Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 36. Bukan Buat Masalah


__ADS_3

Diamond Cafetaria, ruang VVIP.


Alessandro meraih gelas berisi air soda, lalu menyesapnya sedikit. Kini dia sedang bersama kedua sahabatnya, orang yang selama ini menemani dirinya dalam suka dan duka.


Ada sunggingan senyum di bibir pria paruh baya itu ketika mengingat Ghara yang baru saja memutuskan pertunangan dengan Keysha.


Bahkan berhasil membuka kedok wanita itu.


"Anak gue udah bisa nyelesain masalah sendiri, Bob, Jer, demi apa coba?" kata Alessandro tiba-tiba. Membuat Jerry yang tengah merokok, jadi menoleh.


"Demi bisa kawin lah. Lagian aneh-aneh aja keluarga elu mah, udah tahu di luar banyak cewek cakep, tapi maunya yang tinggal satu atep. Untung si Gerry kagak demen sama si Minnie, bisa stress gue," timpal Jerry sambil menggerutu.


Namun, karena itu dia mendapat toyoran dari Boby. "Nih buaya sama anaknya masih normal, Anjjir. Kalo Si Gerry suka sama Minnie baru itu namanya aneh. Bocah kelainan!"


"Yeh, kan si Minnie demennya sama anak elu!"


"Iyalah secara anak gue ngewarisin ketampanan bapaknya. Cewek mana yang kagak klepek-klepek?" ujar Boby dengan gaya sombongnya. Membuat Gerry jadi mendengus, sebab yang ia tahu Edo lah yang mengejar-ngejar anaknya.


"Orang anak elu yang ngejar-ngejar si Minnie. Kayaknya sih tuh bocah kena pelet, makanya mau."


"Sembarangan! Anak elu tuh yang suka nyosor-nyosor duluan," sentak Boby tak terima.


"Pala lu bau menyan! Anak gue anggun begitu kayak emaknya. Mana ada nyosor-nyosor duluan kayak soang. Yang ada anak elu suka ngajarin yang aneh-aneh, makanya tuh bocah kebelet kawin! Masa cipookan depan rumah, ajaran elu ya?"


Boby langsung menganga, dia menggulung lengan kemejanya seolah menantang Jerry.


"Ngomong apa lu barusan?!"


"Gue ngomong fakta!"


"Si Anjingg! Berantem aja yok!"


"Yeh siapa takut?!"

__ADS_1


Jerry mengusak rokoknya di dalam asbak, menerima tantangan Boby. Dia menatap tak kalah sengit, membuat Alessandro memutar bola matanya, merasa jengah.


"Maju lu sini!" sentak Boby dengan tatapan tajam. Sementara Jerry sudah mengambil ancang-ancang.


Alessandro geleng-geleng kepala, bukannya memberi solusi kepadanya tentang masalah Lily dan Ghara. Kedua sahabatnya malah menciptakan masalah.


"Maju lu sini, Curut!"


"Anjingg lu bedua lagi pada ngapain sih? Udah pada tua bukannya tobat malah adu bacott mulu!" sambar Alessandro, ketika mendengar Boby kembali berteriak.


"Dia duluan, Al!" kata Boby sambil menunjuk Jerry. Seperti bocah balita yang mengadu pada sang ibu, tentang kenakalan temannya.


"Anjirrr, elu yang ngatain anak gue duluan!"


"Elu, Bege!"


"Elu, Blok!"


Jerry dan Boby terdiam, tetapi mereka masih saling memberi tatapan penuh permusuhan.


"Udah duduk lu bedua! Jangan sampe gue doain bisulan!" sentak Alessandro, sambil menatap kedua sahabatnya secara bergantian. "Gue ngajak elu berdua ke sini itu buat mecahin masalah. Bukan buat masalah!"


Tak ada yang bersuara.


"Lu ada masalah apalagi emangnya? Kan si Ghara udah berhasil mutusin tunangannya," tanya Jerry lebih dulu. Sementara Boby masih mengatur nafas.


"Ya elu berdua tahulah tentang anak gue, yang atu kebelet kawin, yang atu polosnya gak ada tanding. Nah, gue takut kalo dibiarin lama-lama, si Ghara maen trabas-trabas aja. Tapi kalo langsung gue kawinin, takutnya anak perawan gue dikira orang ketiga," jelas Alessandro menyuarakan kebimbangannya.


Ketiga pria paruh baya itu terdiam, dengan pikiran masing-masing. Hingga tak berapa lama kemudian, Boby kembali buka suara. "Kayak elu sama Ara aja sih, Al. Sembunyi-sembunyi gitu."


"Terus diumumin pas Si Lily bunting?"


"Anak elu suruh tahan dulu buat ngasih cucu, pake pengaman."

__ADS_1


"Lu gak inget gue sama Ara kebobolan?"


Boby menghela nafas panjang. "Ya seenggaknya ada jeda waktu dulu gitu, Al. Kalo saran dari gue sih itu, selebihnya keputusan ada di elu sama Ara. Lu rembukin lah tuh berdua."


"Lu gimana, Jer?" tanya Alessandro sambil melirik.


"Ya, gue sih ikut Boby aja. Gak ada pilihan lain yang lebih masuk akal soalnya. Lagian si Lily sama si Ghara sebelumnya udah pernah sawadikap 'kan?!"


Alessandro manggut-manggut. 


"Si Ghara sih bilangnya gitu."


"Ya udah mau gimana lagi, Al? Ditahan pun percuma, gue yakin Ghara gak bakal lepasin si Lily gitu aja."


Alessandro membenarkan hal itu, sebab dia paham betul bagaimana sifat sang putra. Pulang dari perusahaan, dia harus berbicara dengan Arabella, agar mereka dapat memberikan solusi terbaik untuk Lily dan Ghara.


***


Malam tiba.


Selesai makan malam, satu keluarga itu tak lekas beranjak dari tempat duduk masing-masing. Karena Alessandro ingin berbicara serius.


"Daddy mau ngomong apa?" tanya Ghara, setelah menandaskan air putih yang ada di meja.


"Ini soal kalian berdua," jawab Alessandro, yang membuat Lily langsung menundukkan kepala. Dia sangat malu, karena tadi pagi kelakuan mesyumnya diketahui oleh sang ibu.


Berbeda dengan Ghara yang senantiasa memasang wajah tanpa dosa. Pria itu tersenyum sumringah, karena sang ayah pasti sudah membuka kesempatan hubungan antara dia dan Lily. "Kenapa sama kita berdua, Dad? Mau dikawinin yah?"


Semua orang langsung mendelik, tak terkecuali Lily.


***


Ngebet banget, Bang🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2