
Sore harinya.
Aston dan Ellea yang merupakan kedua orang tua Alessandro datang dari negara seberang. Tak hanya ada mereka berdua, dia pun membawa serta Emilio—adik Alessandro—untuk menyaksikan pernikahan Lily dan Ghara.
Ketika baru saja melangkah masuk ke dalam rumah, mereka sudah disambut oleh Arabella.
"Mommy, Daddy, Kak Emil," sambutnya dengan senyum ramah.
Arabella menyalimi ketiganya, dan tak lupa memberikan ciuman hangat untuk Ellea, ibu yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
"Di mana suamimu, Ara?" tanya Aston sambil melangkah ke arah ruang keluarga. Dia melepas jas, kemudian memberikannya pada pelayan.
"Kak Ale masih di kantor, Dad. Dia bilang sebentar lagi pulang. Ayo kita duduk dulu, aku sudah siapkan minum," jawab wanita yang masih terlihat cantik itu.
"Biar Mommy bantu." Ellea ingin mengekor pada langkah Arabella, tetapi dengan cepat wanita itu menahannya.
"Tidak usah, Mom. Mommy 'kan baru sampai pasti capek."
Tanpa menunggu jawaban sang ibu, Arabella segera pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan beberapa cemilan.
Sementara itu Ghara keluar dari kamar setelah membersihkan tubuhnya. Dia mengibaskan rambutnya yang basah, dan tak sengaja melihat kakek dan neneknya berada di ruang keluarga.
"Oma, Opa!" panggil Ghara seraya memperhatikan keduanya secara bergantian.
"Aduh, calon pengantin. Sini, Sayang," balas Ellea sambil menepuk ruang di sampingnya.
"Heh, tidak-tidak! Duduklah di sana, jangan dekat-dekat dengan istriku!" timpal Aston, padahal Ghara sudah hampir melandaskan pantatnya.
"Haish, kenapa sih, Opa?!"
"Kenapa? Kamu itu sudah besar, sudah mau menikah! Aku tidak terima jika istriku duduk di samping pria lain!" tegas Kakek tua yang masih terlihat segar bugar itu. Membuat Emilio yang duduk di sofa single jadi geleng-geleng kepala.
Sudah bau tanah masih tidak sadar juga!
__ADS_1
"Aku cucunya lho!" Ghara masih tampak tidak terima dengan ucapan buaya tua yang ada di depannya.
"Lihat Uncle Emil. Dia tidak akan berani duduk di sini kalau ada Opa!"
"Sayang, sudahlah. Kamu ini apa-apaan, sama cucu sendiri saja pakai ribut. Sini, Ghar—"
"TIDAK! DUDUK DI SANA!"
Aston kembali menunjuk sofa yang lain.
"Ya ampun ini buaya satu lagi kelakuannya, gak jauh beda sama yang lagi kantor!" gerutu Ghara dengan suara pelan, tetapi masih samar-samar didengar oleh Aston.
"Bicara apa kamu, Ghara?!" sentak pria paruh baya itu.
"Enggak, Opa. Ghara gak ngomong apa-apa. Itu tadi anu, apa?"
Baru saja Aston membuka mulut, tetapi suaranya tertahan karena kedatangan Arabella dan satu pelayan. Wanita itu menghidangkan beberapa makanan dan minuman yang sudah dia persiapkan untuk menyambut kedatangan kedua orang tuanya.
"Yeh kalo aku yang ajak, mending aku ajak stay di kamar, Mom."
Mendengar itu Arabella langsung menghembuskan nafasnya. Berbicara dengan Ghara hanya membuat dia kehabisan kata-kata.
"Ara, biar Mommy saja yang panggil," ujar Ellea menawarkan diri, dan Arabella tidak bisa menolaknya.
Sementara pandangan mata Ghara beralih pada sang paman yang sedang menyesap minumannya. Pria yang berusia tak jauh dari ibunya, dan memiliki predikat duda, karena ditinggal mati oleh istrinya.
"Uncle, gak ada niatan buat nikah lagi gitu?" tanya Ghara tiba-tiba, membuat Emilio menoleh. Dia menatap wajah sang keponakan dengan seksama, hingga dia sadar selengeannya tak jauh dari sang kakak.
"Gak!"
"Ya ampun, jawabnya singkat, padat, jelas, minta ditimpuk pake batu."
"Urus saja pernikahanmu, Ghara. Jangan memikirkan orang lain," kata Emilio dengan wajah datar.
__ADS_1
"Aku gak mikirin sih sebenernya, cuma nanya aja."
"Oh."
Ghara langsung mendelik mendengar jawaban Emilio.
"Astaga, nih orang atu beda lagi aja. Keluarga gue kenapa gak ada yang bener yak?" gerutu Ghara, sementara yang sedang dibicarakan hanya duduk dengan santai, seolah tak ada beban.
Dan tak berapa lama kemudian, terdengar suara deru mobil di depan rumah. Menandakan bahwa Alessandro sudah pulang. Pria gagah itu lantas melangkah masuk, dan langsung menyambangi ruang keluarga di mana Aston berada.
"Daddy!" panggil Alessandro dengan nada merengek. Lalu tanpa aba-aba dia ambruk di atas pangkuan Aston, dan menangis sesenggukan.
Semua orang terperangah, tak terkecuali Ghara. Tak mengerti kenapa Alessandro bersikap seperti anak kecil.
"Al, kamu kenapa?" tanya Aston dengan mimik wajah terperangah dan juga panik.
"Dad, maafin aku kalo aku banyak salah. Aku suka ngelawan Daddy, suka seenaknya, kerja gak pernah bener, pokoknya maafin aku kalo aku suka nyusahin."
"Iya-iya, Daddy sudah memaafkanmu. Tidak usah bersikap berlebihan seperti ini." Aston menepuk-nepuk bahu Alessandro. Hingga pria itu pun mengangkat kepala.
"Kalo gitu cabut semua kutukan Daddy, biar aku gak kena karma kayak gini."
"Hei, kutukan apa?!" tanya Aston dengan nada menyentak.
Alessandro melirik ke arah Ghara yang duduk tak jauh darinya. Lalu menunjuk sang putra dengan ujung dagunya. "Tuh, tiap hari bikin pusing kepala!"
Dan semua orang langsung mengarahkan pandangan mata ke arah pria yang sebentar lagi akan menikah.
"APA?"
***
Kayak gak punya dosa ya, Bang, jawabnya🤣🤣🤣
__ADS_1