
Ghara tak berniat untuk melepaskan Lily sedikitpun. Namun, kali ini ciuman Ghara terasa lebih lembut, hingga menciptakan geleyar kenikmatan yang memburu di setiap aliran darah Lily.
Gadis itu tidak tahu, jika dia sedang dijebak oleh permainan suaminya. Sebab ketika hasrat sudah membara, maka mereka akan melupakan dunia.
Tak peduli dengan rasa sakit yang akan diterima, mereka akan jatuh dan terlena pada gairah yang meminta dilepaskan. Yah, tentunya pada pemiliknya.
"Luapin semuanya, Li. Gak usah ditahan," ucap Ghara saat mendengar suara desaahan Lily yang tertahan. Dia semakin mengunci tubuh mungil itu di depan meja rias, sementara bibirnya berlarian di leher Lily.
Rasa lembut dan juga basah yang menyapa kulitnya membuat Lily menganga. Hingga dia ikut hanyut, dan menangkup kedua sisi wajah Ghara.
"Ka…ak," panggil Lily diiringi lenguhan manja. Membuat Ghara semakin tidak bisa mengontrol dirinya. Tangan pria itu merayap ke dalam baju yang Lily kenakan.
Dan dia bisa merasakan bahwa Lily tidak memakai dalamann apapun. Sebuah kesempatan untuk jarinya, bisa menyentuh lembah basah yang ada di antara pangkal paha istrinya.
"Kak, jangan!" seru Lily saat merasakan jemari Ghara yang semakin merayap. Karena dia semakin dibuat menggelepar dengan rasa yang dia terima.
Namun, Ghara seolah tuli hingga akhirnya dia berhasil menyentuh benda yang membuat ekor buayanya langsung menegang seketika. Sebuah rangsangan yang teramat kuat.
"Lu udah basah, Li," bisik Ghara tepat di telinga Lily. Hingga gadis itu bisa merasakan nafas suaminya.
Wajah Lily terlihat merah dan panas. Dia tidak menjawab karena detik selanjutnya, Ghara kembali meraup bibirnya, sementara kedua tangan pria itu mulai bermain.
Lily merasakan dada mungilnya dipijat dengan sedikit keras, sementara di bawah sana jari Ghara tak berhenti bergerak lincah.
"Kakhhh," panggil Lily dengan raut wajahnya yang merona. Sangat malu untuk bersitatap dengan netra Ghara.
"Nikmatin aja, Li. Lu udah horrny banget."
"Emangnya harus gini yah? Katanya cuma perlu pegang dan mainkan?"
"Gue mau kasih elu contoh dulu. Nanti gantian," ucap Ghara penuh alibi, padahal dia ingin menyiapkan tubuh Lily agar siap untuk dia masuki. Dia yakin, sebentar lagi Lily tidak akan tahan dengan semua sentuhannya. Dan berakhir meminta lebih dulu.
__ADS_1
Dan dengan polosnya Lily percaya. Hingga dia membiarkan Ghara melucuti pakaiannya. Ya, pakaian yang ia pakai beberapa saat lalu, kini kembali teronggok di atas lantai.
Namun, karena posisi mereka kurang nyaman. Ghara mengangkat tubuh Lily, hingga kulit tubuh mereka benar-benar bersentuhan.
Begitu Ghara merebahkan tubuh Lily di atas ranjang, Lily langsung menunduk. Akan tetapi Ghara menahannya sebuah perintah. "Liat gue!"
"Liat gue, Li. Lu gak perlu malu, karena kita bakal terbiasa kayak gini," sambung Ghara, karena Lily tak mau patuh.
"Tapi—"
"Gak ada tapi, elu udah jadi istri gue. Dan gue udah jadi suami elu. Kita gak bakal bisa kalo gak terbiasa, dan kita gak bakal terbiasa kalo awalnya kita gak paksa buat coba! Please, dengerin gue, gue tulus sayang sama elu, gue beneran cinta sama elu. Gue ngelakuin ini semua, bukan semata-mata karena gue pengen tidurin elu, Li," tukas Ghara, memberi penjelasan pada istri kecilnya. Berharap Lily mengerti bahwa satu wanita yang mampu ia cintai setelah Arabella, hanyalah dirinya.
"Kakak gak bakal capek nungguin aku?"
Ghara menggeleng cepat. "Buktinya selama ini gue kuat."
"Kakak gak bakal risih sama sikap kekanakan aku?"
"Tapi kalo ujungnya tetep gak bisa?"
"Berarti dari awal lu emang gak kasih kesempatan buat gue masuk ke hati elu!"
Keduanya saling tatap. Dan Lily bisa merasakan perasaan tulus itu. Dengan berani dia mengalungkan tangan di leher Ghara, kemudian mengecup pria tampan itu.
"Ya udah ayo aku bantu. Cuma pegang dan mainkan 'kan?"
Senyum Ghara langsung mengembang sempurna. "Yah, pegang pake kue pukis, dan mainkan di sana." Jawab Ghara, seraya mendorong pinggulnya. Dia pikir dengan sekali tancap, bisa langsung digas, tetapi ternyata tidak. Lily tersentak kaget, sementara ekor buayanya masih berada di tempat yang sama.
"Kak, sakit!" teriak Lily. Membuat Ghara meneguk ludah.
"Bentar, Li. Kayaknya ini ada yang salah."
__ADS_1
Kening Lily mengerut. "Apa? Tadi bilangnya pake tangan!"
"Berubah pikiran, Li. Kan elu juga udah mau tadi."
"Ish, dasar tukang bohong!" cetus Lily dengan mimik cemberut, tetapi dia tidak meronta-ronta ketika Ghara berusaha untuk menembus dirinya.
Sampai beberapa saat Ghara belum berhasil juga, sementara Lily sudah kehabisan tenaga. Dia terengah-engah karena sedari tadi terus menahan sakit. "Aku bilang juga apa? Jeky gak cocok sama punyaku yang imut dan menggemaskan. Hikss, Daddy, Mommy, sakitt!"
Dan Lily malah menangis keras, membuat Ghara kalang kabut.
"Sabar, Li, bentar lagi ini bisa."
Lily tak mau mendengarkan apapun dari mulut Ghara. Dia hanya mencengkram kedua bahu pria itu saat Ghara kembali mendorong pinggulnya.
Namun, lagi-lagi Ghara tak berhasil dan membuat dia merasa frustasi. Dia merasa sedang dikutuk oleh dewa mesyum hingga terjadi banyak drama di malam pertamanya.
"Kak, udah! Aku nyerah," ucap Lily saat merasakan tekanan yang membuat seluruh tubuhnya menegang.
"Sabar, Sayang."
Ghara kembali berusaha keras. Dia mencengkram sprei yang ada di kedua sisi kepala Lily. Dan dengan dorongan lebih, akhirnya dia berhasil membobol pertahanan Lily.
Hah!
Setetes air bening keluar dari sudut mata Lily, bersama dengan statusnya yang telah berubah menjadi mantan perawan.
Akhirnya, si Jeky bisa atraksi juga. Eh tapi, sarung bantalnya?
***
Dah rasa original aja, Bang🤣🤣🤣
__ADS_1