum senyum. "Kalo gitu, aku mau Kakak beliin aku apartemen, villa, dan saham perusahaan. Baru setelah itu aku akan cerita semuanya."


Ghara langsung menernyitkan keningnya, semakin dibuat bertanya-tanya dengan permintaan Lily yang begitu tiba-tiba.

__ADS_1


****


Bang, gue juga mau. Gak usah apartemen deh, ekor buayanya juga gak apa😩🙈


__ADS_2