
Andreas telah melihat berita pernikahan Lily dan Ghara di sosial media miliknya. Karena dia memang memutuskan untuk tidak datang. Meskipun undangan online telah sampai di tangannya.
Dan sisi lain Andreas juga sudah mendapatkan tes DNA antara dia dan Lily. Dia sangat deg-degan saat ingin membuka hasil tersebut.
Duduk di kursi kebesarannya, Andreas terlihat sangat gusar. "Aku berharap, kali ini keberuntungan berpihak padaku."
Andreas memejamkan matanya saat ujung kertas itu sudah terlihat, tangannya terlihat gemetar dengan keringat dingin. Dia tidak tahu kenapa reaksi tubuhnya begitu berlebihan seperti ini.
Namun, bila ia terus tunda, maka dia akan dibuat mati penasaran. Akhirnya dia menyiapkan hati yang lapang, mau seperti apapun hasilnya dia harus terima, karena itu semua akibat dari perbuatannya.
Andreas membaca dengan jeli, hingga pandangannya berhenti pada kata positif. Mulut dia reflek menganga. Karena ternyata dia benar-benar menghamili wanita yang telah dia permainkan, hanya karena alasan bosan pada istrinya.
"Astagaaa!" Andreas langsung menangkup kedua sisi kepalanya. Dia menunduk, karena merasa menyesal. "Kenapa dia tidak bicara padaku lebih dulu? Kenapa baru sekarang, kenapa dia datang ketika aku merasa bahwa hidupku telah tenang." Gerutu pria paruh baya itu seraya memukul-mukul kepalanya.
Harus bagaimana dia menjelaskan ini semua pada Sonia—istrinya. Dia sudah mengaku salah dan mulai memperbaiki diri, tetapi ternyata Tuhan berkehendak lain, karena dia belum sepenuhnya berterus terang pada Sonia, sehingga aibnya benar-benar tertutup rapat, seolah tak ada yang tahu.
"Tapi kalau aku tidak memberitahu dia, yang ada salah paham akan semakin panjang. Bisa saja wanita itu tiba-tiba datang, lalu mengatakan semuanya."
Andreas menjambak rambutnya sendiri, karena merasa sangat frustasi. Belum lagi reaksi Keysha dan keluarga Alessandro. Hah, sumpah demi apapun dia tidak bisa untuk sekedar membayangkannya saja.
***
Andreas meminta asistennya untuk mengantar dia ke acara pernikahan Ghara dan Lily. Hari ini gedung yang menjadi sejarah, dan saksi cinta di antara muda-mudi itu terlihat sangat ramai.
Namun, sedikitpun Andreas tidak berani untuk menampakkan diri, apalagi mendekati Lily.
__ADS_1
Dia tidak mau kehadirannya mengacaukan acara pesta pernikahan putrinya. Karena ia tahu Ghara dan Alessandro tidak akan diam saja.
"Jalan!" pinta Andreas setelah menatap lama pada pintu utama hotel. Kepergiannya membawa doa, harapan agar pernikahan Lily dan Ghara selalu dilimpahi kebahagiaan.
Dia meminta asistennya untuk pulang ke rumah, karena dia ingin membicarakan masa lalunya pada Sonia. Dia berharap Sonia bisa memaafkan segala kesalahan dan kekhilafannya.
Karena mengingat usia dia sudah tidak muda lagi, yang dia butuhkan sekarang hanyalah keluarga yang damai dan sentosa.
Tak butuh waktu lama, dia sudah sampai di rumah. Sonia yang tidak biasanya melihat sang suami pulang lebih awal, merasa sangat heran. "Sayang, tumben kamu pulang jam segini. Ada yang ketinggalan?"
Andreas menatap Sonia sendu, dia menggelengkan kepala. "Tidak, Sayang. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Akhirnya wanita itu pun mengekor pada sang suami yang mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar. Sedangkan Keysha ada di kamar di lantai dua, setelah menikah dia dilarang untuk bekerja. Jadi, kesehariannya hanya bersantai di rumah.
Andreas dan Sonia duduk di sofa. Mereka saling berhadapan.
Namun, bukannya menjawab, Andreas justru menundukkan kepalanya. Tubuhnya lunglai hingga terjatuh di hadapan sang istri. "Maafkan aku, Sonia."
Wanita itu pun merasa terperangah karena tak mengerti mengapa suaminya bersikap seperti ini. "Apa maksudmu?"
"Aku benar-benar minta maaf karena pernah mengkhianatimu, Sayang. Aku menyesal, aku sudah bertobat," ujar Andres sambil menangis, dan hal tersebut membuat jantung Sonia seperti berhenti berdetak.
Dia meneguk ludahnya kasar dengan mata yang tiba-tiba menatap kosong. Namun, dia bukan tidak tahu kelakuan suaminya di luar sana. Ya, selama ini dia tahu semuanya, tetapi dia tetap diam. Karena tak mau adanya pertengkaran, apalagi sampai perpisahan.
Mengingat Keysha juga sangat dekat dengan ayahnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sonia …." Lirih Andreas.
"Aku sudah tahu semuanya."
Deg!
Andreas langsung mengangkat kepala. "Maksudmu?"
"Yah, sebelumnya aku memang sudah tahu bagaimana kamu di luar sana, tapi aku memilih untuk tidak peduli, karena aku memikirkan nasib Keysha. Aku hanya bisa berdoa, meminta agar kamu berubah. Dan Tuhan mengabulkan semua permohonanku. Tanpa kamu bercerita, aku sudah tahu semuanya, Dad," jelas Sonia dengan bibir bergetar, yang membuat Andreas semakin tak punya muka.
"Sonia, aku benar-benar minta maaf. Aku sudah berubah, Son. Tapi ada sesuatu yang membuatku tidak bisa mengubur masa laluku sepenuhnya," ujar Andreas.
Melihat Sonia yang menangis, sebenarnya dia tidak tega, namun, dia harus menceritakan semuanya. Karena walau bagaimanapun Lily adalah darah dagingnya, gadis itu tidak bersalah.
"Apa?" tanya Sonia dengan air mata yang meluncur pelan. Rasa sakit yang sudah dipendam, seolah kembali berhamburan. Rasanya sangat sesak, mengingat pengkhianatan Andreas itu.
Pelan, Andreas mengambil hasil tes DNA dari saku jasnya, kemudian menyerahkannya pada Sonia.
Sonia meraih amplop tersebut dengan tangan yang gemetar. Meskipun tidak tahu apa maksud Andreas, dia tetap patuh ketika dia diminta untuk membukanya.
Dan ketika kertas itu terbuka lebar. Sonia tergugu. "Ini?"
"Ya, Son. Lily, dia anakku dengan wanita itu."
Pecah, tangis Sonia.
__ADS_1
***
Jangan lupa komen oey, dah mulai sepi nih🥱🥱🥱