Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 56. Mawar Merah


__ADS_3

Setelah selesai mandi dan segala ritual nya. Lily dan Ghara keluar, keduanya memakai handuk di tubuh masing-masing. Dan ketika Lily mendekat ke arah ranjang, gadis itu melihat satu ikat mawar merah tergeletak.



Lily meraih bunga tersebut, lalu membaca kartu ucapan yang tertulis di sana. "For Lily-nya Ghara."


Tanpa sadar Lily mulai melengkungkan bibirnya. Tak menyangka jika Ghara akan seromantis ini padanya. Bahkan pipi gadis itu terasa memanas, hingga mengeluarkan semburat merah. Meski tak semerah mawar yang ada di tangannya.


"Jangan berantem yah," ucap Ghara seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lily. Membuat gadis itu tersadar seketika.


"Berantem apa maksud, Kakak?"


"Mawar sama Lily harus akur, soalnya gue bakal kasih bunga ini tiap hari pas gue pulang kerja," balas Ghara seraya mencium leher Lily yang terekspos bebas. Menghirup dalam aroma sabun yang terasa memanjakan indera penciumannya.


Mendapati perlakuan seperti itu, tentu membuat jantung Lily berdebar dengan keras. Dia salah tingkah. "Kayaknya gak perlu setiap hari deh, Kak."


"Kenapa?" tanya Ghara, tangan pria itu mulai aktif, merayapi benda yang ia suka. Dua dada yang masih terasa rata, tetapi mampu membuat ia bergairah.


"Ya, kayak buang-buang uang aja. Lagian gak perlu-perlu amat 'kan?"


"Duit gue gak bakal abis cuma buat beli mawar kaya gitu. Tapi ini bukan soal nominal, gue suka liat elu senyum kayak tadi, dan gue pengen liat itu setiap hari. Gue pengen buat lu beneran jatuh cinta sama gue," terang Ghara seraya meletakan dagu di antara ceruk leher istrinya, membuat Lily tak mampu untuk menahan senyumnya lagi.


Ah, kenapa dia jadi senang yah? Apakah ini pertanda, kalau dia sudah terkena virus cinta si buaya rawa-rawa?


"Gimana lu seneng gak nikah sama gue?" sambung Ghara, dia memiringkan kepala, agar dapat melihat ekspresi wajah Lily.


"Aku—aku—"


"Udah ngaku aja sih, Li. Kayaknya susah banget. Apa yang gak bisa lu terima dari gue coba, udah ganteng, tajir, sopan, berbakti kepada orang tua, sayang keluarga, giat bekerja, apalagi Jeky-nya, beuh puas kan lu semalem?" cerocos pria itu memotong ucapan Lily.

__ADS_1


Padahal baru saja Lily merasa terharu dengan ucapan Ghara. Belum ada beberapa menit, pria itu sudah kembali ke mode aslinya.


Dengan cepat Lily melepaskan pelukan Ghara. Dia terlalu malu untuk membahas kegiatan semalam. Di mana dia terus mendesaah dan bergerak bagai cacing kepanasan, hih, dengan membayangkannya saja Lily seperti tidak memiliki muka.


"Sana balik ke kamar, Kakak!" usir Lily.


"Lho kok malah ngambek, Yang?" tanya Ghara dengan kening yang mengeryit heran. Dia mengikuti langkah Lily yang berjalan ke arah lemari pakaian.


Gadis itu meletakkan bunga mawar pemberian Ghara di meja rias. Karena lemarinya bersebelahan dengan benda itu.


"Siapa yang ngambek? Aku gak ngambek," sangkal Lily.


"Itu bibirnya manyun, atau emang minta dicium?"


Lily mendelik. "Ih, Kak Ghara!"


"Napa sih, Li? Perasaan tadi anteng-anteng aja, kenapa sekarang jadi kayak macan belom makan?"


"Ya elah, perawannya Ale kumat lagi penyakitnya. Eh, udah udah gak perawan deh," goda Ghara sambil terkekeh, dan Lily masih mampu mendengarnya.


Dengan perasaan kesal Lily berbalik lalu mendekati Ghara, dan tanpa diduga gadis cantik itu melayangkan tangan untuk menabok ekor buaya suaminya.


Plak!


"Aw, sakit, Li!" jerit Ghara dengan bola mata yang melebar sempurna.


"Rasain, itu akibatnya kalo Kakak ngeledekin aku terus!" cetus Lily tanpa merasa bersalah. Lalu setelah itu dia kembali melanjutkan niatanya.


Sementara Ghara hanya bisa menganga sambil memegangi Jeky yang sedang kesakitan di bawah sana. "Anjirr, lama-lama telor dino gue bisa pecah!"

__ADS_1


***


Seminggu kemudian.


Lily sudah berkuliah seperti biasa. Pada pukul 2 siang, gadis itu sudah pulang. Namun, ketika sampai di depan gerbang, Lily melihat ada seorang wanita paruh baya sedang berdiri sambil mengamati rumahnya.


Kening gadis itu mengernyit, sementara security tidak tahu jika ada seseorang di luar sana, sebab tubuh wanita itu terhalang dinding.


"Permisi, ibu cari siapa?" tanya Lily, mengejutkan wanita paruh baya itu.


Namun, bukannya menjawab wanita itu justru terdiam, sambil terus menelisik wajah Lily. Tiba-tiba dia berkaca-kaca, membuat Lily semakin merasa heran.


Hingga tercetus sebuah pemikiran. "Ah aku tahu, Ibu lagi butuh uang buat bayar utang?"


"Ah, enggak-enggak. Ibu cuma mau tanya, kamu yang tinggal di sini?"


Lily mengangguk ragu. Dan hal tersebut membuat wanita paruh baya yang ada di hadapannya menangis haru.


"Lho, Ibu kenapa nangis?" tanya Lily cemas. Bahkan dengan reflek dia menyentuh bahu wanita itu untuk menenangkan.


"Boleh Ibu memelukmu, Nak?"


Lily semakin tak paham, tetapi karena merasa kasihan, akhirnya dia pun mengangguk setuju. Lagi pula, ini masih ada di kawasan rumahnya, kalau ibu ini macam-macam, dia sudah tentu bisa berteriak.


Mereka pun berpelukan dengan erat. Sementara dibalik itu semua, wanita itu menyeringai penuh.


Aku akan membalasmu, Alessandro! Batin wanita yang bernama Carissa—seseorang yang pernah ada di kisah masa lalu orang tua Ghara.


***

__ADS_1


Terjawab syudahh💃


__ADS_2