
Lily keluar dari rumah Carissa setelah menghabiskan makan siang. Dia terlihat banyak melamun setelah mendengar kejujuran wanita paruh baya itu, ini semua di luar dugaannya.
Sumpah demi apapun, dia tidak menyangka jika ternyata orang yang telah membesarkannya adalah ayahnya sendiri, lalu Ghara? Bagaimana dengan pria itu?
Awalnya Lily ingin memesan taksi online, tetapi dia justru melihat mobil Ghara masih terparkir di tempat yang sama.
Gadis itu mendelik, apakah sedari tadi Ghara menunggunya?
"Ya ampun, dia gak beneran nungguin aku sampe selesai 'kan?" gumam Lily seraya melangkah ke arah mobil. Ketika sampai Lily langsung mengetuk pintu kaca, karena ternyata Ghara tertidur di dalam sana.
Mendengar suara bising, Ghara pun segera mengerjapkan kelopak matanya, dia tersadar ketika melihat wajah Lily. Tanpa menunggu lama, Ghara langsung membuka pintu. "Udah, Yang?"
"Kamu dari tadi di sini?" Bukannya menjawab Lily justru balik bertanya.
Ghara menguap sambil menganggukkan kepala. "Gue takut lu kenapa-kenapa, jadi gue tungguin. Ya udah yuk pulang, kita sekalian cari restoran buat makan siang."
"Aku udah makan," jawab Lily singkat, lalu mengitari bagian depan mobil. Dia masuk dan duduk di samping Ghara. Namun, kali ini Lily terlihat lebih jutek, membuat Ghara jadi bertanya-tanya.
"Muka elu kenapa ditekuk gitu?"
"Aku gak apa-apa, cuma pengen cepet-cepet nyampe aja!"
Alasan yang terdengar tidak masuk akal, tetapi karena baru bangun tidur, Ghara tidak ingin berdebat. Lagi pula dia sudah sangat lapar, karena belum makan siang.
Akhirnya dia memilih untuk menjalankan mobil dan membawa kendaraan roda empat itu membelah jalan raya, menuju rumah.
Di sepanjang jalan Lily terus terdiam. Membuat Ghara merasa ada yang tidak beres dengan istrinya. Dia melirik ke arah Lily, lalu mencoba untuk meraih pergelangan tangan gadis itu, tetapi anehnya Lily menghindar.
"Lu lagi kenapa sih, Yang? Gue ada salah?"
__ADS_1
Lily menggeleng cepat.
"Ya terus kenapa? Gue perhatiin sikap lu kok jadi beda. Jangan kayak orang-orang deh, kalo punya masalah dipendem sendiri. Gue ini suami elu, jadi apapun itu gue harap lu bisa berbagi sama gue!" jelas Ghara mulai berbicara dengan serius. Namun, Lily yang masih belum sanggup bercerita hanya bergeming sambil menatap jalanan.
Dan dia terus seperti itu hingga tiba di rumah. Tanpa menunggu Ghara, dia langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah kamarnya.
"Hah, kenapa lagi tuh, Bocah?" gumam Ghara sambil menghela nafas panjang.
Dia ingin mengejar Lily, tetapi sial perutnya terus berteriak meminta diisi. Akhirnya dia memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, dan di sana dia bertemu dengan sang ibu yang kebetulan sedang mengiris buah.
"Sayang, Lily juga sudah pulang?" tanya Arabella.
"Udah, Mom. Dia langsung ke kamar, katanya udah makan duluan."
"Ya sudah biarkan dia istirahat."
"Mom, aku mau ngomong sama Daddy dan Mommy," ujar Ghara, sambil menunggu pelayan menyiapkan makan untuknya.
"Masalah pernikahan aku sama Lily, Mom. Kayaknya perlu buru-buru diumumin ke publik deh. Lagian si Lampir juga udah nikah kok sama si Marcell."
Arabella terdiam sesaat. Apa yang dikatakan Ghara ada benarnya juga. Lagi pula sebagai sesama wanita dia pun mengerti bagaimana perasaan Lily, menjadi seorang istri yang disembunyikan statusnya, sungguh hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah.
"Oke, nanti Mommy coba ngomong sama Daddy yah."
Ghara menganggukkan kepala. Dalam hati dia berdoa, semoga Alessandro tidak memaki-maki dirinya karena lupa memakai pengaman, padahal dia sudah sering diingatkan.
Siap-siap dengerin bokap bawang putih ceramah.
***
__ADS_1
Ghara semakin bingung, karena sampai malam tiba Lily terus diam dan termenung. Makan malam pun Lily enggan untuk keluar, jadi Ghara yang membawanya ke dalam kamar.
Dan sekarang di saat semua orang sudah tertidur, Lily masih terjaga, bahkan tak mengindahkan ucapan Ghara.
"Yang, lu kenapa sih? Gue salah apa sebenarnya? Kok tiba-tiba diem gitu kek orang kesambet?" cerocos Ghara karena benar-benar merasa frustasi menghadapi perubahan sikap Lily. Biasanya gadis itu bisa dia jahili, tetapi sekarang? Boro-boro bicara, melirik saja tidak!
Lily masih betah terdiam dengan pikiran kosong.
Ghara bangkit, lalu berpindah tempat tepat di hadapan Lily. Pria tampan itu segera menahan pinggang Lily yang sudah mau bergeser. "Kenapa, Yang? Mau Jeky?" goda Ghara, siapa tahu Lily marah gara-gara ingin bermain dengan ekor buayanya.
"Aku lagi pengen sendiri, jangan ganggu aku!" cetus Lily akhirnya buka suara, dia memindahkan tangan Ghara dari pinggangnya, tak mau disentuh.
Namun, Ghara tidak menyerah, dia menyilangkan kaki jenjangnya mengunci pergerakan sang istri, hingga membuat Lily berdecak.
"Ngomong sama gue kalo ada masalah!" cetus Ghara dengan tatapan mata serius. Meksipun cahaya di kamar mereka remang-remang, Lily masih bisa melihat wajah tampan itu.
Lily menggelengkan kepala. "Gak ada, aku mau tidur!"
"Lu gak biasa kayak gini, Yang. Jangan buat gue gila karena gak tahu gue harus ngelakuin apa."
"Aku cuma pengen kamu diem. Itu udah cukup! Jangan cecar aku dengan pertanyaan yang buat aku pusing!" jawab Lily, kemudian berusaha untuk menghindari tatapan suaminya. Dia kembali memunggungi Ghara.
Ghara menghela nafas panjang, akhirnya dia memilih untuk mengalah. Dia diam dan menghindar dari Lily.
"Anak gadisnya si Ale lagi kenapa lagi? Ambek-ambekkan mulu kayak bokapnya!" gerutu Ghara seraya bangkit dari ranjang. Dia mengambil satu bungkus rokok yang tersimpan di laci dan ponsel miliknya, lalu menyulut benda bernikotin itu satu batang.
Dia berdiri di depan jendela, sambil mengotak-atik ponsel, ingin mengirimi pesan pada kedua sahabatnya.
[Besok gue pengen rapat sama elu bedua. Gue tunggu di tempat biasa.]
__ADS_1
***
Mending nawarin Jeky-nya ke kita, Bang🤸🤸