
Acara pernikahan Lily dan Ghara diadakan di kediaman Barrack. Tidak ada yang mereka undang, kecuali keluarga inti dan para sahabat Ghara saja. Karena mereka tidak ingin menimbulkan kecurigaan media.
Pagi itu, tim MUA sudah masuk ke dalam kamar Lily, untuk menyulap penampilan gadis cantik itu. Namun, sedari tadi Lily terus menangis, seolah air mata itu tidak akan pernah habis.
"Sayang, berhentilah menangis. Tidak akan ada yang berubah setelah kamu menikah, kamu tetap menjadi anak Mommy dan Daddy-mu. Juga jadi cucu kesayangan Oma," ujar Ellea, mencoba untuk menenangkan.
"Tapi, Oma," rengek Lily sambil sesenggukan.
Ellea pun mendekat dan mencoba mengelus-elus punggung Lily. "Apa yang membuat kamu takut, hem? Ini semua kami lakukan demi menjaga hubungan kamu dan Kak Ghara lho."
Lily melirik ke arah beberapa orang yang ada di sekitar mereka. Jujur saja, yang paling menakutkan dalam pikirannya adalah malam pertama. Dia sudah membayangkan betapa beringasnya Ghara saat menyerang dirinya.
Wajah Lily tiba-tiba terasa panas, tetapi dia memilih untuk menggelengkan kepala. "Lily cuma takut gak bisa jadi istri yang baik, Oma."
Ellea pun tersenyum mendengarnya. Andai yang ada di sana adalah Isabella—ibu Aston—mungkin Lily akan bertambah semakin ketakutan. Karena jelmaan buaya betina itu justru akan membantu anak cucunya untuk menyukseskan malam pertama. Namun, sayangnya Isabella sudah meninggal dunia selang beberapa tahun setelah suaminya tidak ada.
"Sayang, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Jadi, tugas kita hanya perlu belajar. Kak Ghara pun begitu, dia tidak akan mungkin langsung menjadi suami yang baik buat kamu, kalian akan melewati beberapa tahap terlebih dahulu. Yang penting kalian saling terbuka, dan saling memahami kekurangan masing-masing." Jelas wanita paruh baya itu dengan tatapannya yang begitu teduh.
Membuat Lily tak bisa berkutik. Sebab dia tidak memiliki alasan lain lagi untuk mengundur pernikahan ini. Lily pun mengangkat wajah. "Apakah menikah itu menyenangkan, Oma?" Tanyanya seraya mengelap pipinya yang basah.
"Sangat, asal kita bisa saling menerima. Dan ingatlah, bahwa ada Mommy, Daddy, Oma, Opa, dan Uncle Emil yang berdiri di belakangmu, jika Kak Ghara macam-macam, kamu tinggal bilang."
__ADS_1
Mendengar semua penjelasan itu, hati Lily pun kian luluh. Hingga akhirnya dia mau didandani dan mengganti pakaiannya dengan gaun yang sudah dipilih oleh sang ibu.
Sementara di kamar lain.
Ghara sudah tampak gagah dengan balutan jas formal berwarna biru. Karena setelah beberapa kali mencoba, Ghara merasa lebih pantas memakai pakaian tersebut.
Dia berdiri di depan kaca yang memiliki ukuran setinggi tubuhnya. Dengan senyum secerah mentari pagi ini, karena sebentar lagi dia sudah bisa mempersunting Lily.
"Ck, ganteng gini, gimana cewek gak klepek-klepek coba? Aneh aja kalo si Bawang Putih nolak gue," ucap Ghara seraya menyisir rambutnya dengan satu tangan.
Setelah merasa penampilannya sudah sempurna. Ghara pun keluar, dia melihat para pelayan sibuk menghidangkan makanan, dan diketuai oleh sang ibu—Arabella.
Tanpa menunggu jawaban, Ghara langsung membuka benda persegi panjang itu. Sementara di dalam sana, Lily sedang mengganti pakaian dan tidak memakai apa-apa selain benda segitiga.
"Astaga, tuh buah naga ngapain dijejerin gitu?!" teriak Ghara, mengagetkan semua orang. Termasuk calon istrinya.
Lily mendelik dan terlihat sangat panik. "Kak Ghara!"
"Tenang, Li, tenang, gue calon suami elu!" ucap Ghara, mengingatkan Lily bahwa tidak ada yang salah dengan situasi ini. Mereka hanya sama-sama terkejut.
"Ghara, kamu ngapain ke sini? Keluar sana!" timpal Ellea yang sudah berdiri tepat di hadapan sang cucu. Menghalau pria itu agar tidak masuk. Dia tidak menyangka, jika ada seseorang yang akan masuk tanpa permisi, sehingga dia lupa untuk mengunci pintu.
__ADS_1
"Mau liat calon istri aku, Oma," jawab Ghara apa adanya.
"Haduh, tidak boleh! Nanti saja lihatnya kalau sudah selesai."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian. Kamu mau ada apa-apa sama pernikahanmu?" potong Ellea cepat, berharap bocah satu ini mau mendengarkan ucapannya.
Ghara mencuri pandang ke arah Lily yang kini sedang dihalau oleh tubuh Ellea. Lalu melirik arloji yang ada di tangan kirinya. "Masih lama, Oma. Aku tungguin di sini aja."
"Gak boleh!" Tiba-tiba terdengar suara lain di belakang sana, dan dengan cepat tangan langsing itu menjewer telinga Ghara, yang sudah sedang mengacau.
"Aduh, Mommy, sakit!" keluh Ghara, seraya mengikuti langkah sang ibu menjauh dari kamar Lily. Melihat itu, Ellea langsung menutup pintu sambil geleng-geleng kepala, dari kakek sampai ke cucunya, kenapa tidak beres semua?
"Diam di sini, dan tunggu calon istrimu selesai berdandan! Kalau kamu mengacau, jangan salahkan Mommy dan Daddy kalau pernikahan ini batal!" ancam Arabella, setelah berhasil mendudukkan sang putra di kursi pelaminan yang didekor ala kadarnya.
Lantas setelah itu, Arabella kembali sibuk menyiapkan pesta. Sementara Ghara langsung menghembuskan nafasnya. "Huh, lumayan udah liat buah naga sama biji boba."
***
Udah 2 hari ini ngothor kurang enak body, minta doanya ya biar sehat terus. Maaf, kalo updatenya kurang maksimal, dan buat yang Hidden Mommy, itu genrenya agak berat ya, harus sabar😘🙏
__ADS_1