Stuck With Hot Brother

Stuck With Hot Brother
Bab 65. Kemungkinan


__ADS_3

Alessandro terus menundukkan kepala karena pikirannya benar-benar kacau. Dia tidak pernah menyangka, jika anak yang dia besarkan dengan sang istri adalah darah daging orang yang sangat dia benci.


Dia menggeleng pelan, tak ingin sedikitpun percaya pada takdir ini.


"Tenangin dulu hati lu, Al. Jangan gegabah, oke. Kalo lu terlalu terburu-buru, semuanya malah bakal kacau. Sekarang, kita cuma perlu mendalami lagi masalah ini. Kita cari tahu kebenarannya. Semoga aja, tebakan kita gak bener," ujar Boby berusaha untuk menenangkan sang sahabat yang sempat kesetanan.


Tadi pria itu sempat membuang apa saja yang ada di meja. Hingga membuat ruangan itu terlihat sedikit berantakan. Baik Boby maupun Jerry, mereka sama-sama mengerti kenapa Alessandro bersikap seperti itu.


Ya, karena Carissa adalah wanita yang cukup berbahaya. Wanita itu bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.


"Kalo pun bener, gue yakin cewek bangsaat itu sengaja naro Lily depan rumah gue. Bener-bener gila!" pekik Alessandro sambil menjambak rambutnya.


Otaknya selalu berputar bagai kaset kusut, menyusun beberapa perkiraan. Karena dia yakin Carissa menginginkan kehancuran keluarganya.


Sumpah demi apapun, dia tidak akan diam saja. Dia akan menghentikan semua rencana wanita iblis itu.


"Nah, lu mulai paham 'kan sekarang. Jadi, mending jernihin otak lu, biar bisa mikir. Lu punya kita berdua, Al. Lu juga punya Ara yang siap dengerin semua keluh kesah elu. So, keep calm!" balas Boby sambil menepuk punggung Alessandro.


"Bener, Al. Gue yakin, cepat atau lambat, si Demit bakal bertindak lebih jauh. Tapi sebelum itu, kita yang bakal gagalin rencana dia. Lu harus omongin ini sama Lily, dan tentunya Ghara juga, biar mereka gak bingung," timpal Jerry ikut memberi saran.


Tidak ada raut bercanda di wajah ketiga pria itu. Padahal biasanya mereka akan tetap tertawa ketika ada masalah.


Alessandro menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Dia terus melakukan itu, berharap dia bisa sedikit lebih tenang.


"Minum dulu!" ucap Jerry seraya menyerahkan satu gelas orange jus kepada Alessandro. Tanpa basa-basi Alessandro langsung menyambar dan menenggak minuman itu hingga tandas. Persis seperti orang kesurupan.


"Hah, elu pikir bakal menang lawan gue? Jangan harap! Sekalipun nantinya Lily anak elu, gue pastiin dia gak akan pernah nganggep elu ibu! Anjinggg!" Alessandro bermonolog dengan dirinya sendiri. Dia mencengkeram erat gelas yang ada di tangannya, seolah ingin menghancurkan benda keras itu.

__ADS_1


"Besok lu coba omongin sama keluarga elu. Lu inget kan tadi siang si Ghara bilang kalo sikap Lily berubah, gue yakin semua itu ada campur tangan Carissa," ujar Boby, kini suasana sudah terlihat lebih kondusif. Ketiganya duduk di sofa, dan Jerry sudah mulai menghisap rokok miliknya.


Meskipun Alessandro masih terlihat shock, tetapi dia tidak mau membuang energinya untuk marah-marah. Dia pun ikut menyambar lintingan bernikotin yang tergeletak di meja lalu menyelipkannya di antara jari telunjuk dan jari tengah.


"Besok gue pasti langsung ngomong, gue gak mau kalo sampe si Demit lebih dulu kuasain si Lily. Bocah itu belum ngarti apa-apa!" balas Alessandro, dia membayangkan pula betapa terkejutnya Arabella, saat tahu siapa Lily sebenarnya.


"Pelan-pelan aja, Bre. Yang penting hasilnya pasti. Gue yakin, Lily juga gak goblokk kok. Dia pasti paham harus ada di kubu yang mana."


"Semoga aja."


Mereka bertiga terlihat seperti pria normal pada umumnya. Padahal terkadang otak mereka hanya diisi oleh selengki dan dada.


***


Pukul setengah dua belas malam Alessandro baru tiba di rumah. Dia pikir Arabella sudah tidur, tetapi ternyata wanita itu masih setia menunggunya.


Tanpa aba-aba Alessandro memeluk pinggang istrinya. Dia menyandarkan kepala di bahu Arabella untuk bermanja-manja. "Sayang." Panggilnya lirih dan mesra.


"Kamu kenapa, Kak? Tadi ngomongin apa sama Kak Boby sama Kak Jerry?" tanya Arabella sambil mengelus lembut pipi Alessandro. Dari dulu sampai sekarang, wajah pria itu selalu bersih, karena dia tidak pernah memelihara janggut dan jambang.


Bukannya menjawab Alessandro justru menikmati sentuhan tangan Arabella. Dia menangkup tangan mungil itu, agar senantiasa memberikan usapan.


Menyadari itu, Arabella tahu bahwa ada masalah serius yang sedang menimpa suaminya.


"Kalo udah tenang, cerita yah," ujar Arabella yang membuat Alessandro mendongak.


"Pasti, Yang. Aku mau ngecas dulu. Batere aku abis," balas Alessandro sambil memalingkan wajah Arabella agar menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Alessandro sedikit mengangkat badan, hingga bibirnya dapat menyatu dengan bibir Arabella. Dia mencium dengan penuh kelembutan, memberikan cinta yang selama ini ia punya.


Arabella tak menolak, dia menikmati semua yang Alessandro berikan untuknya. Karena dia tahu yang pria itu butuhkan hanyalah dirinya, sebuah ketenangan yang paling nyata.


Jemari besar itu merayapi tubuh Arabella yang masih terlihat kencang meskipun sudah berkepala empat. Alessandro mengambil jatahnya, dia mengungkung Arabella dan membawa wanita itu ke puncak nirwana.


"Pelan sedikit, Sayang," ucap Arabella, dia tahu Alessandro selalu bernafsuu padanya. Namun, dengan ukuran tubuhnya yang lebih kecil, tentu membuat dia kerap kesulitan mengimbangi tenaga suaminya.


Alessandro memelankan tempo hentakannya. Hingga saat pelepasan itu datang, Alessandro menekan hingga ke titik terdalam. Dia menguapkan kekesalannya dengan bercinta, dengan begitu dia merasa lebih baik.


Masih dengan nafas yang memburu, Alessandro menjatuhkan tubuhnya di samping Arabella. Dia membenahi rambut sang istri yang terlihat berantakan dan juga basah. "Aku mau cerita sesuatu sama kamu, Yang."


Arabella yang masih terengah-engah, menoleh ke arah Alessandro. "Kenapa, Sayang?"


Alessandro lebih dulu terdiam. Seperti ragu untuk memberitahu tentang Lily pada istrinya. Dia menangkup satu sisi wajah Arabella, kemudian mengecup bibir mungil itu. "Ini tentang Lily, Ra."


Arabella mengeryit.


"Lily kenapa, Kak?"


Alessandro semakin menatap dalam dua bola mata istrinya. Lidahnya mulai terasa kelu, hingga dia tergagap. "Lily—kemungkinan dia—anak Carissa."


Deg.


***


Jangan lupa sajen Oey, udah lama gak malak gue🙄🙄🙄

__ADS_1


__ADS_2