Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 62. Minta Solusi


__ADS_3

Pagi datang.


Ghara masih tertidur pulas dengan bertelanjang dada, karena semalam dia begadang. Banyak pikiran, membuat dia tidak dapat memejamkan mata, alhasil pukul 3 dini hari dia baru bisa terlelap.


Sementara Lily terbangun lebih dulu, sebelum masuk ke dalam kamar mandi, gadis itu terdiam sambil menatap wajah suaminya.


Ada sesuatu yang berdesir dalam dada Lily. Hingga tangannya bergerak untuk mengusap pipi Ghara dengan lembut. Dia tersenyum tipis, meskipun entah perasaan apa yang tengah menghinggapi hatinya sekarang.


Bahkan tanpa sadar Lily memberikan kecupan selamat pagi di kening pria itu. Seseorang yang kerap bersikap menyebalkan, tetapi selalu menjadikan dia ratu.


Tanpa apapun lagi Lily segera masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Ghara pelan-pelan membuka mata, dia semakin merasa aneh dengan tingkah Lily.


Semalam gadis itu menghindarinya, tetapi pagi ini Lily justru mencium keningnya diam-diam.


"Keknya beneran kesambet tuh bocah!" batin Ghara, lalu kembali menutup matanya rapat-rapat. Masih ada waktu beberapa menit untuk mengistirahatkan tubuhnya, sebelum menghadapi setumpuk pekerjaan.


Seperti biasa, Ghara akan mengantarkan Lily ke kampus terlebih dahulu. Ketika di mobil, Ghara mencoba untuk mengajak sang istri bicara. "Yang, nanti malem gue mau ngomong sama Daddy and Mommy."


Lily melirik sekilas. "Ngomong soal apa?"


Sebelum menjawab Ghara meraih tangan Lily, lalu mengecupnya. "Soal pernikahan kita. Gue mau minta sama Daddy biar diumumin secepatnya. Soalnya gue gak mau pas elu udah bunting, kita baru adain pesta. Nanti elu sama anak gue kecapekan."


Semua perhatian Ghara benar-benar melumpuhkan hati Lily. Namun, ego gadis itu masih tetap tinggi hingga Ghara tak mampu menembusnya dengan mudah.


"Aku ikut Kakak aja," ujar Lily seolah tak berantusias. Sumpah demi apapun, pikirannya sekarang sedang campur aduk, jadi dia tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan.


Mendengar itu, Ghara hanya bisa menghela nafas panjang, dan dia bertekad untuk mencari tahu, ada apa masalah apa sebenarnya dengan Lily.


***


Menjelang makan siang, Ghara dan Edo meluncur ke tempat biasa mereka berkumpul dengan Gerry. Karena dia ingin meminta bantuan sahabatnya, mengenai masalah yang tengah menimpa sang istri.


"Elu jangan terlalu cecar dia buat cerita, Ghar. Yang ada Lily bakal semakin tertekan," ujar Edo sambil melirik ke belakang, di mana Ghara tengah melamun sambil menggigit ujung kukunya.

__ADS_1


"Ck, kagak, Do! Dari kemaren gue ngalah terus. Tapi dia tetep gak mau cerita, alhasil Jeky dianggurin," jawab Ghara, masih sempat-sempatnya membahas ekor buayanya.


"Si anjiing, lagi kayak gini masih aja mikirin kesejahteraan kenty," cetus Edo, dengan menunjuk raut sinis.


"Itu yang utama, Do. Karena nyenengin gue itu gampang, cuma ada 70 cara, 1 bikin perut gue kenyang, sisanya 69!" balas Ghara dengan gaya tengilnya. Membuat Edo kehabisan kata-kata.


"Anak buaya bahasanya ada-ada aja. Di mana-mana 69 terus yang dipake, kagak perusahaan, kagak ruangan, sampe gaya sawadikap skidipapap aja senengnya yang kayak begitu!" gerutu Edo, memilih untuk berbicara sendiri, dari pada harus menimpali ucapan Ghara, yang sudah kelewat batas mesyumnya.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit. Akhirnya mereka sampai, keduanya langsung menuju tempat favorit, yaitu ruangan VVIP dengan nuansa terbuka.


Di sana Gerry sudah datang lebih dulu, karena jarak showroomnya memang lebih dekat.


