Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 60. Tidak Ingin Percaya


__ADS_3

"Suami? Memangnya kamu sudah punya suami?" tanya Carissa dengan dahi yang dipenuhi tanda tanya, karena dia merasa sangat penasaran. Apa jangan-jangan tebakannya selama ini benar?


Lily langsung tergagap karena dia keceplosan, tetapi mau mengelak pun dia rasa percuma. Carissa tidak akan mungkin percaya dengan kebohongannya.


"Ah iya, Bu. Aku sudah punya suami."


Mendengar itu, Carissa sangat yakin bahwa putra Alessandro lah yang menjadi suami Lily. Karena selama dia mengamati rumah keluarga Barrack, tidak ada pria lain yang keluar masuk, kecuali Ghara dan ayahnya.


Jadi, waktu itu Ghara membeli bunga mawar untuk Lily. Cih, ini kesempatan bagus untuk mengakui siapa Lily sebenarnya. Dengan begitu, balas dendamnya akan lebih sempurna. Dia bisa sekaligus menghancurkan keluarga Alessandro.


"Kalau begitu ayo masuk, ada yang ingin Ibu sampaikan padamu," ujar Carissa seraya menggandeng tangan Lily.


"Apa itu, Bu?"


"Ibu sudah janji kan ingin memperlihatkan foto-foto anak Ibu. Semuanya ada di dalam."


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah. Lily duduk di ruang tamu, sementara Carissa sedang membuatkan minuman untuk putrinya. Dia menyeringai tipis, sudah membayangkan bagaimana terpukulnya Alessandro saat tahu, bahwa bayi yang diurusnya, adalah anak dari wanita yang paling dia benci.


"Aku sudah menantikan itu semua 20 tahun, Al. Lihat saja, kamu akan sama hancurnya dengan aku!" gumam Carissa, kemudian setelah selesai dia membawa minuman tersebut beserta camilan ke ruang tamu.


Namun, dia tak langsung duduk. Dia kembali mengambil sebuah kotak, entah berisi apa. Hanya Carissa yang tahu.


"Diminum, Sayang," ucap Carissa pada Lily yang sedang menatap sekeliling.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu." Lily mengambil satu gelas berisi orange jus, lalu menyesapnya sedikit. "Oh iya, Bu. Ada dalam dari Mommy-ku, nanti kapan-kapan katanya suruh main ke rumah."


Carissa tersenyum dan duduk di samping Lily. Tetapi bukannya menanggapi ucapan gadis itu, Carissa justru terlihat murung, hingga membuat Lily jadi bertanya-tanya.


"Ibu, kenapa?"


Mata Carissa berubah berkaca-kaca sambil menatap Lily dengan dalam. Dia meraih tangan Lily, kemudian menangis. "Ibu tidak tahu harus memulainya dari mana, Li." Ujarnya dengan bibir yang bergetar, sementara air mata wanita itu sudah berjatuhan.


Kening Lily langsung berlipat-lipat. Tak paham dengan apa yang disampaikan oleh Carissa. "Maksud, Ibu, apa?"


Tangis Carissa semakin terdengar kencang, hingga membuat Lily merasa tidak tega. Dalam pikirannya, Carissa sedang mengingat putrinya yang telah tiada, hingga tanpa segan Lily memeluk tubuh Carissa.


"Ibu, jangan sedih, di sini udah ada aku. Kalau ibu mau cerita, cerita aja, aku siap dengerin," ucap gadis itu sambil mengelus punggung ibu kandungnya. Namun, sayangnya dia belum menyadari itu.


Lily semakin tak paham.


"Bu, apapun itu, aku bakal terima. Aku siap jadi pendengar yang baik buat ibu."


Carissa menarik nafas dalam-dalam. Dia berakting seolah tak sanggup untuk menceritakan hal yang sebenarnya. Padahal dia sudah menyusun drama. "Sebenarnya—sebenarnya kamu anak Ibu, Nak. Ibu yang melahirkanmu, Ibu yang memberikan ASI kepadamu untuk pertama kali. Tapi—"


Deg.


Jantung Lily seperti lepas dari sarangnya dan waktu seolah berhenti berputar. Lily terpaku dengan kalimat yang baru saja dia dengar dari mulut Carissa. Jadi, ini jawaban kenapa dia merasa nyaman, dan tidak merasa asing dengan wanita paruh baya yang ada di pelukannya?

__ADS_1


"Bu?" panggil Lily tertahan, sementara air matanya sudah luruh. Dia tidak menyangka jika akhirnya dia bisa menemukan orang yang telah melahirkannya ke dunia.


"Maafin ibu, Li. Tapi ini semua bukan kehendak Ibu untuk tidak merawatmu. Orang yang paling ibu benci, dialah pelakunya," terang Carissa dengan menggebu. Seolah menunjukkan kebencian yang nyata.


Lily langsung mengangkat dagunya. "Siapa maksud Ibu?"


"Dia orang yang mengaku-ngaku sebagai ayah angkatmu. Padahal dia adalah ayah kamu yang sebenarnya. Dia yang telah mengambil kamu secara paksa, bahkan di saat ibu masih menyusui kamu!"


Carissa mulai memprovokasi pikiran Lily, agar gadis itu percaya pada dirinya.


Sementara Lily langsung terperangah. Bahkan pelukan mereka langsung terlepas karena dia sangat terkejut. Kalau begitu, dia dan Ghara masih saudara kandung dan seharusnya mereka tidak boleh menikah. Karena darah yang mengalir di tubuh mereka sama.


"Bu, tapi ini tidak mungkin! Aku telah menikah dengan Kak Ghara, dan dia anak Daddy, jadi tidak mungkin Daddy membiarkan aku menikah dengan Kakakku sendiri!" ujar Lily sambil menggelengkan kepalanya. Dia belum bisa percaya.


Carissa mengusap lengan atas Lily. "Li, bisa saja Ghara adalah anak orang lain. Karena kamu tidak tahu bagaimana Daddy-mu dulu. Arabella adalah wanita mandul, buktinya sampai saat ini dia tidak memiliki anak lagi."


"Tapi itu tidak mungkin, Bu!" pekik Lily tanpa sadar, karena dia terlalu shock.


Namun, Carissa segera mengeluarkan tes DNA antara dirinya dengan Lily. Lalu menunjukkan beberapa foto masa kecilnya. Termasuk ketika Alessandro menggendong Lily di depan rumah. "Kamu lihat! Ini semua sudah menjelaskan bahwa kamu anak Ibu. Dan foto-foto ini, Daddy-mu yang mengirimkannya pada Ibu. Kamu pikir, semua orang tahu mengenai hal ini? Tidak, Li! Di mata umum, kamu adalah anak Alessandro dan Arabella. Lalu bagaimana Ibu tahu? Karena ibu benar-benar ibumu."


Mendengar itu, Lily kembali menangis, dia menutup wajahnya, karena semua ini terlalu memusingkan. Sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu? Kenapa bisa semuanya muncul ketika dia sudah menikah dengan Ghara, dan mulai mencintai pria itu?


***

__ADS_1


Tahan, jangan emosi😌😌😌


__ADS_2