
"HEI, BELUM SAH!" teriak semua orang ketika melihat Ghara tiba-tiba mencium bibir calon istrinya. Padahal acara janji suci belum dilaksanakan.
"Simulasi biar gak deg-degan," jawab Ghara membuat semua orang menganga.
Seperti biasa pria itu akan memasang wajah tanpa dosa. Sementara di sampingnya Lily sudah gelagapan dengan wajah yang terasa panas, sumpah demi apapun dia sangat malu, sehingga yang ia lakukan hanyalah menundukkan kepala.
"Otaknya konslet tuh bocah, bukannya ngurangin deg-degan, malah tambah bikin sawan," cibir Gerry, yakin jika Lily tidak akan pernah bisa tenang.
Mendengar itu, Edo pun terkekeh-kekeh. Baru kali ini dia melihat acara pernikahan, malah jadi seperti stand up komedi.
"Liatin aja, entar abis dari pelaminan kita ceburin ke kolam, biar otaknya adem, kagak macem-macem!" sambar Edo dengan otak yang mulai menyusun rencana.
Beberapa saat kemudian.
Di depan sana, jantung Lily berdebar dengan kencang diiringi aliran darah yang terasa sangat cepat, ketika suasana mulai hening. Hanya ada satu suara yang Lily dengar dengan jelas, yaitu suara Ghara yang tengah mengucapkan kalimat janji suci untuknya.
Dan riuh kata sah yang bergema, membuat Lily kembali menangis saat itu juga. Dia memejamkan mata, dengan perasaan yang tidak karuan, tetapi detik selanjutnya, ada sebuah genggaman yang membuatnya terpaku.
"Lily, Lily-nya Ghara," panggil pria yang ada di sampingnya dengan mesra, membuat Lily menoleh dan berhasil melihat senyum Ghara yang tampak sangat tulus.
Semuanya benar-benar terasa aneh. Karena sampai detik ini, Lily masih tidak percaya bahwa dia sudah menikah dengan kakak angkatnya.
__ADS_1
Ghara mengambil cincin di atas meja, kemudian menyematkannya di jari manis sang istri. Sedangkan Lily tak bisa berbuat apa-apa, selain hanya bergeming.
"Kenapa nangis? Jelek tahu," ledek Ghara seraya menghapus air mata di pipi Lily dengan kedua ibu jarinya. Dan kali ini kecupan Ghara berikan di kening gadis cantik itu.
Terasa dalam dan lama, membuat hati Lily berubah menjadi hangat.
Lalu setelahnya Ghara mencondongkan wajah ke telinga Lily dan berbisik. "Gue gak bisa janji buat bahagiain elu, Li. Tapi lu harus tahu gue bakal berusaha sekuat tenaga, biar elu bertahan di sisi gue. Tanpa ada air mata! Catet, kalaupun ada, gue pastiin itu air mata bahagia."
Duar!
Jantung Lily terasa ingin meledak, tetapi yang bisa ia lakukan hanyalah menutup mata, ketika Ghara mencengkram dagunya, dan kembali menyatukan bibir mereka berdua.
***
"Sayang, udah gak perlu ditangisin, bentar lagi juga dia buat sakit kepala lagi," ucap Alessandro menenangkan istrinya. Dia merangkul bahu mungil Arabella, sambil mengusap-usap.
"Tapi tetep aja gitu-gitu juga dia anak aku, Dad. Aku gak nyangka bisa dampingin dia sampe di pelaminan. Hiks, bentar lagi aku jadi nenek-nenek." Suara tangis Arabella semakin keras, membuat Alessandro beralih memeluk wanita berusia 43 tahun itu.
"Walaupun udah nenek-nenek, aku bakalan tetep cinta, Ra," ujar Alessandro sambil mengecup kepala Arabella.
Akan tetapi hal tersebut tak lantas membuat wanita itu senang, sebab dia malah memukul dada Alessandro.
__ADS_1
"Haruslah, kalo gak aku putusin kepala si Jony!" sentak Arabella dengan tatapan yang mengancam.
"Iya-iya, Sayang. Kok berubah jadi kucing garong gini sih?"
"Biar kamu gak nakal di luar sana!"
"Gimana aku bisa nakal, Ra? Kalo tiap malem full time maenan balon air sambil dijejelin martabak mini sama kamu?"
Mendengar itu, Arabella langsung terdiam, karena dia merasa tersipu. Hingga banyak sekali semburat merah yang keluar dari pipinya.
"Udah mending kita sama-sama berdoa semoga Ghara bisa berubah, dan makin tanggung jawab sama rumah tangganya."
Arabella menganggukkan kepala, tanda setuju.
Alessandro meregangkan pelukannya lalu dengan perlahan dia mengusap sisa air mata di pipi Arabella. "Kalo gitu nanti malem kita buat baby lagi ya, kali ini Daddy baca doa, biar pas jadi kelakuannya gak mirip sama Ghara."
"Ish, Daddy!"
***
Serah elu lah, Dad🤣
__ADS_1