
Lily langsung keluar dari kamar kedua orang tuanya dan menutup pintu dengan keras. Nafas gadis itu memburu dengan ludah yang terasa tercekat, hingga dia menenangkan diri terlebih dahulu dengan bersandar di dinding.
"Astaga, aku liat apa tadi? Ya ampun, kenapa bisa? Otak, please! Jangan mikir yang enggak-enggak!" gumam Lily, masih tampak jelas dalam ingatannya posisi Alessandro dan Arabella saat ia datang.
"Untung gak sampe liat itu. Ya ampun, Lily! Jangan, jangan diinget-inget!"
Gadis itu merasa frustasi sendiri hingga dia menjambak rambutnya. Lalu dia memutuskan untuk kembali ke bawah.
Namun, baru saja dia hendak melangkah, dia kembali bertemu dengan Ghara yang sudah berdiri di ujung tangga.
Wajah Lily tampak sangat merah, dengan rasa panas yang menggeleyar. Akibat melihat adegan tak senonoh antara ayah dan ibunya.
Maksud hati ingin lari dari terkaman cucu buaya, dia malah mendapatkan pelajaran dari buaya lainnya.
"Li, lu abis ngapain?!" tanya Ghara dengan kening yang mengernyit. Sambil memperhatikan wajah Lily yang tampak tidak biasa. Ghara melirik pintu kamar kedua orang tuanya yang tertutup rapat, seperti ada sesuatu yang baru saja terjadi, sebab dia pun mendengar teriakan-teriakan itu.
"Gak, aku—aku gak ngapa-ngapain," jawab Lily tergagap, tak ingin membahas apa yang baru saja dia lihat.
"Terus maksudnya apa lu kabur ke sini?"
Lily menggelengkan kepala cepat.
"Astaga, Li. Ini malem pertama kita, lu kok tega sih ninggalin gue gitu aja?" keluh Ghara, karena dia merasa tersiksa harus menahan hasrat sekaligus rasa sakit akibat pukulan istrinya.
"Ya, ya udah. Kita balik ke kamar," ujar Lily dengan tubuh yang terasa gemetar. Sepertinya, mau seperti apapun dia menghindar, semua itu akan percuma. Ujung-ujungnya Ghara pasti bisa mendapatkan dia.
Lalu tanpa memedulikan apapun lagi Lily langsung melanjutkan langkah.
Meninggalkan Ghara yang dipenuhi tanda tanya. Merasa penasaran, pria yang hanya memakai handuk itu lantas mendekat ke arah kamar orang tuanya.
Ghara memasang telinga di daun pintu, hingga samar-samar ia mendengar suara desaahan antara Alessandro dan Arabella.
__ADS_1
Pria itu terperangah dan mulai mengangguk paham. "Oh, gue tahu, elu abis mergokin Daddy sama Mommy yah. Haha, pasti elu jadi pengen juga 'kan? Tenang, Li, Jeky siap memberikan kepuasan lahir batin. Kapanpun, di manapun!"
Dengan penuh semangat Ghara langsung menyusul istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Begitu masuk Ghara melihat Lily yang sedang duduk di depan cermin.
Ghara menyunggingkan senyum.
Sementara gadis cantik itu terlihat melamun hingga tak sadar jika suaminya sudah kembali. Dia terus bergeming, hingga tiba-tiba dia merasakan kedua tangan kekar memeluk pinggangnya.
Lily berjengit karena merasa terkejut. Awalnya dia ingin memberontak, tetapi Ghara segera menahannya. Dia tidak ingin pelukan ini terlepas.
Ghara terdiam, mulai berpikir dengan otaknya yang sedikit waras. Melihat Lily yang begitu keras menolak dirinya, tentu membuat dia merasa tersentil, dan merasa menjadi pria paling pemaksa.
"Kenapa sih, Li?" tanya Ghara tiba-tiba.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa nolak gue terus?" ujar pria itu dengan sebuah pertanyaan yang terdengar tak biasa. Membuat Lily langsung mengerutkan keningnya.
"Ah, gak, bukan gitu, Kak."
"Terus apa? Kasih gue alesan biar gue ngerti sama keadaan lu, dan kasih gue solusi biar gue gak terlalu terobsesi sama apa yang ada di hati gue. Yaitu milikin elu sepenuhnya," terang Ghara. Karena jujur dia tidak menahan lagi perasaan yang sudah tidak mampu dia bendung.
Dia ingin mengekspresikan semuanya terhadap Lily, apalagi mereka sudah menikah.
"Aku, aku cuma belum siap. Ini terlalu ngedadak, dan buat aku shock! Kayaknya tanpa perlu aku jelasin, Kakak juga udah ngerti deh," jawab Lily cepat karena tak ingin Ghara salah paham.
"Tapi bukan berarti lu ngehindar 'kan? Lu tahu gak, semakin lu nolak gue, gue semakin ngerasa tertantang buat naklukin elu! Sampe gue gak peduli elu ngerasa risih atau enggak!"
Keduanya terdiam. Ghara melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Lily hingga mereka saling berhadapan. Ghara mengulurkan tangan dan mengunci tubuh Lily, seolah tak mengizinkan gadis itu pergi ke mana-mana.
"Ngomong sama gue, lu maunya gimana? Lu mau gue nunggu sampe lu siap? Fine, bakal gue tungguin asal penantian gue gak sia-sia," ujar Ghara dengan tatapan yang terlihat tenang. Tidak menjengkelkan seperti biasanya.
__ADS_1
"Kak, aku …."
"Lu bener-bener gak bisa terima gue?"
Lily menghembuskan nafasnya kasar. Entah kenapa perasaannya malah tidak enak jika Ghara seperti ini. Hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk mengusap wajah pria itu.
"Aku terima kamu, Kak. Tapi please jangan terlalu terburu-buru, apalagi sama hal kayak gini. Kakak tahu, ini terlalu tabu buat aku. Jadi, aku minta kita jalanin pelan-pelan aja."
Ghara langsung tersenyum. Ternyata cara dia mengikat Lily benar-benar berjalan dengan sempurna. Yah, seorang gadis hanya perlu kelembutan, dan dia harus belajar sedikit demi sedikit mulai sekarang.
"Okey, tapi bisa 'kan kita mulai malem ini?"
Lily menggigit bibir bawahnya. Tak ada alasan lain, untuk menolak ajakan Ghara. Dia sudah menerima pria itu, dan itu artinya dia harus belajar membangun hubungan yang sehat di antara mereka berdua.
"Harus sekarang banget, Kak?"
"Gak juga. Kalo emang lu belum siap ya gak apa-apa, cuma gue minta, bantu gue buat nuntasin semuanya."
"Caranya?"
Ghara menarik tangan Lily, agar gadis itu kembali menyentuh ekor buayanya yang sudah layu. Awalnya gadis itu merasa ragu, tetapi pada akhirnya dia mampu untuk melakukannya.
"Cukup pegang, lalu mainkan," ujar Ghara sambil tersenyum menggoda.
"Ha, pegang? Mainkan?"
Lily mengangkat kepala, dan tepat pada saat itu Ghara langsung meraup bibir mungil istrinya. Tidak ingin malam pertama mereka gagal, hanya karena banyak terjadi drama.
***
Main apa tuchhh, Bang🙄🙄🙄
__ADS_1