
Keysha langsung dilarikan ke rumah sakit, karena mereka takut ada sesuatu yang terjadi dengan wanita itu. Apalagi usia kehamilan Keysha masih sangat muda.
"Cepat hubungi Marcell!" kata Andreas pada Sonia, sementara dia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, berharap bisa segera sampai di rumah sakit terdekat.
"Mommy sakit," rintih Keysha sambil mencengkram erat tangan sang ibu. Membuat wanita paruh baya itu sangat cemas.
"Sabar ya, Sayang. Mommy akan hubungi Marcell dulu, supaya dia menyusul," ucap Sonia sambil mengelus lembut pipi Keysha. Lantas setelah itu dia segera membuka ponsel untuk menghubungi menantunya.
Namun, Marcell yang kala itu sedang shuting iklan tidak bisa mengangkat panggilan Sonia. Padahal dia tidak men-silent ponselnya.
"Ayolah, Cel!" gumam Sonia sambil melirik ke arah Keysha yang masih merintih dengan dahinya dipenuhi keringat.
Sampai beberapa kali Sonia mencoba, Marcell belum bisa dihubungi. Membuat dia akhirnya menyerah. Dia yakin pria itu masih bekerja.
"Marcell belum bisa dihubungi, Dad. Tapi aku sudah mengiriminya pesan kalau Keysha sedang dibawa ke rumah sakit," kata Sonia, dia tidak peduli lagi dengan masalah yang sedang menimpa keluarganya. Sebab yang dia khawatirkan hanyalah keadaan Keysha.
"Baiklah, nanti biar aku hubungi lagi kalau sudah sampai," balas Andreas, akhirnya tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Hingga suasana di mobil, hanya diisi oleh ringisan yang keluar dari mulut Keysha.
***
Sedangkan di bumi belahan lain, Arabella terlihat sangat pucat, meskipun bibirnya dipoles oleh lipstik, tetapi pandangan matanya tidak bisa bohong.
__ADS_1
"Sayang, matamu terlihat sangat sayu, kamu sakit?" tanya Ellea seraya memeriksa keadaan sang menantu.
Arabella menggelengkan kepala, karena dia ?merasa baik-baik saja, lagi pula suhu badannya juga normal. "Gak kok, Mom. Aku cuma lemes aja."
"Wajahmu pucat, mungkin kamu kecapekan. Lebih baik kamu ke kamar untuk istirahat," timpal Ellea, merasa tak tega melihat wanita itu seperti tak memiliki tenaga.
"Aku beneran gak apa-apa, Mom."
Namun, kalimat itu berbalik dengan tubuhnya yang tiba-tiba terhuyung. Ellea segera menahan tubuh mungil itu. "Ara!" Teriaknya dengan reflek.
Kemudian dia celingukan mencari keberadaan Alessandro. Ingin meminta sang anak membawa istrinya untuk beristirahat. Akan tetapi dengan sendirinya Alessandro datang dengan langkah yang tergesa, sebab dia sekilas melihat Arabella yang hampir pingsan.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alessandro langsung merengkuh tubuh sang istri untuk didekapnya. Sementara Arabella merasa seperti melayang-layang, hingga detik selanjutnya dia tidak sadarkan diri.
"Ya ampun, Al. Bawa istrimu ke kamar," kata Ellea dengan sedikit berteriak. Dan hal tersebut membuat para tamu undangan heboh. Termasuk para anggota keluarga.
Tanpa ba bi bu, Alessandro langsung mengangkat tubuh mungil istrinya. Dia membawa Arabella ke kamar yang semalam mereka tempati, dan membaringkannya di ranjang.
"Ke sini sekarang!" ucap Boby di telepon. Tanpa diminta dia sudah menghubungi dokter, karena tak ingin Alessandro mengamuk.
Dan benar saja Alessandro langsung merogoh ponsel dengan tidak sabaran. Akan tetapi sebelum itu, Boby menahan lengan sahabatnya. "Gue udah hubungin dokter. Kita tinggal nunggu."
__ADS_1
Mendengar itu, Alessandro langsung bernafas lega. Meskipun belum sepenuhnya, setidaknya ada seseorang yang dapat dia andalkan. "Makasih, Bab."
Boby mengangguk, lantas setelah itu Alessandro kembali menghampiri istrinya. Dia mengusap dahi Arabella yang berkeringat. "Kenapa gak bilang sih, Ra, kalo kamu kurang enak badan. Kalo kayak gini kan aku juga yang khawatir."
Tanpa mengindahkan sekitar, dia mengecup sekilas bibir istrinya. Dan tepat pada saat itu, Ghara dan Lily pun datang.
"Dad, Mommy kenapa?" tanya pria tampan itu.
"Belum tahu, tiba-tiba Mommy pingsan," balas Alessandro sambil celingukan ke arah pintu. Berharap dokter segera sampai, dan memeriksa keadaan istrinya.
Hingga sekitar 20 menit, dokter sudah masuk ke dalam kamar itu dan menangani Arabella. Dia tersenyum tipis, membuat Alessandro mengeryit.
"Ada apa, Dok?"
"Nyonya Ara tidak apa-apa, Tuan. Ini hanya gejala hamil muda. Selamat yah."
Mendengar itu, semua orang menganga, dan yang paling lebar adalah mulut Ghara.
"Dad, yang bener aja?!" sentak pria itu, dengan wajah yang seolah tak terima.
**
__ADS_1
Bentar lagi momong, Bang🤣🤣🤣