
Ghara pulang ketika gerimis melanda jalanan kota malam itu. Dia mengambil lembur, sebab ada beberapa kontrak iklan yang harus dia kerjakan.
Kini dia mulai bekerja dengan sungguh-sungguh, sebab dia sadar sudah ada seseorang yang harus dia nafkahi lahir dan batin. Apalagi jika tiba-tiba Lily mengandung, sudah barang tentu dia harus memiliki tabungan yang banyak.
Meskipun dia tahu Alessandro tidak akan membiarkan dia kesusahan. Namun, setidaknya dia telah membuktikan pada sang istri dan keluarganya, bahwa dia bisa mengatasi semua masalah yang terjadi baik dalam rumah tangganya, maupun perusahaan.
Sampai di tengah jalan, hujan bertambah semakin besar, membuat perjalanan Ghara jadi terhambat, karena pandangannya tertutup oleh air yang turun.
Sementara di rumah, Lily mulai merasa cemas. Dia terus mondar-mandir di dalam kamar, menanti kedatangan sang suami, dia masih merasa cukup gengsi untuk menelpon duluan, tetapi rasa yang menggumpal di dadanya akhirnya membludak.
"Argh, kenapa aku bisa cemas banget sama Kak Ghara?" gumam gadis cantik itu seraya meraih ponsel. Dia segera menghubungi suaminya, dan berharap pria itu baik-baik saja.
Ghara melirik ponsel yang tergeletak di kursi sebelah, dia meraih benda pipih itu sambil terus menyetir dengan pelan-pelan. Dia tersenyum tipis ketika melihat nama 'My Lily' di ponselnya.
Tanpa membuang waktu dia segera menerima panggilan istrinya. "Halo, kenapa, Sayang?"
Lily terdiam, mendengar suara Ghara entah kenapa dia benar-benar merasa tenang. Semua yang mengganjal di dadanya langsung luruh seketika, hingga dia menghembuskan nafas kasar.
"Yang, kenapa nelpon? Khawatir sama Daddy yah?" goda Ghara, agar Lily lekas menjawab ucapannya. Sebab dia tahu Lily sedang mengkhawatirkan dia.
Di seberang sana, Lily langsung mendelik dan tersedak ludahnya sendiri mendengar panggilan Ghara. Sial, pria itu benar-benar membuat dia merinding.
"Aaa gak apa-apa, Kak. Aku cuma mau tanya Kakak udah pulang belom? Di luar lagi ujan soalnya, kalo belum jalan mendingan neduh dulu," ujar Lily dengan sedikit terbata.
Ghara tersenyum lebar.
"Daddy udah di jalan, Mom. Bentar lagi nyampe, Mommy tenang aja," jawab Ghara, suka sekali menggoda Lily yang sedang gugup.
Lily menelan ludahnya kasar. Ada apa sih dengan Ghara, kenapa tiba-tiba memanggil dia seperti itu?
"Kamu kesurupan yah, Kak?" tanya Lily dengan kening yang mengeryit. Dan hal tersebut sukses membuat Ghara terkekeh.
"Kesurupan apa sih, Sayang? Daddy tahu Mommy lagi cemas, jadi ngawur kan ngomongnya. Udah, jangan mikir yang enggak-enggak, Daddy bentar lagi nyampe, Mommy tunggu di kamar aja yah," jelas Ghara dengan wajah sumringah.
__ADS_1
Dia seperti itu karena tahu jika Lily sudah selesai datang bulan. Itu artinya dia sudah bisa kembali membawa ekor buayanya untuk bersarang.
Apalagi suasana malam ini sangat mendukung, karena hujan deras membuat mereka bergerak untuk mencari kehangatan.
Lily yang tidak mengerti kenapa Ghara berubah jadi tidak jelas seperti itu, dia memilih untuk mematikan panggilan demi menyelamatkan detak jantungnya yang berdebar dengan keras. "Ya udah aku matiin yah."
"Iya, Mommy-nya anak-anak."
Tepat pada saat itu juga, Lily langsung menekan tanda merah berbentuk telepon di layar ponselnya. Sementara di dalam mobil, Ghara tergelak kencang.
"Gemes banget sih istri gue, jadi pengen cepet-cepet makan kue pukisnya," gumam Ghara sambil menggigit kepalan tangannya.
Mobil sedan milik Ghara melandas, membelah hujan. Hingga tak berapa lama kemudian dia sampai di rumah. Tanpa membuang waktu, Ghara langsung masuk ke kamar Lily, dan ternyata gadis itu sudah duduk di atas ranjang, menunggunya.
Senyum Ghara mengembang sempurna. Sementara Lily langsung bangkit, dan hendak melangkah untuk menyiapkan air hangat. Namun, sebelum itu Ghara lebih dulu mencekal pergelangan tangan Lily.
"Mau ke mana?"
"Aku mau siapin air hangat buat Kakak, dingin banget kan di luar."
Lily langsung dibuat melting. Diam-diam dia tersenyum, meski sangat tipis dan tak terlihat oleh Ghara.
"Tapi Kakak harus mandi, kan seharian ini Kakak kerja."
"Eum oke, tapi sebelum mandi gue boleh tanya sesuatu gak?"
Lily mengerutkan keningnya. "Apa?"
"Udah seminggu, Yang. Si bulan udah pergi 'kan?"
Jantung Lily langsung jedag-jedug tidak karuan. Dia reflek menggigit bibir dengan semburat merah yang keluar di kedua pipinya. Dia paham betul dengan kode yang diberikan oleh Ghara, tapi kenapa dia malu sekali untuk menjawabnya.
"Aku—"
__ADS_1
"Jangan bohongin gue, tadi pagi gue liat lu udah gak pake pembalut!" sela Ghara, membuat Lily mati kutu. Dia tidak bisa beralasan lagi, karena tebakan Ghara memang benar.
"Iya terus kenapa?"
"Jeky laperlah, Yang. Udah seminggu puasa dia," rengek Ghara seraya mengusakkan kepala, seperti kucing kecil yang sedang ingin dimanja.
"Tapi Kakak—"
"Mandinya abis tralala trilili deh," tawar Ghara.
Hah, Lily langsung menghela nafas panjang. Kalau sudah begini tentu dia tidak bisa membantah kemauan suaminya. Akhirnya dia pasrah, dan membiarkan Ghara bergerak di atas tubuhnya.
Malam itu, suara syahdu mereka beradu dengan suara hujan di luar sana. Hingga membuat tubuh mereka bermandikan peluh. Dalam penyatuan kedua mereka, Lily tidak merasakan kesakitan seperti saat pertama, sehingga membuat dia lebih menikmatinya.
"Ahh, Kak …."
Dan semua kenikmatan itu membuat Ghara terlena. Dia lupa kalau dia tidak boleh menyirami rahim Lily dengan benihnya.
"Astaga, Yang!" sentak Ghara ketika mereka baru saja mendapatkan pelepasan. Lily sedang merasakan sesuatu yang luar biasa, hingga tak memedulikan Ghara yang terlihat kalang kabut.
"Yang, gimana ini?" tanya Ghara lagi, ingin mencabut diri, tetapi sudah telanjur basah, sebab pelepasannya nyaris sempurna.
"Gimana apanya, Kak?"
"Aku lupa."
"Lupa apa?"
"Aku kan gak pake sarung bantal, eh gak keluar di luar."
Lily mendelik.
"APA?! KOK BISA?"
__ADS_1
***
Makanya eling, Bang 🤣