Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 93. Lato-lato


__ADS_3

Karena tubuh Amora kotor semua, alhasil bocah cantik itu harus mandi lagi. Dia diurus oleh Sonia, sementara Cio bersama Lily. Ibu hamil itu menghela nafas sambil menatap lesu pada adiknya yang kerap dijuluki sebagai pengganggu itu.


"Sini Kakak bantu buat buka baju," ucap Lily karena baju Cio pun ikut terkena lumpur, akibat memeluk Amora.


"Mau cama Moya," rengek Cio, sebagai bocah polos yang tak tahu apa kesalahannya, dia merasa kasihan melihat Amora yang menangis, dan dia ingin menenangkan gadis cilik itu.


"Moya-nya mandi dulu, kan tadi bajunya kotor."


"Tapi Moya-nya nanis, Cio mau hibul Moya."


Haduh, dia nangis kan juga gara-gara kamu, kalo gak ditubruk Moya gak mungkin jatoh ke lumpur. Ingin sekali Lily berkata seperti itu, tetapi dia sadar sang adik belum mengerti apa-apa.


"Makanya lain kali Cio jangan lari-lari seperti tadi yah. Moya nangis karena tangannya sakit, kan tadi jatuh," ujar Lily dengan pelan-pelan, berharap Cio mulai bisa memahami apa-apa yang boleh dan tidak boleh.


"Itu kalena Cio mau peyuk Moya, maca gak boleh?"


"Bukan gak boleh, tapi kalo Cio kaya tadi, nanti Moya-nya gak mau ikut pulang. Terus Cio di rumah sendirian, emang mau?" tanya Lily, sementara tangannya sibuk membuka baju Cio, hingga menyisakan kaos dalam saja.


Bocah tampan itu menggelengkan kepala. Dia tidak mau membuat Barbie hidupnya menangis lagi, tapi tidak janji. Hihi.


Dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Amora sudah kembali rapih dengan baju barunya yang dibelikan oleh Sonia.


"Ma, aku langsung pulang aja kalo gitu, salam buat Papa dan Kak Key yah," ucap Lily, dia tahu Keysha tidak mungkin mau keluar dari kamar ketika ada dirinya, jadi dia memutuskan untuk menitip salam saja.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati. Nanti Mama sampein Ke Papa sama Key. Anak cantik dan anak ganteng, baik-baik yah kalian, jangan suka bertengkar," balas Sonia, sambil mengarahkan pandangan pada Amora dan Cio.


"Cio cama Moya gak cuka belantem kok. Aku cukanya main lambut Moya, lucu kaya mie goleng," kekeh Cio sambil melirik sang keponakan cantik. Bahkan tanpa segan, dia kembali berusaha untuk memeluk Amora, namun Amora menolak.


"Ndak awu! Cio kotol," seru bocah cantik itu sambil menghindar. Akan tetapi yang namanya Cio akan selalu berusaha keras mendapatkan apa yang dia mau, hingga menghasilkan teriakan Amora yang menggema, karena si tukang maksa seperti dedengkotnya.


"Cio, Moya-nya gak mau, Sayang. Udah ayo kita pulang!" sergah Lily, menghentikan aksi sang adik, yang tak pernah lelah mengganggu anaknya.


Lily hendak meraih tangan Cio, agar mereka melangkah bersama. Akan tetapi Cio malah berlari lebih dulu menuju pintu utama. Melihat itu Lily jadi menghela nafas kasar, baru sebentar menjaga Cio dia sudah nampak kelelahan.


"Aktif sekali dia," kata Sonia sambil tersenyum tipis, dan langsung dibalas anggukkan kepala.


"Iya, Ma. Kalo di rumah juga gak mau diem, ada aja yang dikerjain. Semoga aja sampe gede begitu, jadi orang yang pekerja keras."


Mendengar itu, Sonia justru terkekeh. "Iya, Sayang."


"Nanti main lagi ya, Sayang," kata Sonia sambil membalas lambaian tangan cucunya. Dan hal tersebut langsung ditanggapi serius oleh Cio.


"Gak boleh! Moya diem di lumah aja cama Cio, janan main telus. Nanti capek."


"Ish, akuh awu main cama Oma. Ndak awu cama Cio!" sambar Amora sambil menghunuskan tatapan sinis. Karena sering dibuat jengkel, dia jadi malas bermain dengan paman kecilnya.


"Tapi Cio punya mainan balu. Cio beli dua buat Moya," ujar Cio, membujuk Amora agar mau bermain dengannya. Dia mengiming-imingi gadis kecil itu dengan lato-lato yang baru saja dibelikan oleh sang ayah.

__ADS_1


Mendengar kata mainan, Amora pun lantas terpancing. Dia yang duduk dekat dengan Cio, meminta ditunjukkan. "Anah?"


Cio langsung mengambil tas dan sibuk mencari mainannya. Hingga dia menemukan dua lato-lato, dengan semangat dia pun menyerahkan satu lato-lato pada Amora.


Sementara Lily diam dan memperhatikan.


"Mainna gimanah?" tanya Amora yang terlihat kebingungan. Dia menatap Cio dengan serius, bocah tampan itu tampak menggerakkan mainnya hingga beradu dan menghasilkan bunyi yang nyaring.


Melihat itu Amora pun jadi bersemangat. "Ihhh buni?"


"Iya, Cio tadi main cama Mommy Yiyi."


"Mommy bica mainna?" tanya Amora seraya menoleh ke arah sang ibu.


"Itu ikutin Uncle Kecil," balas Lily sambil menunjuk Cio yang asyik menggoyangkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Karena ternyata dia pun belum bisa sepenuhnya.


Akhirnya Amora pun ikut-ikutan, namun karena bermain terlalu keras dan ada polisi tidur, lato-lato miliknya justru lari ke jidat.


Pletak!


"Astaga, Sayang," seru Lily dengan cemas, bahkan dia langsung meraih tubuh sang anak untuk dipeluknya.


Tepat pada saat itu juga, Amora kembali berteriak keras. Karena merasakan sakit di keningnya. "Huaaaa … Daddy, paya Moya cakit!"

__ADS_1


***


Dah makanya Lily jangan biarin anaknya main lato-lato, soalnya yang aman cuma lato-latonya Si Buaya 🤣🤣🤣


__ADS_2