
"Lily—kemungkinan dia—anak Carissa."
Deg.
Tubuh Arabella semakin bertambah lemas setelah mendengar ucapan suaminya. Dia tidak salah dengar 'kan? Carissa? Wanita yang pernah menjebak Alessandro agar bisa tidur dengannya. Bahkan wanita itu juga yang menciptakan kesalahpahaman di antara mereka berdua.
Arabella membeku, sementara nafasnya tercekat dengan mata yang terpaku pada satu arah. Apakah ini semua ada kaitannya dengan perasaan yang mengganjal di hatinya? Sudah beberapa hari ini dia selalu gundah gulana, tetapi entah apa penyebabnya.
Dan sekarang terjawab sudah, ternyata memang ada sesuatu yang akan terjadi pada keluarganya.
"Aku belum tahu pasti, Ra. Tapi itu kemungkinan besarnya. Boby udah nyelidikin siapa wanita yang akhir-akhir ini deket sama Lily. Dan orangnya adalah Carissa. Tadi pagi, Ghara juga bilang sama aku, kalo Lily mulai berubah sikap abis ketemu wanita itu. Aku yakin, wanita iblis itu udah ngeracunin anak kita," jelas Alessandro dengan gamblang.
Mau seperti apapun, pada akhirnya dia tidak bisa menyalahkan Lily. Karena gadis itu tidak tahu apa-apa tentang masa lalu mereka.
"Tapi Lily gak kayak wanita itu kok, Dad. Aku yang paling tahu, aku yang besarin dia," ujar Arabella dengan bibirnya yang mulai bergetar. Karena dia yakin, bahwa sikap Lily tidak seperti ibunya.
Lily adalah gadis yang baik, tidak pernah neko-neko. Apalagi bersikap keras kepala. Selama ini, Arabella yang berada di sisi gadis itu, dia tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya terhadap Lily dan Ghara, karena sudah menganggap gadis itu sebagai putrinya sendiri.
"Aku tahu, Sayang. Tapi kali ini aku khawatir, aku takut Lily gak percaya sama kita," ujar Alessandro seraya merengkuh pinggang Arabella, hingga kini mereka saling berhadapan.
Arabella menangis, tidak pernah menyangka jika pada akhirnya, orang tua Lily muncul ke permukaan. Namun, kenapa? Kenapa harus Carissa.
"Kamu gak boleh ngomong kayak gitu. Kita harus percaya sama Lily. Lily gak bodoh, dia sayang sama aku, sama kamu dan Ghara. Dia gak mungkin asal percaya sama Carissa, itu gak mungkin!" balas Arabella seraya menggelengkan kepalanya.
Alessandro mengangkat satu tangannya, lalu mengusap air mata Arabella menggunakan ibu jarinya. "Besok, aku bakal langsung tanya sama Lily. Kita bicarain ini semua berempat. Okey?"
"Yeah, aku gak mau semua ini berlarut-larut. Pokoknya Lily tetep anak aku!" tegas Arabella, kemudian dia merasakan tubuhnya ditarik untuk masuk ke dalam dekapan Alessandro.
__ADS_1
Malam itu, mereka berusaha untuk terlelap dengan saling memeluk satu sama lain. Meskipun rasanya dua pasang mata itu enggan untuk tertutup. Karena hati mereka terus dihantui oleh perasaan gelisah.
Keduanya benar-benar takut, jikalau nantinya Lily malah lebih memilih Carissa. Dibanding dengan orang tua yang sudah membesarkannya.
***
Pagi setelah sarapan, Alessandro langsung meminta kedua anaknya untuk tidak meninggalkan meja makan. Sebab dia ingin membicarakan masalah semalam.
"Apa gak nanti malem aja, Dad?" tanya Ghara, karena dia pikir Alessandro ingin membicarakan pernikahan antara ia dan Lily.
"Gak, Daddy mau ngomong sekarang. Ini penting!" jawab Alessandro dengan wajah yang terlihat sungguh-sungguh. Hingga akhirnya Ghara tak dapat membantah, dia kembali duduk dengan Lily yang senantiasa ada di sampingnya.
Dia sudah berhenti meminta anak buahnya untuk mencari tahu, sebab Alessandro sudah turun tangan.
"Ini masalah tentang Lily," ujar Alessandro, membuat si empunya nama langsung mengangkat kepala. Dia menatap wajah sang ayah yang telah membesarkannya, kemudian mengukir senyum tipis.
