Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 53. Sumringah


__ADS_3

Ghara berangkat ke perusahaan setelah mengurus istri kecilnya. Dia tidak mengizinkan Lily kuliah, karena tahu gadis itu masih merasa lelah. Berbeda dengan dirinya yang masih cukup memiliki tenaga.


Hari ini wajah Ghara benar-benar terlihat sumringah. Dia terus mengingat kejadian tadi malam, saat dia dan Lily menyatu dan menikmati nirwana bersama.


"Cucu buaya gak bakal pernah bisa kalah, liat 'kan, Li? Akhirnya elu luluh juga," gumam Ghara menyombongkan dirinya, ketika ia sedang melangkah masuk, menuju pintu utama gedung Sixnine Entertainment.


Semua karyawan yang melihat Ghara langsung menyapa dengan ramah. Dan untuk kali ini Ghara menimpalinya dengan tersenyum pula. 


Beberapa dari mereka merasa terperangah. Namun, Ghara tidak memedulikan itu semua. Dia terus berjalan, hingga naik ke ruangannya.


Begitu membuka pintu, Ghara langsung disuguhi oleh wajah Edo. Pria itu mengangkat kepala, lengkap dengan kening yang mengeryit. "Muka lu kenapa, Nyet? Sumringah bener?"


Ghara duduk di kursi kebesarannya sambil menunjukkan senyum lebar. "Elu belum kawin, gue ceritain juga gak bakal ngerti!" Jawabnya dengan tatapan mengejek.


Sementara Edo langsung menganga. Mencoba mencerna ucapan sahabatnya. Jangan-jangan Lily dan Ghara sudah berhasil melakukan malam pertama. 


"Si Jeky udah bisa nari dalem lobang, Ghar?" tanya Edo dengan tatapan tak percaya. Bahkan dia langsung meninggalkan mejanya, dan mendekat ke arah Ghara.


Ghara menaik-turunkan alisnya. "Lebih dari itu, nyembur mulu dia."


"Anjiing, elu gak perk*sa si Bawang Putih 'kan?"


"Ya kagaklah, emangnya gue apaan? Ini murni karena dia mau, ya walaupun banyak drama sih," jelas Ghara, tak ingin harga dirinya jatuh.


"Kok gue gak percaya yah?" ujar Edo dengan tatapan menyelidik. Membuat Ghara mendelik.

__ADS_1


"Mikir apa lu? Dikira gue maniak sexs?" sentak Ghara, merasa kesal karena Edo tak percaya bahwa dia mampu meluluhkan hati istrinya.


"Muka lu mencurigakan, Anjiirr! Jangan-jangan semalem lu sawadikap skidipapap sama sabun lagi, tapi bayanginnya sama Lily," tuding Edo yang membuat Ghara tak segan untuk melayangkan tangannya.


Plak!


"Gue pendem biji lu yah, nuduh gue yang enggak-enggak!" ujar Ghara dengan tatapan kesal. Senyum yang semula mengembang kini jadi berganti raut masam.


"Yeh, orang gue cuma nanya doang, sewot bener manten baru. Ya udah ah, gue mau balik kerja, takut dicaplok buaya!" Gerutu Edo, lalu melangkah kembali ke mejanya.


Namun, sebelum pantatnya melandas ke kursi, pintu terbuka lebar dan menampilkan wajah Gerry. Pria itu membawa beberapa kantong plastik berisi makanan, lalu tanpa meminta persetujuan, dia sudah duduk di sofa dengan tenang.


"Ghar, gue numpang di sini dulu yah," ucap Gerry, membuat Edo dan Ghara saling pandang.


"Lu ngapa dah?" tanya Ghara.


"Lu kalo ngomong yang jelas kek, Ger. Lu kenapa?" timpal Edo, karena dia merasa sang sahabat sedang terkena musibah.


Gerry menatap kedua sahabatnya secara bergantian. Mereka tampak sangat serius.


"Do, Ghar. Gue ngilangin Tupperware Mommy!" jerit Gerry.


Hah?


***

__ADS_1


Di bumi belahan lain, sedang diadakan pesta pernikahan sederhana antara Marcell dan Keysha. Wanita itu terpaksa menerima ayah dari bayinya, karena reputasinya sebagai selebriti benar-benar dipertaruhkan.


Keysha tak berhenti menangis, karena harapan untuk bersama dengan Ghara harus pupus seketika. 


"Key!" panggil Marcell seraya meraih tangan Keysha, yang kini sudah menjadi isterinya.


"Kenapa kamu jahat sama aku sih, Cell? Kenapa malem itu kamu gak nolak aku? Kamu ngerasa dapet keuntungan?" ujar Keysha dengan air matanya yang menderas.


Marcell menghela nafas panjang. Dia mencintai Keysha, sangat! Dan ketika dihadapkan dengan sesuatu yang membuatnya terlena, sudah tentu dia tidak bisa menahannya. "Maafin aku, Key. Aku benar-benar gak bisa nahan diri aku, aku sayang sama kamu. Aku cinta, sulit buat kau nolak pesona kamu."


"Tapi karena itu kamu jadi hancurin hidup aku!"


"Itu karena kamu terus berpikir kalo Ghara adalah masa depan kamu. Padahal bukan! Dia itu gak pernah bisa baik, harusnya kamu sadar itu!"


"Aku cinta sama dia, Cell. Aku gak peduli dia bakal baik sama aku atau enggak yang penting kita bisa bersama."


"Itu namanya kamu egois sama diri kamu. Please, Key. Terima aku, kita jalani kehidupan ini sama-sama," ujar Marcell memohon, tetapi Keysha justru menggelengkan kepala. 


Dia memukul dada Marcell, dan yang pria itu lakukan justru memeluk tubuh istrinya. Memberikan ketenangan yang paling nyata.


"Aku janji bakal bahagiain kamu dan anak kita," ucap Marcell dengan tulus, lalu mengecup kepala Keysha. Dalam dan lama.


Hingga perlahan-lahan keegoisan Keysha pun luruh, dia membalas pelukan Marcell. Namun, dengan tangis yang masih sama.


***

__ADS_1


Lagian ekor buayanya juga udah bekas, Key😜


__ADS_2