"Wuih, Bro!" seru Gerry seraya bangkit dan mengulurkan tangan. Namun, bukannya menimpali sambutan sang sahabat, Ghara lebih memilih untuk segera melandaskan pantatnya ke sofa.


"Dih, kesambet apa lu, Ghar? Tiba-tiba jadi judes begitu kek anak perawan?" tanya Gerry dengan kening yang mengernyit.


"Biasa, kena tulahnya pak Ale, jadi suka ambek-ambekkan!" balas Edo sambil bisik-bisik.


"Berisik lu bedua, Anjiing. Gue ke sini mau minta solusi, bukan dighibahin," timpal Ghara seraya menaruh kedua tangannya untuk dijadikan bantalan.


"Gue udah pesen kayak biasa," ujar Gerry, ketika Edo ingin memanggil pelayan. Dan kini tatapannya beralih pada Ghara yang sedang uring-uringan. "Elu kenapa? Lupa pake kon&om lu yah?" Tebaknya.


"Itu salah satunya," jawab Ghara santai, yang membuat Edo mendelik.


"Bangkee! Terus kon&om sebanyak itu lu buat apaan, Ghar? Mau lu jadiin pajangan?"


"Kalo lu mau ambil aja! Gue udah gak butuh, enak rasa original."


Mendengar itu, kini giliran Gerry yang langsung melayangkan tatapan tajam ke arah Edo. "Macem-macem gue iket pala kenty lu!"


"Apaan sih, Ger! Kayak gue main aneh-aneh aja sama Minnie."


"Gue cuma ingetin! Awas aja kalo sampe ngajak si Minnie staycation di hotel-hotel pinggir jalan. Keturunan babii pun gue berantas!"

__ADS_1


Plak!


Edo langsung menggeplak mulut Gerry yang suka sekali menyerocos.


"Congor lu dijaga, Setan! Seenak jidat ngatain keluarga gue."


"Lah lu kan—"


"Heh, yang punya masalah itu gue. Ngapa jadi elu bedua sih yang ribut?" seru Ghara dengan tatapan seram. Membuat Gerry dan Edo langsung terdiam.


"Ya udah ceritalah, Ghar. Masalah lu apaan? Keknya kali ini serius banget deh," ujar Edo, memulai pembicaraan.


Ghara menghela nafas panjang.


"Gak lama ini Lily itu kenal sama ibu-ibu, Do. Gue belum tahu wajahnya kayak apa, tapi si Lily ini berasa kayak udah deket banget. Sampe kemaren dia diajak maen ke rumah ibu itu. Gue tungguin tuh, karena gue takut si Lily kenapa-kenapa. Eh pas pulang, tuh bocah langsung jadi es kutub. Gue dicuekin, Anjiing. Bahkan sampe malem, dia gak mau cerita apapun sama gue. Dan tadi pagi, gue semakin ngerasa aneh, karena tiba-tiba dia cium kening gue diem-diem. Menurut lu bedua gimana?" terang Ghara dengan gamblang sambil menatap Edo dan Gerry secara bergantian.


Kedua orang itu terdiam, masih mencerna cerita Ghara.


"Kata gue sih elu coba selidikin ibu-ibu yang deket sama Lily. Perasaan gue, kalo orang baru kenal gak mungkin bisa sepercaya itu, kecuali ada sesuatu!" ujar Gerry.


"Maksudnya?"


"Ghar, lu ingat 'kan Lily siapa? Dia itu bukan anak nyokap sama bokap lu. Dan elu gak tahu orang tua dia ada di mana, bisa aja, kalo ibu-ibu itu kerabat atau bahkan ibunya Lily. Nothing impossible!"


"Gue setuju sih sama Gerry!" sambar Edo sambil menunjuk sang sahabat yang duduk di sampingnya.


Ghara pun manggut-manggut.


"Oh iya, lu coba diskusiin juga sama nyokap dan bokap lu. Biar cepet kelar masalahnya. Gak ada salahnya kan mereka bantu?" sambung Edo, yang membuat pikiran Ghara semakin terbuka.


"Oke, gue hubungin anak buah gue dulu. Gue pengen tahu, siapa ibu-ibu itu, dan apa yang udah dia sampein ke Lily."


"Good job, Bro!"

__ADS_1


***


__ADS_2