Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
10.Terimakasih Papa


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 01.00 siang, Shafa memesan ojek online sepulang kuliah menuju tempat kerjanya. Saat dia memasuki cafe dia bertanya salah satu teman kerjanya tentang keberadaan Bu Anggie.


"Hesti.. Apa Bu Anggie ada di ruangannya?" Tanya Shafa membuat Hesti terkejut.


"Shafa! Eh kenapa pengantin baru malah berada disini, bukannya pergi bulan madu!Bukankah Bu Anggie sudah memberikan kamu cuti?" Hesti malah balik bertanya untuk menggodanya.


Shafa hanya mengerucutkan bibirnya, bukannya pertanyaannya dijawab malah digoda oleh rekan kerjanya.


"Pastinya sangat bahagia memiliki suami seorang kaya dan tampan.. Seperti cerita Cinderella di negri dongeng, uuhhh so sweetnya,"


Hesti senyum-senyum sendiri meletakkan kedua tangannya didepan dadanya dan membayangkan kisah Shafa dan suaminya.


" Aaaaawwww.. " Hesti mengadu kesakitan saat telinganya dijewer oleh Shafa.


"Hei teman j*hanam.. Bangunlah dari mimpimu, kau kira pernikahanku seindah itu.. Ayo cepat katakan dimana Bu Anggie! Jangan kebanyakan halu dan kepo." Ucap Shafa sedikit kesal.


"Tapi kamu punya hutang cerita padaku, kamu belum menceritakan siapa suami tampanmu itu dan bagaimana bisa kamu menikah dengannya?!"


"Dasar kepo! Iya nanti kalau ada waktu akan aku ceritakan,"


"Awas kalau kau bohong!" Kata Hesti memperingatkan. Dan Shafa mendengus kesal, dia masih malas meladeni temannya yang kepo itu.


"Bu Anggie lagi didalam, masuklah!"


"Ok Terimakasih," Kemudian Shafa mengetuk pintu ruangan Bu Anggie.


"Selamat Pagi Bu.. "


"Masuklah Shafa," Bu Anggie sedikit kaget juga.


"Bukankah aku memberikan kamu cuti, apa ada masalah penting?"


"Saya mau bicara soal pekerjaan bu," Kata Shafa sedikit sungkan.


"Bu.. Papa mertua saya tidak mengijinkan saya bekerja, saya mau mengundurkan diri dari waiters,"


Bu Anggie sebenarnya sudah bisa menebak kalau Shafa akan mengundurkan diri karena tanggungjawabnya sebagai istri, tidak mungkin dia akan pulang malam setiap hari dan mengabaikan suaminya.


"Baiklah Shafa.. Aku terima pengunduran dirimu sebagai waiters, tapi aku masih berharap kamu bisa kesini 1 atau 2 jam untuk mengisi acara di cafe karena pasti para penggemarmu akan merindukan suara indahmu," Ucap Bu Anggie.


"Terimakasih banyak atas kemurahan hati anda bu, saya juga berencana masih mengisi acara disini untuk mewujudkan mimpi saya,"


"Aku sangat suka semangatmu Shafa.. Akan sangat sedih kehilangan karyawan berpotensi sepertimu, tapi aku bersyukur kamu masih mau berada disini untuk cafeku," Ucap Bu Anggie sambil menggenggam tangan Shafa.


Shafa membalas genggaman Bossnya dan tersenyum.


"Tidak mungkin saya begitu saja meninggalkan anda yang begitu baik kepada saya bu, anda sudah seperti kakak saya sendiri dan banyak berjasa untuk saya,"


"Kalau kamu memang menganggapku kakak.. Ayolah jangan bicara terlalu formal denganku, aku ingin kita semakin akrab dan dekat untuk selanjutnya,"


"Panggil aku kakak ya.. Jangan bu lagi!" Bu Anggie menambahkan.


"Baiklah kak.. Aku akan jadi adik yang baik," Ucap Shafa dengan menyunggingkan senyum termanisnya.


"Kesinilah setiap Sabtu dan Minggu saja, jangan setiap hari, karena kamu harus menjaga suami tampanmu itu dari pelakor-pelakor yang berkeliaran." Kata Bu Anggie sambil tersenyum menggoda.


Shafa menggangguk dan tersipu malu mendengar godaan kakak angkatnya itu lalu pamit pulang.


Shafa berada di taksi online menuju mansion keluarga Hansel, tak lama kemudian seseorang laki-laki menelponnya.


