
Lily belum bisa bernafas dengan lega meskipun pesta telah selesai. Sebab Ghara terus mengekor pada dirinya, dan ikut-ikutan masuk ke dalam kamar. Padahal dia sudah sangat gerah.
"Kak, bisa gak, gak usah ikutin aku?!" sentak Lily sambil memegangi pintu, memberi kode agar Ghara pergi meninggalkannya.
Namun, pria super tidak tahu malu itu justru merebahkan diri di atas ranjang. Berguling ke sana ke mari bagai anak kucing yang sedang mengajak Lily bermain. "Gak bisa lah, Li. Kita udah suami istri, jadi gue harus ikutin ke manapun lu pergi."
"Termasuk ke kamar mandi?!" tukas Lily, asal mengucap saja. Karena dia sudah benar-benar gemas dengan tingkah laku suaminya.
Ghara menaik-turunkan alisnya.
"Ide bagus! Ayo, gue bakal mandiin elu," jawab Ghara seraya bangkit dan menghampiri Lily. Sementara gadis itu langsung mendelik.
"Stop!" katanya seraya menghalau Ghara dengan kedua tangan.
"Lho?"
Lily menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Berharap dia bisa tenang, meskipun nyatanya hal tersebut tidak membantu apapun. "Please deh, Kak. Kasih aku privasi sedikit aja."
Kening Ghara berkerut. Mencerna apa maksud Lily, tentang privasi?
"Lu mau nutup diri dari gue? Kita udah suami istri, Li. Gue udah janji di hadapan Tuhan, Mommy, Daddy, bahkan semua orang. Lu gak percaya sama gue?!"
Wajah pria itu tampak sangat serius, tetapi hal tersebut hanya membuat Lily semakin frutasi. Hah, memang tidak seharusnya dia melarang Ghara ini dan itu, karena semakin dilarang pria itu akan bertambah semakin brutal.
"Haish, gak gitu!"
"Terus apa? Suami istri itu gak butuh privasi, kita harus sama-sama terbuka, termasuk tentang tubuh elu! Gue berhak tahu semuanya," tegas Ghara mulai menyerocos ke mana-mana. Padahal Lily hanya ingin Ghara berhenti mengikuti dia.
"Bisa gak sih dengerin aku dulu?"
"Apa, Li?"
__ADS_1
Lily terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya. Dia harus bicara dengan pelan-pelan, karena ternyata tarik urat itu melelahkan.
"Kak, aku cuma minta waktu buat mandi, ganti baju dan lain-lain. Jadi, dengan teramat sangat, aku mohon, aku minta sama Kakak keluar dari kamar aku."
"Bedanya apa, Li? Ada sama gak ada gue?"
"Ya jelas bedalah, Kak. Aku gak terbiasa ada orang lain di kamar aku ketika aku lagi mandi, aku ngerasa gak bebas!" tegas Lily, berharap sang suami yang otaknya hanya seputar slengki ini mengerti.
"Lho gue suami elu, bukan orang lain!"
"Ya maksud aku itu, argh … ngerti gak sih? Aku tuh gak biasa."
"Ya makanya mulai sekarang dibiasain, Sayang. Kan gue udah pernah ngerasain juga."
Lily langsung memelototkan matanya. Sebab Ghara pasti mengingatkan tentang kejadian malam itu. Hingga akhirnya dia memilih untuk mengalah. "Ck, gak guna ngomong sama Kakak!" Cetus Lily sambil melangkah dengan menghentak-hentakan kakinya.
Namun, bukannya merasa bersalah sudah membuat Lily kesal. Ghara justru tersenyum lebar. "Galak banget sih perawannya Pak Ale. Jadi gak sabar digalakin."
Lily bergeming, malas untuk menjawab ucapan suaminya. Sebab satu kali ucap, pasti melebar ke mana-mana.
"Apa aku diem di sini aja sampe Kak Ghara tidur?" gumam Lily sambil mematut dirinya di depan cermin. "Argh, gak mungkin! Dia pasti curiga."
Hampir satu jam Lily meninggalkan Ghara. Namun, tidak ada tanda-tanda dia ingin keluar. Apalagi saat dia menyadari, bahwa dia tidak membawa baju ganti. Astaga, dia benar-benar ceroboh!
"Li, lu mandi apa lagi transfer ilmu rawa rontek sih? Lama bener?" teriak Ghara di luar sana sambil menggedor-gedor pintu.
Akan tetapi Lily tak menjawab, dia malah menggigit bibir sambil mondar-mandir tidak jelas. Karena sampai saat ini tidak ada satupun ide yang pas untuk kabur dari suaminya.
"Li, jangan bilang elu pingsan di kamar mandi?"
Ghara menggerakan kenop pintu, tetapi percuma sebab benda persegi panjang itu dikunci dari dalam. Dan hal tersebut tentu membuat Ghara merasa khawatir, takut terjadi sesuatu pada istrinya.
__ADS_1
Lily mendelik ketika pintu sedang berusaha dibuka secara paksa. Dia yakin, Ghara akan mendobrak benda persegi panjang itu, jika dia tidak lekas menjawab.
"Iya, Kak. Sebentar, aku—aku abis berendam, jadi agak lama!" teriak Lily, dan tepat pada saat itu juga, Ghara langsung menghentikan aksinya.
Nafas pria itu memburu.
"Ya udah buruan, Li. Ntar elu masuk angin."
"Iya, tapi—" Lily menggantungkan ucapannya, haruskah dia meminta Ghara mengambilkan pakaiannya?
"Tapi apa?"
"Anu, Kak."
"Anu apa?"
Lily menggigit bibirnya semakin kuat. Dan dengan terpaksa, dia meminta pertolongan Ghara. "Aku gak bawa baju ganti, bisa tolong ambilin baju aku di lemari gak?"
Terdengar helaan nafas kasar dari mulut Ghara. "Kirain gue apaan. Ya udah bentar."
Mendengar itu, Lily langsung tersenyum lega. Karena ternyata Ghara tidak merespon dengan jawaban yang aneh-aneh. Dia pun menunggu beberapa saat, hingga akhirnya Ghara kembali mengetuk pintu.
"Li, nih bajunya."
Tanpa rasa curiga sedikitpun, Lily membuka pintu, dia menyembulkan kepala dan langsung mengambil pakaian dari tangan Ghara. "Makasih." Ujarnya singkat, tetapi mampu membuat Ghara tersenyum sumringah.
Dan setelah pintu tertutup, teriakan Lily langsung bergema. "Ah, Kak Ghara!"
Pria yang disebut namanya langsung tergelak kencang. Karena dia malah memberikan Lily lingerie seksi yang kemarin Edo beli.
"Jeky nunggu dikasur, Li. Pake sarung rasa strawberry."
__ADS_1
***
Cobain boleh gak, Bang🤣🤣🤣