Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 71. Pembicaraan


__ADS_3

Perasaan Lily sudah berangsur tenang, sebab semua orang berusaha untuk menghiburnya. Kini mereka sedang makan malam, Arabella sengaja memasak makan makanan kesukaan putrinya, agar Lily makan dengan lahap.


"Makan yang banyak ya, Sayang," ucap Arabella sambil menyendokan lauk ke piring Lily. Sementara Ghara selalu menjadi penonton, membuat dia memutar bola matanya jengah.


"Aku juga anak Mommy lho!" cetusnya, membuat semua orang mengalihkan pandangan ke arah Ghara.


Lily tersenyum tipis, karena ia tahu Ghara masih pasti merasa kesal, sedari tadi tidak dihiraukan. Lily pun mengambil piring suaminya. "Jangan marah-marah sama Mommy. Kan ada aku yang layani Kakak."


Mendengar itu, Ghara semakin bersikap manja. Dia menggeser kursi dan memeluk tubuh Lily. "Gak mau tahu, gue pengen disuapin."


Kini Alessandro yang terlihat muak melihat kelakuan putranya. Hingga pria paruh baya itu menghela nafas. "Sudah jadi suami sikapmu masih kekanak-kanakan, bagaimana kamu mau punyak anak nanti?"


"Ya punya anak mah tinggal punya anak aja kali, Dad. Orang gampang buatnya."


Alessandro langsung gelagapan. Sementara Lily tersipu malu, hingga mengeluarkan semburat merah. Tidak ingin Ghara berbicara yang tidak-tidak, gadis itu mencubit paha suaminya. "Jangan bikin orang jantungan kenapa sih, Kak!"


"Lu kan tahu, Li. Mulut gue ceplas-ceplos, Daddy yang mancing-mancing," jawab Ghara apa adanya. Berharap kali ini sang istri membelanya.


"Sudahlah, kenapa malah berdebat di depan makanan? Bukankah setelah ini kita akan membicarakan pesta pernikahan Ghara dengan Lily?" sela Arabella, menghentikan perdebatan kecil di antara semua orang.


Kalau sudah Arabella yang bicara, maka tidak ada satupun yang berani membantah. Mereka kembali sibuk dengan makanan masing-masing, dan Ghara mendapatkan apa yang dia mau, yaitu suapan dari tangan istrinya.


Setelah makan malam selesai, keempat orang itu duduk di ruang keluarga. Sambil menikmati buah segar, mereka melanjutkan pembicaraan mengenai pernikahan Lily dan Ghara.


"Memangnya kenapa kamu minta cepat-cepat?" tanya Alessandro pada sang putra, sambil memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.


"Kecolongan."


Uhuk!


Alessandro langsung tersedak buah yang hampir saja masuk ke dalam tenggorokannya. Dia terbatuk-batuk, dan Arabella langsung menepuk-nepuk tengkuk suaminya. "Hati-hati dong, Sayang."


"Reaksi Daddy aneh banget," celetuk Ghara, tidak merasa bersalah. Padahal sudah membuat ayahnya hampir jantungan.


"Kamu yang aneh, apa maksudnya kecolongan?" sentak Alessandro sambil menyambar tisu dan mengelap pinggiran mulutnya dengan kasar.

__ADS_1


"Kelupaan pake kon&om aku," ujar Ghara dengan jujur. Membuat Alessandro langsung memelototkan matanya, sudah diwanti-wanti agar selalu pakai pengaman atau keluar di luar, Ghara malah melupakan pesannya.


"Saking enaknya ya?" cibir Alessandro, namun bukannya sadar diri, Ghara justru semakin memperlihatkan wajahnya yang menyebalkan.


Pria itu tersenyum sumringah dengan menampilkan gigi-giginya.


"Tuh Daddy tahu, setelah dipikir-pikir emang enak yang rasa original."


Pletak!


Garpu buah tiba-tiba melayang di kepala Ghara, membuat pria itu meringis kesakitan. Dia memegang keningnya, dan setelah dibuka kening Ghara terlihat merah.


"Itu akibat melupakan pesan Daddy. Sudah diingatkan beberapa kali, kamu malah seenak jidat melanggarnya!" cetus Alessandro, yah, setidaknya dia dulu lebih patuh pada Aston. Meskipun akhirnya kebobolan, akibat pengamannya bocor.