"Kamu ada dimana?"


Ucap Laki-laki diseberang telpon itu.


Shafa mengernyitkan dahi sebelum menjawab, dia sangat hafal betul siapa pemilik suara itu.

__ADS_1


"Barra.. Aku berada di taksi online akan pulang menuju mansion."


"Bagaimana kamu tau nomer ponselku?" Shafa penasaran.


"Itu tidaklah sulit untukku, cepat kirimkan nomer rekeningmu!"


"Kamu dimana Barra? Jam berapa kamu akan pulang?"


"Jangan seolah-olah kamu seperti istri yang sesungguhnya! Tak perlu kamu tahu aku berada dimana dan kapan aku pulang!"


Kemudian Barrack menutup panggilan itu sepihak tanpa mendengar jawaban Shafa. Shafa sangat kesal dengan pria arogan itu dia terus mengumpatinya sambil mengetik nomer rekening yang dikirimkan ke Barrack.


"Klingg.. "


Satu pesan diterima dari Ponsel Shafa dan itu sudah pasti dari Barrack.


"Sudah aku kirim uang bulananmu, pakailah sesukamu, aku tidak peduli karena aku hanya menjalankan yang papaku mau,"


"Terimakasih Barrack.."


Shafa membalas chat itu. Dan Barrack hanya membacanya tanpa membalasnya kembali.


Shafa merasa bersedih menjadi wanita yang tak diharapkan oleh suaminya, tapi dia berjanji dalam hatinya akan selalu menjadi istri yang baik.


Setelah lama termenung tak terasa taksi itu sudah berada didepan mansion. Pelayan menghampiri Shafa yang sudah berada didalam mansion.


"Nona.. Tuan Jason sudah menunggu anda," Ucap salah seorang pelayan.


"Baiklah aku akan menemui papa,"


"Tidak usah nona, anda disuruh menunggu disini saja oleh tuan, biar saya memanggil beliau."


"Baiklah," Shafa tersenyum menggangguk.


Semua pelayan disini menyukai Shafa, dia selalu tersenyum dan berkata lembut pada setiap orang sangat berbeda jauh dengan Jenny yang angkuh dan sombong.


"Baik pa.."


Kemudian Jason menunjukan mobil Mini Cooper terbaru berwarna putih.


"Shafa.. Ini mobil untukmu," Jason menatap menantunya dengan tersenyum.


"A.. Apa.. Untuk saya pa?" Shafa menganga tak percaya.


"Iya benar ini untukmu nak,"


"Apa ini tidak berlebihan pa? Ini mobil mahal dan keluaran terbaru,"


"Sudah terimalah nak, papa akan marah kalau kamu menolaknya, dan satu lagi jangan berbicara terlalu formal dengan papa,"


"Terimakasih kasih banyak pa." Ucap Shafa penuh haru.


Jason menggangguk dan mengelus pucuk kepala menantunya sekilas,


" Oh ya.. Jadwal kursus mengemudimu mulai minggu ini selepas kamu pulang kuliah." Ucap Jason kemudian berlalu meninggalkan Shafa yang masih takjub melihat mobil barunya.



Dia seperti tidak percaya mendapatkan kemewahan ini, rasanya seperti bermimpi, baru sehari jadi menantu keluarga Hansel dia sudah menerima mobil mewah itu. Barrack juga memberinya uang bulanan yang membuatnya melotot tak percaya.


"Sungguh orang kaya, membayangkannya saja dulu aku tidak berani, sekarang malah memilikinya," Gumam Shafa sambil memegang setir mobil barunya.


Waktu terasa cepat berlalu hari ini, mungkin karena terlalu banyak kejutan dihidupnya, kini Shafa sudah berada di dapur menemani pelayan menyiapkan makanan untuk makan malam.


Setelah pekerjaan di dapur selesai dia kembali untuk membersihkan diri ke kamar, saat dia masuk tak disangka dia melihat suaminya sudah tertidur di ranjang masih memakai jas dan sepatu fantofelnya.

__ADS_1


Ada rasa kasian saat melihat suaminya seperti itu, sekarang suaminya sibuk kuliah dan bekerja. Semua itu akan menguras pikiran dan tenaganya.


"Kamu terlihat manis sekali saat tidur, tapi saat bangun kamu seperti singa yang siap menerkam,"


"Pasti kamu sangat lelah, kasian sekali kamu sampai tertidur begini," Shafa yang masih melihat dan bergumam dalam hati.


