
Dan di sinilah mereka sekarang. Di ruang tamu, Sonia dan Andreas berhadapan dengan keluarga Barrack. Mereka terpaksa menghentikan waktu makan malam, karena kedatangan tamu yang tidak diundang.
Di tempatnya duduk, Ghara terlihat melayangkan tatapan tak ramah, seperti sudah menebak, jika kehadiran dua orang itu hanya akan menambah masalah.
Sementara Andreas terus menatap Lily dengan jeli, tak dapat dipungkiri dua bola mata itu memang sangat mirip dengan milik Carissa. Wanita yang pernah berhubungan dengannya, dia benar-benar menyesal, karena sudah berkhianat dari Sonia, hingga menghasilkan darah daging yang akhirnya dia telantarkan.
"Sebenarnya ada apa, Tuan Andreas, kenapa kalian datang ke mari malam-malam?" tanya Alessandro mulai membuka pembicaraan. Karena dia pun sudah sangat penasaran, apa yang menjadi tujuan kedua orang itu datang ke rumahnya, di waktu yang tidak wajar.
Andreas menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan, dia melirik ke arah Sonia dan menggenggam tangan wanita itu.
"Maafkan saya sebelumnya, Tuan Al. Beberapa hari lalu saya telah lancang datang ke mari untuk bertemu Lily, bahkan saya nekad menemuinya meski anda sudah melarang saya. Tapi semua itu saya lakukan karena saya punya tujuan, Tuan," jawab Andreas menjelaskan.
Matanya memerah dan mengembun, membuat semua orang kian bertanya-tanya.
Di sampingnya, Sonia menyiapkan hati yang sangat lapang. Mau tidak mau, siap tidak siap, dia harus menerima Lily sebagai anak dari suaminya. Karena dia sangat sadar, Lily tidak bersalah.
Andai bisa meminta, pasti Lily juga ingin dilahirkan dari keluarga yang jelas dan juga mencintainya. Bukan hasil dari hubungan terlarang.
"Apa itu? Tolong jangan berbelit-belit, karena kami semua akan segera beristirahat. Kami tidak memiliki waktu luang untuk sesuatu yang tidak penting!" sambar Alessandro, padahal Ghara sudah membuka mulut, karena gatal ingin ikut bicara.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar, Andreas mengambil hasil tes DNA dari saku jasnya. Dia meletakkan amplop itu di atas meja. "Saya tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Tapi—" suara pria paruh baya itu tercekat. "Lily sebenarnya adalah anak saya dengan wanita lain. Aku ayahnya."
Deg.
Ungkapan itu sukses membuat jantung semua orang berhenti berpacu, terlebih Lily yang mendengar dengan jelas, bahwa Andreas mengaku sebagai ayah kandungnya.
Bola mata Lily melebar dengan sempurna, lengkap dengan bulir air yang siap jatuh, jika sekali saja dia berkedip. Kenyataan apa ini? Kenapa hidupnya sangat rumit, terlebih Andreas adalah ayah dari Keysha.
Wanita itu pasti akan semakin membencinya, jika tahu hal yang sebenarnya.
"Bulshittt! Lu jangan ngada-ngada yah!" sentak Ghara setelah bangkit dari tempat duduknya. Dia tidak terima pengakuan ini, sekalipun ada bukti jika memang Lily adalah anak Andreas. Sumpah, dia tidak tertarik sedikitpun untuk melihat hasil itu.
"Gue gak peduli! Sekarang Lily istri gue, elu gak berhak ambil dia setelah elu buang dia gitu aja. Sampe kapanpun, gue gak bakal ijinin elu buat ketemu sama Lily!" cetus Ghara dengan tatapan yang tak main-main, bahkan dengan berani dia menunjuk wajah Andreas. Tak peduli siapa pria itu sebenarnya.
"Ghara—"
"Gak, Dad! Aku gak bakal terima. Selama dua puluh tahun dia ke mana? Sekarang tiba-tiba dateng dan ngaku-ngaku kalo dia ayah Lily? That's fuckingg! Aku gak bakal biarin dia dapetin pengakuan apapun dari Lily! Shittt!" sela Ghara ketika Alessandro hendak menghentikan ucapannya.
Padahal sama halnya dengan Ghara. Alessandro pun tidak menyangka, jika hubungan mereka akan seperti ini jadinya.
__ADS_1
Karena mereka seperti terkurung dalam sebuah lingkaran yang tidak memiliki jalan keluar.
Lily menangis tersedu-sedu, dadanya sangat sakit, karena tak sanggup menerima takdir yang terasa konyol ini. Sedikitpun dia tidak akan percaya, kalau Andreas adalah ayahnya.
"Ghara, saya tahu saya salah. Tapi takdir tidak bisa diubah. Walau bagaimanapun, saya tetap ayah biologis Lily. Saya benar-benar minta maaf untuk itu, saya tidak ingin meminta apapun. Tapi berikan saya kesempatan untuk bertanggung jawab dan menebus semua kesalahan saya," ujar Andreas dengan air mata yang tak kalah derasnya.
Bahkan saking tidak berdayanya, dia memilih untuk bersimpuh di hadapan Ghara. Karena dia mengharap maaf dari anaknya. Dia tidak mau hidupnya dihantui rasa bersalah, apalagi kepada darah dagingnya sendiri, yang selama ini tidak dia ketahui.
"Dan Lily gak butuh tanggung jawab elu! Gue masih bisa hidupin dia pake uang gue! Jadi, lu jangan sok-sokan buat nanggung hidup dia. Karena semua itu percuma, lu gak bakal bisa nebus kesalahan elu selama dua puluh tahun! Gue ingetin sekali lagi, dia gak butuh elu!" balas Ghara, kemudian dia segera meraih tangan Lily, ingin membawa gadis itu pergi bersamanya, dan enyah dari hadapan Andreas.
"Ghara, tolong—"
"STOP!" jerit Ghara, karena dia bisa merasakan betapa kecewanya Lily mengetahui fakta ini. "Lu bukan ayah Lily, elu cuma Badjingan yang lagi berusaha jadi malaikat. Bangsaatt lu!" Sentak Ghara, lalu menarik tangan Lily.
Dan Alessandro tidak bisa menghentikan langkah putranya. Apalagi Arabella yang ikut terluka, dia hanya memeluk erat tubuh Alessandro, dengan mulut yang tak dapat bicara.
***
Cucu buaya kalo marah kek mau makan orang😔😔😔
__ADS_1