Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 94. Mandi Sama Ikan


__ADS_3

"Jidat Moya kenapa, Li? Terus itu Cio kenapa gak pake baju?" tanya Arabella beruntun saat anak serta cucunya baru saja datang. Amora masih merengek dan tak mau turun dari gendongan Lily, padahal perut wanita itu sudah sangat begah.


Sementara Cio sudah berlari ke sana ke mari, seperti tidak pernah kehabisan baterai.


"Kena lato-lato, Mom," jawab Lily dengan wajah lesu. "Kalo Cio tadi sempet jatoh di rumah Mama, dia nubruk Amora dari belakang." Sambungnya menceritakan kejadian demi kejadian yang dialami dua bocah balita itu.


"Duh udah diobatin belum, Li?"


"Udah kok, Mom. Tadi di jalan aku langsung mampir ke apotek buat beli salep."


Mendengar hal tersebut, tentu membuat Arabella merasa bersalah. Sebab sang anak pasti terus membuat ulah. Dia pun meminta agar Amora turun dari gendongan Lily. "Moya sama Grandma sini."


"Ndak awu! Moya awu cama Daddy, paya Moya cakit, Daddy ayus yiat," tolak Amora, dia ingin Ghara yang memanjakannya saat ini, tak peduli jika sang ayah sedang bekerja.


"Lho Moya gak kasihan sama Adek? Mommy kan udah bawa Adek di dalem perut, jadi Moya gak boleh gendong lama-lama. Nanti kita telepon Daddy ya," bujuk Arabella, berharap bocah cantik itu mau mendengarkan ucapannya.


"Iya, Moya, kita main lagi yuk," timpal Cio yang sedikitpun tak mau diam. Dia senantiasa berjingkrak-jingkrak sambil membunyikan lato-lato, hingga seisi rumah menjadi sangat gaduh.


"No! Gak ada main lagi, habis ini Cio mandi terus tidur siang. Lato-latonya biar Mommy simpan," ujar Arabella sambil menengadahkan tangan, tak ingin sang anak pun menjadi korban mainan itu. Karena dari beberapa berita yang beredar, sudah banyak korban yang berjatuhan.


"Tapiβ€”"


"Gak ada tapi, kalau Cio gak mau nurut, itu artinya Cio gak sayang sama Mommy."


Kalau sudah seperti itu, Cio pun langsung menghela nafas dengan bibir yang mengerucut. Kakinya melangkah pelan, lalu memeluk Arabella. "Cio cayang Mommy. Cio mau bobo ciang."


Melihat sang anak yang mau diajak kerja sama, tentu membuat Arabella menjadi luluh. Dia pun segera meraih mainan yang ada di tangan Cio, lalu mengusak puncak kepala bocah itu dengan sayang. "Good Boy. Sekarang kita bujuk Moya dulu ya, biar tidur siang sama Cio."

__ADS_1


Bocah tampan itu mengangguk, sementara Amora hanya mengintip dari celah rambutnya yang seperti gulungan mie.


"Moya, ayo bobo cama Cio. Mainnya nanti sole aja," ujar Cio, berdiri di hadapan Lily dengan bola matanya yang berbinar lucu. "Nanti aku pinjemin lobot spidelmen, cama motol balu yang dikacih Daddy."


"Iya, Sayang. Ayo sini gendong sama Grandma. Kita telepon Daddy sekarang, jadi Moya bobonya sama Daddy juga," sambar Arabella. Dia mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi Ghara barang sebentar.


Hingga akhirnya perlahan-lahan Amora pun mulai menurunkan egonya. Dia berbalik untuk menatap Arabella, dan mau digendong oleh wanita itu.


"Yeay, Cio mau mandi di kolam cama ikan," seru Cio saat berhasil meluluhkan hati sang Barbie hidup. Dia pun segera berlari ke arah kamar kedua orang tuanya, meninggalkan semua orang.


"Kamu istirahat aja, Sayang. Biar Amora sama Mommy," kata Arabella sambil menunggu panggilannya terjawab.


"Makasih ya, Mom," balas Lily, jujur dia memang lelah. Karena fisiknya tak bisa diajak bergerak lebih lama.


Arabella mengangguk, lalu dia memutar badan untuk menyusul Cio dengan membawa Amora.


"Ini anak kamu katanya kena lato-lato. Lily mau istirahat, jadi Amora sama Mommy."


"Ya ampun, kok bisa? Lily kasih mainan itu?"


"Gak tahu deh, kayaknya tadi mainan sama Adek kamu juga."


"Cio nang kacih, Daddy, telus yato-yatona nakal cama Moya," timpal Amora dengan suaranya yang serak. Karena memang begitu adanya, sedari tadi Lily hanya diam dan memperhatikan mereka bermain.


"Astaga tuh bocah! Pake ngajarin keponakannya maenan yang aneh-aneh. Udah mulai sekarang Moya gak usah ikut main lato-lato lagi, nanti pulang Daddy beliin pizza, oke?"


Gadis kecil itu pun mengangguk. Membuat Ghara mengulum senyum, melihat Amora yang tumbuh dengan baik, selalu membuat dia merasa menjadi seseorang yang paling beruntung.

__ADS_1


"Sekarang Moya bobo dulu ya sama Grandma. Biar sorenya cepet dateng. Nanti pas bangun, Daddy udah di rumah."


"Apih Moya ugah awu ais kim," celoteh gadis kecil itu.


"Iya nanti Daddy beliin yang banyak."


Panggilan video itu tetap terhubung, bahkan kini Amora mengambil alih ponsel neneknya. Arabella membaringkan tubuh Amora di atas ranjang, lalu menarik selimut hingga menutupi dada.


"Grandma buat susu dulu ya," pamit Arabella, yang langsung mendapat persetujuan. Amora anteng sambil melihat wajah sang ayah dari balik layar.


Sementara Arabella meraih tas putra bungsunya untuk mengambil botol susu, tetapi ternyata tidak ada. Dia pun beralih pergi ke kamar mandi, untuk bertanya pada Cio.


"Sayang, botol susunya ke mana?"


"Cama Uncle Oby, Mom. Tadi Uncle mimi punya Cio," balas bocah tampan itu. Arabella menernyitkan dahinya, dan terus seperti itu saat melihat bak mandi Cio terisi oleh sesuatu.


"Itu apa, Nak?" tanyanya penasaran, karena bau amis pun mulai menguar.


"Ini ikan yang Cio tangkep tadi sole-sole, Mom."


Mulut Arabella menganga saat mendekati anaknya. "Astaga, itu bukan ikan! Itu kecebong, Cio."


Melihat ibunya yang seperti itu, Cio malah memasang wajah tanpa dosa. "Kecebong itu apa?"


***


Mohon banyakin istighfar πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2