
Masa bodo!
Satu kalimat itu yang ada di otak Ghara sekarang. Karena dia sudah terlanjur menyatu dengan tubuh Lily, kalau sampai dia keluar, sudah dipastikan si bawah putih tidak akan menerimanya masuk kembali.
"Rileks, Li. Gue bakal main pelan-pelan," ucap Ghara sambil menatap wajah sang istri yang terlihat cukup kuyu. Karena mereka terlalu banyak melakukan percobaan.
Lily tak menjawab, karena dia hanya bisa merasakan bagian bawah tubuhnya yang terasa sangat sesak.
Cup!
"Gue cinta sama elu, Li, gue berharap elu suka sama penyatuan kita malem ini," ungkap Ghara setelah mengecup kening gadis yang sudah tidak perawan itu. Kemudian dia mulai bergerak di atas tubuh Lily dengan hentakan yang terasa sangat pelan, tetapi mampu membuat Lily meringis.
"Kakak, sakit," rengek Lily kembali menangis, tetapi bukannya berhenti Ghara malah meraup bibir mungil itu dan melumaatnya dengan buas. Bak predator yang tengah mengoyak tubuh mangsanya.
Ghara merasakan kuku Lily yang menancap di punggungnya. Hingga menyisakan rasa perih. Namun, rasa yang ia terima justru lebih dahsyat, hingga dia tak ingin berhenti sedikitpun.
Dia terus memompa tubuh Lily, melepaskan hasratnya yang selama ini ia pendam. Tak hanya itu, mulut Ghara pun ikut tak mau diam, dia terus menjelajah hingga bermuara di dada Lily yang terlihat mungil, tetapi mampu membuat gairah pria ini memuncak.
"Sumpah, Li. Ini sempit banget, gue suka," ucap Ghara dengan terengah-engah. Sementara Lily mulai masuk dalam permainan. Sedikit demi sedikit rasa sakit itu berangsur menghilang, dan berganti menjadi rasa nikmat yang tidak bisa ia definisikan.
Dia menangkup kedua sisi leher Ghara, kemudian menariknya untuk dicium. Membuat Ghara tersenyum sensual, karena ternyata Lily sudah mampu dia taklukkan.
"Kak!"
"Ya, Sayang?"
__ADS_1
Ghara mempercepat gerakannya meskipun semua itu cukup sulit, sebab senjatanya seperti digenggam erat di dalam sana. Sementara Lily tak mampu untuk melanjutkan ucapannya, dia terus menganga saat merasakan sesuatu yang ingin keluar dari pusat tubuhnya.
"Ught, Kak!" Kedua tangan Lily semakin memeluk erat leher Ghara. Hingga pria itu menundukkan kepala. Sementara di bawah sana gerakan Ghara terasa semakin cepat, hingga membuat tubuh Lily bergerak brutal.
"I almost got it!" ucap Ghara sambil mencengkram kain sprei dengan kuat. Hingga tak berapa lama kemudian, ia mencabut diri dari tubuh Lily. Dan menyemburkan bisanya di perut gadis itu.
Yah, dia tidak lupa dengan pesan sang ayah. Untuk tidak membuat sang istri hamil terlebih dahulu.
Sementara tubuh Lily menegang beberapa saat, dan melemas seketika ketika ia merasakan pelepasan itu menghampirinya. Nafas kedua orang itu terengah dengan dada yang naik turun. Seperti baru saja melakukan olahraga.
"Thank you for tonight, Dear," ucap Ghara sambil menatap wajah Lily dengan senyum puasnya.
Akan tetapi Lily tak menjawab apa-apa. Dia hanya membalas tatapan Ghara dengan kelopak matanya yang sayu.
Muah, muah muah ….
Ghara langsung memberikan ciuman di seluruh wajah Lily. Sebagai bentuk terima kasih, karena Lily sudah bersedia menerima dirinya.
"Gue gak bakal lupa sama malem ini. Di mana gue bisa taklukin elu! Makasih ya, udah bersedia jadi Lily-nya Ghara. I love you so much, now, tomorrow, and forever."
***
Pagi harinya.
Ghara sudah bangun lebih dulu. Dia mandi dan bersiap-siap ke kantor. Namun, sebelum memakai pakaian kerja, dia lebih dulu membangunkan istrinya, karena dia ingin Lily mandi air hangat yang sudah dia siapkan.
__ADS_1
"Bangun dulu yuk, Yang. Gue udah siapin air buat lu mandi, biar seger!" ucap Ghara sambil menyibak selimut. Membuat Lily yang masih betah tidur jadi merasa terganggu.
"Bentar lagi, Kak."
"Bentar lagi gue berangkat kerja. Nanti gak ada yang bantuin elu! Ayo, gue mandiin abis itu sarapan. Biar gue tenang ninggalin elunya."
Ghara berusaha mengangkat tubuh Lily, hingga mau tak mau gadis itu pun membuka matanya. Dengan tubuh yang terasa lemas, Lily digendong oleh Ghara untuk sampai di kamar mandi. Dan Ghara menurunkan istrinya itu di dalam bathtub yang sudah diisi air hangat.
"Kak, aku bisa sendiri," tolak Lily, karena dia merasa masih mampu. Ah tidak, lebih tepatnya karena dia malu.
"Sssttt … lu diem aja! Biar gue yang kerja," jawab Ghara. Dengan telaten dia memandikan istrinya. Seolah Lily adalah bayi besar yang harus diurus olehnya.
Hingga saat Lily bangkit untuk memakai handuk. Ghara melihat cairan berwarna merah turun dari pangkal paha Lily. Mata Ghara langsung membulat sempurna. "Yang, itu apaan?" Tanyanya terperangah, sekaligus cemas.
Lily langsung mengikuti ke mana arah tatapan mata Ghara. Dan tepat pada saat itu juga, dia memejamkan mata, karena merasa malu pada suaminya. "Aku—aku kayaknya datang bulan."
Mendengar itu, wajah Ghara langsung berubah sumringah. Membuat Lily mengernyitkan dahinya. "Kamu kenapa, Kak?"
"Ya gue bersyukur lah, Li. Kalo sampe datengnya semalem. Beuh, bisa puyeng tujuh hari tujuh malem nih kepala."
Ha?
***
Ntar gue kasih Bodrex, Bang 🤣
__ADS_1