Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 67. Penuh Kepura-puraan


__ADS_3

Di rumahnya, Carissa sedang tertawa keras. Karena dia yakin bahwa Lily dapat dia andalkan untuk mengeruk harta Alessandro. Setidaknya meskipun dia tidak mendapatkan pria itu, dia masih bisa merasakan fasilitas mewah dan tidak akan pernah habis.


Selama ini dia sudah hidup susah, sementara Alessandro dan Arabella bahagia di atas penderitaannya. Sumpah demi apapun, dia tidak akan pernah terima.


Sehingga tiba hari ini, dia akan menyaksikan bagaimana Alessandro dan Arabella kehilangan apa yang dimilikinya. Terlebih, mereka pasti akan shock ketika mengetahui identitas Lily.


"Lihat saja, Al. Aku pasti bisa membalasmu. Aku akan menggunakan Lily untuk menghancurkan keluarga kalian, terlebih mental putramu. Aku yakin dia sangat mencintai putriku, jadi dia akan melakukan apa saja untuk Lily," gumam Carissa dengan tawa renyah.


Dia telah mendapat beberapa pesan dari Lily, menunjukkan bahwa gadis itu telah berhasil mendapatkan apa yang dia mau.


Nanti siang mereka akan bertemu di rumah makan sederhana, dekat dengan kampus Lily. Karena gadis itu sudah berjanji untuk menyerahkan semuanya pada Carissa, lalu setelah itu mereka akan kabur berdua.


Carissa tidak tahu, jika ternyata Alessandro dan Ghara sudah menyiapkan kejutan untuknya. Karena dia terlalu percaya diri, bahwa Lily akan menurut begitu saja pada semua perintahnya.


Namun, ternyata tak semudah itu memprovokasi Lily. Lily masih memikirkan semua kebaikan yang telah keluarga angkatnya berikan, jadi dia tidak mau langsung berpihak pada Carissa.


Semalam dia sengaja meminta ini dan itu pada Ghara. Untuk memuluskan rencana mereka. Karena sekalipun Carissa benar-benar ibunya, dia tidak akan terima kalau Carissa menyakiti bahkan memfitnah Alessandro dan Arabella.


"Dasar anak bodoh! Tapi ada untungnya juga aku melahirkan dia. Kalo aja aku gak berpikir untuk balas dendam, mungkin dia udah aku buang di tempat sampah!"


Entah terbuat dari apa hati Carissa. Karena di dalam sana hanya ada kebencian dan kedengkian. Semua nasib buruk yang menimpa dirinya, selalu dikaitkan dengan Alessandro. Seolah dia benar-benar terobsesi dengan pria itu.


"Aku harus membuatkan sesuatu untuknya, supaya dia percaya bahwa aku sangat menyayangi dia."


Carissa pun bangkit dari kursi, lalu melangkah menuju dapur. Sekali lagi, ia harus meyakinkan Lily agar gadis itu semakin percaya dengan ketulusan yang dia punya.

__ADS_1


***


Sesuai kesepakatan, saat makan siang telah tiba, Lily pergi ke tempat janjian. Di mana Carissa sudah menunggunya. Dia sendirian sebab Alessandro dan Ghara sudah merancang pertemuan keduanya.


Di tempat itu terlihat beberapa pengunjung hulu hilir untuk menikmati santapan makan siang. Lily pun segera masuk dengan jantung yang berdebar kencang.


"Kamu bisa, Li. Ayo kamu bisa!" gumam Lily meyakinkan dirinya sendiri, karena setelah mendengar cerita Alessandro dan Arabella, hatinya kian sakit. Ternyata dia tidak lebih dari sebuah pion untuk Carissa, agar bisa membalas dendam pada keluarga angkatnya.


Dia dengan sengaja dibuang. Bahkan banyak saksi mata yang melihatnya, terlebih dua penjaga rumah yang saat itu menemukan dia lebih dulu di depan gerbang.


Dengan langkah elegan, Lily mencari sosok Carissa, dia mencoba untuk menetralkan mimik wajahnya. Agar tidak terlalu terlihat, bahwa dia sedang berpura-pura.


"Li!" panggil Carissa sambil melambaikan tangan. Wanita itu memberi kode pada Lily agar mendekat, sementara hati Lily seperti dicabik-cabik. Rasanya sangat sakit mengetahui semua fakta ini.