"Lagian gak ada salahnya 'kan, Dad. Si Lampir juga udah nikah kok, jadi aku mau pernikahan aku sama Lily dipercepat. Takutnya nanti bibitnya Ghara udah kenalan sama ceby-cebynya Lily," balas Ghara, tidak peduli meskipun keningnya sedikit nyeri.


"Kakak!" sentak Lily, kalau Ghara sudah bicara entah kenapa dia jadi sakit kepala mendengarnya.


"Bener 'kan, Yang? Gue gak mau lho, ngadain pesta pas elu udah bunting."


"Kan dibilang, Li. Gue ini tipe cowok yang selalu apa adanya, terbuka—"


"Ghara, cukup!" tukas Arabella cepat. Karena dia yakin sang putra akan berbicara ngalor-ngidul, yang ujung-ujungnya tidak memiliki faedah. "Lebih baik, sekarang kita putuskan bagaimana baiknya."


"Ya kata Ghara mah, lebih cepat lebih baik, Mom."


"Oke, apa yang kamu bilang emang bener. Lebih cepat lebih baik, jadi biar minggu depan kita urus pernikahan kamu sama Lily. Dan di sana Daddy bakal kasih tahu ke khalayak umum, siapa Lily sebenarnya. Supaya publik gak perlu bertanya-tanya, dan berprasangka buruk pada keluarga kita," ujar Alessandro dengan gamblang, membuat Ghara langsung tersenyum lebar.


"Nah gitu dong, Dad. Kan jadi makin sayang sama Daddy."


"Tapi Daddy gak sayang sama kamu!" ceteluk Alessandro yang membuat Ghara langsung cemberut.


Alessandro tahu bagaimana sang putra mencintai istrinya, ya, Ghara hanya sedang berusaha memberikan yang terbaik, terlepas tentang kecolongan atau tidak. Ghara tidak ingin membuat Lily merasa menjadi wanita simpanan, dengan statusnya yang disembunyikan.


***

__ADS_1


Sementara di bumi belahan lain, ada seorang pria paruh baya yang terus merasa gelisah, dari kemarin dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena memikirkan suatu hal.


Dan dia adalah ayah Keysha. Beberapa hari yang lalu, dia mendapatkan sebuah pesan dari seseorang. Yang mengatakan bahwa dia memiliki seorang anak di luar sana, dia akui dia pernah berbuat serong, tetapi semenjak itu dia tidak pernah lagi melakukannya.


Dia sudah berusaha berubah.


Dia ingin melupakan pesan itu, tetapi perasaannya justru semakin bertambah was-was. Seolah Tuhan tak mengizinkan dia untuk menghindari masalah tersebut.


"Benarkah aku harus memastikannya?" gumam ayah Keysha, sebab dalam pesan itu, mengatakan siapa darah dagingnya. Dan dia adalah orang yang cukup dekat dengannya. "Tapi bagaimana caranya? Apakah benar dia bukan anak Alessandro dan Arabella yang sebenarnya?"


"Dad!" panggil ibu Keysha sambil menyipitkan matanya, karena dia merasa bahwa sang suami tidak tidur di sampingnya.


Ayah Keysha langsung gelagapan. Dia pun menoleh ke belakang dan mendapati wajah istrinya. Seorang wanita yang pernah dia khianati karena alasan bosan. "Ya, Sayang."


"Kenapa belum tidur?"


"Sebentar lagi, aku masih belum ngantuk."


"Dari kemarin aku perhatikan kamu gelisah terus, ada apa? Kamu punya masalah?"


Ayah Keysha langsung menggeleng, tidak ingin sang istri mengetahui sesuatu yang belum pasti. Dia harus mencari tahu terlebih dahulu, baru setelah itu, dia akan bercerita dan meminta maaf yang sebesar-besarnya pada istrinya itu.


"Hanya beberapa pekerjaan saja yang membuat aku pusing, Sayang."


"Jangan bohong."


Mendengar itu, ayah Keysha segera naik ke atas ranjang. Dia memeluk istrinya dan membawa wanita itu kembali berbaring. "Aku tidak pernah melakukan itu. Jadi, lebih baik sekarang kamu tidur. Biar aku temani yah."


Cup!


Sebuah kecupan singkat melandas, dan membuat hati ibu Keysha menghangat. Dia pun segera patuh pada ucapan suaminya. Dia memeluk tubuh kekar itu dan kembali memejamkan mata.


Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar menyesal.


****

__ADS_1


Woahh🥱🥱🥱


__ADS_2