
Ghara mengemudikan mobilnya tak tentu arah. Sementara di sampingnya tangis Lily semakin pecah, dia tergugu karena masih tak percaya dengan takdir yang membawanya untuk terikat dengan Keysha, mantan tunangan suaminya.
Marah? Kecewa? Patah? Jangan ditanya. Sumpah demi apapun, Lily tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang, karena dia amat sangat terperangah.
"Sakit, dada aku sakit," keluh Lily sambil terisak-isak, dia memukul dadanya yang terasa sangat sesak, sementara Ghara membiarkan Lily menguapkan semua emosinya.
Karena dia sadar, dia tidak bisa menahan Lily untuk tidak melakukan itu. Gadis itu butuh pelampiasan, dan Ghara akan selalu siap untuk mendampingi istrinya. Menjadi orang pertama, yang selalu ada di saat Lily merasakan suka maupun duka.
"Mommy, Daddy, dada Lily sakit," lirihnya dengan air mata yang menderas. Dia terus menatap jalanan dengan hatinya yang hancur berkeping-keping, hingga dia ingin sekali berteriak sekeras mungkin.
"Mereka gak pengen aku ada, tapi kenapa, kenapa mereka lakuin kesalahan itu? Apa karena aku bener-bener gak berharga?" Lily bermonolog dengan dirinya sendiri, merancau akan rasa kecewa karena dirinya telah dibuang, bahkan sempat dijadikan alat balas dendam.
Sebegitu rendahnya kah dia? Hingga kelahirannya tak diinginkan oleh kedua orang tuanya, bahkan seolah-olah menjadi petaka.
__ADS_1
"Aku juga gak minta buat dilahirin kok, kalo aku bisa minta sama Tuhan, lebih baik aku pergi ke surga aja, dari pada harus kayak gini. Aku gak bermaksud nyusahin semua orang, tapiβ" Lily menghentikan ocehannya, karena tiba-tiba Ghara menghentikan mobil dan menarik tubuhnya untuk dipeluk.
Di dada bidang suaminya, tangis Lily semakin terdengar keras. Dia menguapkan semuanya di sana. "Aku salah karena udah tumbuh di rahim Ibu. Harusnya aku gak di sini, Kak."
"Gak, Li. Kamu berharga, bagi aku kamu berharga banget. Gak ada yang bisa buat gantiin kamu di hati aku, karena dibandingkan apapun yang aku punya. Kamu sesuatu yang paling mahal dan paling indah. Aku sayang sama kamu, aku gak peduli kamu lahir dari ibu yang mana, dan dari ayah yang kayak apa. Karena aku percaya, Tuhan ciptain kamu dari tulang rusuk aku. Kamu cuma buat aku, Li," ujar Ghara, mencoba meyakinkan Lily, bahwa kehadiran gadis itu bukanlah sesuatu yang salah.
Dia terus mengeratkan pelukannya dan mengelus kepala Lily dengan penuh sayang. Karena sedari tadi dia sudah tidak tahan mendengar ocehan Lily yang ke mana-mana, dia benar-benar merasakan sakit yang sama.
"Kamu gak butuh pengakuan mereka. Ada aku, Daddy, Mommy, dan semua keluarga, yang siap nerima kamu dengan tangan terbuka. Kamu gak perlu mikirin sesuatu yang gak penting, sekarang siapapun yang ngaku-ngaku jadi ayah kamu, dia gak berhak buat urusin atau ikut campur sama kehidupan kamu. Aku yang bakal selalu ada buat kamu, Li, aku suami kamu!" tegas Ghara dengan matanya yang memerah.
Dia akan selalu menjadi benteng pertahanan Lily yang kuat, agar keluarga kecilnya tidak mudah ditindas. Tak peduli, meskipun dia adalah ayah mertuanya sendiri.
Mendengar itu, suara isak tangis Lily mengecil, tapi pelukannya di tubuh Ghara bertambah semakin erat. Kini hatinya tak bisa lagi bohong, dia sangat bersyukur memiliki suami seperti Ghara. Meskipun pada awalnya dia merasa ini semua adalah sesuatu yang salah, tetapi semua perhatian yang Ghara tunjukkan membuat dia luluh.
__ADS_1
"Kalo gitu jangan pernah tinggalin aku. Sekarang Kakak adalah dunia aku, kalo Kakak pergi, aku pasti hancur. Bahkan mungkin lebih dari ini," ujar Lily, yang membuat Ghara merasa haru bercampur bahagia.
Karena kalimat itu membuktikan bahwa Lily benar-benar sudah mencintainya. Dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, dia akan terus berusaha menjaga Lily, dan membuat wanita itu aman bersamanya.
"Of course. Aku janji, aku bakal selalu ada buat kamu dan keluarga kita. Aku bakal lindungin kamu dengan cara apapun. Dan siapapun lawannya, aku pasti bisa hadepin dia," balas Ghara, yang membuat Lily menengadahkan kepalanya.
"Aku pegang janji Kakak, dan aku gak akan pernah lupa," ucap Lily dengan bibir yang bergetar, dan juga air mata yang masih bersemayam di pelupuk matanya.
Ghara mengusap cairan bening itu dengan ibu jarinya, lalu mengecup kening Lily dengan begitu dalam. "Aku gak keberatan, karena aku gak akan pernah ingkar. Kamu akan selalu jadi Lily-nya Ghara."
***
Peluk ngothor, Bang ππ
__ADS_1