
Beberapa hari telah berlalu, awalnya semua berjalan dengan lancar. Carissa telah mendapatkan balasan yang setimpal, karena Alessandro terus membuat hari-hari wanita itu tidak pernah tenang.
Di dalam penjara yang ia buat sendiri, Alessandro sukses membuat Carissa frustasi. Karena Carissa selalu disuguhi binatang-binatang menjijikkan.
Tidak hanya yang sengaja datang, terkadang Alessandro sengaja meminta seseorang untuk meletakkan binatang lain untuk menakut-nakutinya.
Bahkan di sana ada kandang buaya, yang sengaja diperlihatkan hanya untuk Carissa.
"Hentikan semuanya, Al. Aku mohon, walau bagaimanapun aku adalah ibu yang mengandung Lily," ujar Carissa meratap, ya, kalimat itu yang terus keluar dari mulutnya.
Namun, sampai sekarang Alessandro tidak pernah mendengarkan ucapan Carissa. Telinganya seolah tuli untuk wanita itu.
"Lupain semuanya! Elu gak perlu ngaku-ngaku lagi jadi ibu dari anak yang udah elu buang. Karena elu harus tahu, dia udah gak butuh lu. Lagi pula harusnya lu sadar, lu tuh bukan manusia, dari dulu sampe sekarang, lu tuh udah kayak anjingg yang bisa ngomong!" cetus Alessandro dengan tatapan nyalang.
Tak lupa dia juga melemparkan sebuah amplop hasil pemeriksaan kandungan Arabella. Agar wanita itu tahu, bahwa istrinya kembali mengandung, dan membuktikan bahwa Arabella tidak mandul.
Carissa terpaku dengan air mata yang belum mengering.
__ADS_1
"Di dalem sana ada bukti, kalo bini gue lagi hamil, dan itu artinya apa yang elu tuduhin gak bener! Arabella masih subur, sekali gue sentuh dia bisa hamil anak gue, bahkan kalo gue niat, gue bisa bikin ternak anak. Jadi, jaga bacot lu, jangan sampe gue denger sesuatu yang buat gue lupa siapa elu di kehidupan anak gue!" sambung Alessandro dengan angkuh, dia berdiri dengan kedua tangan yang masuk ke dalam kantong celana.
Sementara Carissa langsung meremass amplop tersebut. Sungguh tak percaya jika Arabella bisa kembali mengandung, di usianya yang sudah kepala empat.
Tanpa bicara lagi Alessandro pergi dari tempat itu. Sebelumnya dia sudah berniat untuk membawa Carissa pergi dari negara ini, setidaknya di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh keluarganya.
***
Makan malam.
Satu keluarga itu sedang menikmati hidangan. Alessandro terlihat sangat memanjakan Arabella, sama seperti ketika wanita itu hamil Ghara.
"Sayang, aku bisa makan sendiri." Bukannya menjawab, Arabella justru mengulurkan tangan untuk mengambil sendok yang ada di tangan suaminya.
"Jangan ngebantah, tadi pagi kamu bilang pengen disuapin sama aku."
"Hadeuh, ada tiket ke Pluto gak sih? Rasanya pengen pindah planet," sambar Ghara, mencibir kelakuan ayahnya yang sudah seperti pasangan muda. Padahal di sana ada dia dan Lily.
__ADS_1
"Ada, kamu mau? Nanti Daddy kirim kamu ke sana, tapi Lily di sini," balas Alessandro, menimpali cibiran putranya.
Mendengar itu Ghara langsung memeluk tubuh Lily yang duduk di sampingnya. Membuat gadis itu tersentak. "Gak boleh, Lily harus terus sama aku, kan kita lagi bikin target. Iya gak, Yang?"
Lily langsung gelagapan, karena tentunya dia masih memiliki rasa malu di depan kedua orang tuanya. Bahkan karena tersipu, pipi gadis itu langsung memerah.
"Apaan sih, Kak?"
"Lho bukannya malem itu kita udah sepakat yah?Kamu juga udah makin pinter sekarang, aku sampe kewalahan," cerocos Ghara yang membuat Lily semakin kikuk.
"Kak, ngomong apa sih?!" sentak Lily seraya menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Oh iya lupa, nakalnya di kamar aja ya, Yang." Ghara tersenyum lebar sambil mengusak-usakkan wajahnya di bahu Lily.
Namun, senda gurau itu terhenti ketika seorang pelayan mengatakan bahwa Andreas dan Sonia datang.
"Ck, mau apalagi sih tuh orang, gak ada abisnya deh," gerutu Ghara, karena merasa kesal jika Andreas terus-menerus mengganggu istrinya.
__ADS_1
***
Gue bela-belain nulis di dalem angkot nih, minta kembang sama kopinya dung😌😌😌