Kemudian dia pelan-pelan melepaskan sepatu suaminya agar suaminya tidak terbangun.


Selesai ritual mandinya, dia membangunkan Barrack yang masih tertidur. Dia tidak ingin suaminya itu tertidur dengan keadaan perut kosong.


"Barra.. Bangunlah.. Barra! " Shafa menggoyang-goyangkan tubuh Barrack.


Kemudian Barrack menggeliat dengan mata terpejam.


"Apa kamu tidak lapar? Setidaknya makan dan gantilah bajumu dulu," Shafa masih berusaha.


"Hhhmmmm.. Iya sedikit lagi aku bangun," Barrack menjawab dengan suara khas bangun tidurnya.


Shafa membuka pintu kamarnya dan akan turun kebawah, tapi tiba-tiba Myra mengampirinya.


"Hei kamu.. Dimana Barra?"


"Ada di dalam ma.. Dia tertidur tapi sudah saya bangunkan," Shafa sedikit gugup dan menunduk.


Shafa hampir tidak pernah berinteraksi dengan mama mertuanya, dia tahu kalau mama mertuanya itu tidak menyukainya, selalu acuh dan tidak pernah peduli dengannya.


"Kamu tahu kan aku tidak pernah setuju pernikahanmu dengan putraku, kamu dan kami berbeda status jadi jangan coba-coba memanfaatkan suamiku karena hutang budinya kepada keluargamu." Ucap Myra penuh penekanan. Kemudian dia masuk ke dalam kamar putra kesayangannya.


Hati Shafa begitu sakit seperti dihujam ribuan belati, matanya memanas dan air matanya sudah mulai menggenang hampir jatuh. Dia tidak menyangka mama mertuanya itu juga bermulut tajam seperti suaminya. Tak menganggapnya dan merendahkannya.


"Duuukkk.."


Tak sengaja dia menabrak Jessie yang berjalan juga, Jessie melihat kakaknya menghapus air matanya. Kemudian Jessie memegang bahu kakak iparnya dengan lembut dan bertanya,


"Kakak ipar kenapa kamu menangis? Apa kakakku menyakitimu? Apa yang dia perbuat kak? Biar aku menghajarnya!" Tanya Jessie.


"Tidak putri manja.. Kakak tadi habis melihat drama korea ceritanya sangat sedih, kakak masih terbawa cerita film tadi," Ucap Shafa yang berbohong.


"Benar kak?" Jessie masih penasaran.


Kemudian Shafa menggangguk dan tersenyum.


"Baiklah.. Bagaimana kalau kita nanti malam nonton drakor bersama, pasti sangat seru kalau nonton berdua," Ucap Jessie dengan girangnya.


"Ok princess!" Shafa mengedipkan sebelah matanya dan Jessie menariknya untuk makan malam ke lantai bawah.


Shafa kembali ke kamarnya setelah selesai menemani Jessica melihat drakor, dia melihat Barrack yang masih memakai kacamata dan memangku laptopnya. Ada rasa kagum yang tidak bisa diungkapkan melihat suaminya semakin menawan.


Lalu deheman Barrack membuyarkan lamunannya.


"Eheeemmm... "


"Kenapa kamu memandangku seperti itu? Apa kamu terlalu mengagumiku?" Kata Barrack.


"A.. Apa.. Terlalu percaya diri sekali kau, aku hanya ingin bicara sesuatu denganmu."


"Bicaralah!" Jawab Barrack dengan datar.


"Aku sudah tidak bekerja di cafe sebagai waiters, tapi aku akan mengisi acara setiap Sabtu dan Minggu disitu, apakah boleh aku pulang pukul 09.00 malam dari cafe itu pada Sabtu dan Minggu?"


"Mmmm.. Walaupun kamu tidak menganggapku sebagai istrimu tapi aku harus tetap ijin padamu," Ucap Shafa.


"Aku sudah bilang lakukan yang kamu mau aku tidak peduli dan kamu jangan mengurusi urusan pribadiku," Barrack membalasnya dengan nada dingin.


"Maksudku.. Tolong bantulah berbicara sama papa kalau beliau bertanya, karena aku tidak mau dicap menantu yang tidak tahu diri karena pulang malam."

__ADS_1


"Iya.." Jawab Barrack singkat.


Kemudian mereka tidur ditempat mereka masing-masing.


__ADS_2