"Ibu udah lama nunggu?" tanya Lily ketika sudah sampai di meja yang Carissa pesan. Dia bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Ingin melihat seberapa jauh Carissa bermain drama.


Carissa menarik satu kursi di sampingnya, agar Lily duduk di sana. Kemudian memberikan buku menu pada sang anak. "Kamu mau pesan apa? Kita makan dulu yah."


"Eum iya, Bu," jawab Lily sambil menatap dua bola mata Carissa yang ternyata memang mirip dengannya. Tak dapat dipungkiri jika dia memang anak dari wanita itu, tetapi sumpah demi apapun, jika harus berkelakuan jahat, dia tidak akan mampu.


Terlebih pada kedua orang tua yang telah merawatnya. Lily masih memiliki hati, untuk membalas budi. Dia yakin, Alessandro dan Arabella tidak berbohong, dia yakin mereka sangat menyayanginya.


"Li, kenapa? Kok malah ngelamun?" tanya Carissa, karena Lily justru terdiam.


Mendengar itu, Lily langsung gelagapan, kemudian menggelengkan kepalanya. Dia kembali memindai buku menu, kemudian memesan makanan dan juga minuman.

__ADS_1


Keduanya makan siang bersama, tetapi Lily terlihat tidak menikmati makanan yang ada di hadapannya. Hati dan pikiran gadis itu tidak sinkron. Hingga membuat dia tidak nafsuu makan.


"Li, ibu buatkan kue untuk kamu. Semoga kamu suka yah," ujar Carissa seraya menyerahkan satu toples kue yang dia buat. Berharap Lily menggantinya dengan apa yang dia minta.


Lily berpura-pura tersenyum antusias, kemudian mengambil beberapa map yang dia masukan ke dalam paper bag yang dia bawa. "Dan ini semua yang ibu minta, semalem Kak Ghara langsung turutin semua mau aku, jadi pagi ini semuanya udah beres."


Melihat itu Carissa langsung berbinar-binar. Dia meraih map yang ada di tangan Lily, kemudian membukanya. Di sana tertera jelas, bahwa semuanya atas nama Lily. Itu artinya dia berhasil mendapatkan apa yang dia impikan.


"Bagus, Nak. Nanti sore, ibu jemput kamu ya. Setelah ini kita mulai kehidupan yang baru, kamu mau kan hidup sama ibu?" ujar Carissa, membuat Lily semakin membatin.


Namun, demi memuluskan rencananya, Lily segera menganggukkan kepala. Pokoknya tugas dia hanya mengiyakan semua permintaan Carissa. "Iya, Bu. Aku udah pack barang-barang aku, dan aku bakal bawa yang sekiranya penting aja."


"Terima kasih ya, Sayang. Biarkan Daddy-mu mendapatkan balasan yang setimpal, karena sudah memisahkan kita berdua!" ucap Carissa dengan menggebu. Membuat seseorang yang ada di meja lain, menyeringai setan. Berani-beraninya wanita sundal ini ingin membawa istrinya, jangan harap!


"Ya udah, Bu. Kalo gitu, aku balik ke kampus dulu yah, ada satu mata kuliah lagi yang harus aku ikutin. Setelah itu, baru aku pulang," ujar Lily, ingin segera menyelesaikan drama ini, karena dia sudah merasa tak tahan.


Carissa pun mengangguk, dia segera membayar tagihan. Kemudian mengajak Lily pergi dari tempat itu. Namun, di ambang pintu, Carissa dikejutkan dengan dua orang berseragam polisi yang menghadang langkahnya.


"Selamat siang, dengan ibu Carissa?" tanya salah satu orang itu.


Carissa yang mulai merasa aneh, hanya mampu untuk menganggukkan kepala.


"Kalau begitu silahkan ikut kami ke kantor polisi, dengan tuduhan pemerasan dan penipuan atas nama saudara Liliyana."


Carissa langsung mendelik, dia melayangkan tatapan ke arah Lily yang berdiri tak jauh darinya. Namun, dia kembali dikejutkan dengan kehadiran Alessandro di depan sana.

__ADS_1


"Ale?"


__ADS_2