"Ada apa, Dad?"
"Daddy ingin kejujuranmu, Li. Sebenarnya siapa wanita yang akhir-akhir ini dekat denganmu, dan apa yang sudah dia katakan. Daddy mohon, jangan ada yang ditutup-tutupi, karena semua itu hanya akan membuat masalah makin runyam. Kemarin, Daddy mendapat laporan dari Ghara kalau kamu tiba-tiba berubah sikap. Jadi, Daddy pikir semua itu ada hubungannya dengan pertemuan kalian," jelas Alessandro to the point sambil terus melayangkan tatapan ke arah putrinya.
Lily langsung menunduk, kini dia sadar bahwa keluarga angkatnya tidak akan diam saja, meskipun dia menutup serapat mungkin. Apalagi Alessandro memiliki akses yang jauh lebih luas mengenai informasi seseorang, dia yakin Alessandro sebenarnya sudah tahu siapa wanita itu.
Namun, sang ayah menunggu kejujurannya. Di samping Lily, Ghara meraih tangan gadis itu, hingga akhirnya mereka saling tatap.
"Ayo cerita, gue, Mommy, Daddy, siap dengerin semuanya," ucap Ghara sambil terus menggenggam tangan Lily yang mulai terasa dingin.
Wajah Lily berubah memerah. Dia pun memberanikan diri untuk menatap kedua orang tua angkatnya, terutama Arabella. Dia benar-benar merasa bersalah, karena sempat berpikir bahwa ucapan Carissa adalah kebenaran.
__ADS_1
Namun, saat dia mengingat betapa baiknya keluarga ini menjaga dan membesarkannya. Dia tidak mau berat sebelah, dia mulai menggali informasi itu sendiri, hingga dia menemukan fakta bahwa Ghara memang benar-benar anak Alessandro dan Arabella.
"Dia mengaku kalau dia itu ibuku. Hari itu dia menunjukkan semuanya, dari mulai tes DNA, dan juga foto-fotoku semasa kecil. Bahkan, dia juga memiliki foto Daddy. Dia bilang—" Lily menangis dan tergugu, "dia bilang kalau sebenarnya Daddy itu ayah kandung aku. Sementara Kak Ghara anak pungut. Dan itu semua Daddy lakuin karena Mommy mandul."
Lily kembali menunduk dalam, dia semakin menangis keras, dan Ghara segera merengkuh tubuh ringkih itu. Dia mencoba menenangkan Lily, tetapi gadis itu berusaha untuk melanjutkan kalimatnya.
"Dia fitnah Daddy. Dia bilang Daddy ambil aku dari dia. Dan setelah itu, dia minta sama aku buat balas dendam, aku disuruh minta ini itu sama Kak Ghara, karena dia tahu aku istrinya Kakak," sambung Lily sambil terbata-bata.
Sementara di tempatnya Alessandro sudah mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Kebencian yang selama ini sudah berusaha dia pendam, seketika menguap kembali ke permukaan.
Sumpah demi apapun, rasanya dia ingin menghajar wajah Carissa, tak peduli dia wanita atau bukan.
"Sayang," panggil Arabella.
"Aku bakal bales dia, Mom. Aku gak mungkin diem aja ketika kamu difitnah kayak gitu!"
"Iya, tapi please. Jangan sampe kamu kotorin tangan kamu sendiri!"
"Kamu tenang aja, Sayang." Alessandro mengecup puncak kepala Arabella, kemudian memeluk istrinya yang tentunya sedang merasa terluka.
"Lalu apalagi, Li, yang dia katakan?" Pandangan Alessandro kembali mengarah pada putrinya. Namun, kini bukan Lily yang menjawab, melainkan Ghara.
"Aku sama Edo udah urus, Dad. Semalem sebenarnya Lily udah cerita sama aku. Tapi pas aku mau bilang, ternyata Daddy harus pergi."
"Apa rencanamu?"
"Aku udah siapin apa yang dia minta, villa, apartemen, dan saham atas nama Lily. Siang nanti, Lily bakal ketemu sama dia buat nyerahin itu semua. Dan aku bakal ikut," terang Ghara, membuat Alessandro tersenyum smirk seketika.
__ADS_1
"Itu baru anakku! Daddy ikut."
***