Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
37.Salah Sangka


__ADS_3

"Ohh iya nona, tolong jangan bawakan makanan dari luar untuk pacar anda takutnya tidak steril, tinggi gula ataupun terlalu pedas karena makanan seperti itu hanya akan memperlambat kesembuhan luka Tuan Emir, harusnya anda bertanya dulu pada kami saat memberikan makanan itu pada pasien," ucap Salah satu suster itu sedikit ketus.


"Makanan dari rumah sakit ini sudah terjamin gizi dan kebersihannya jadi anda tidak usah khawatir,"


Shafa mengerutkan keningnya dia berasa sedang dimarahin ibu dari temannya karena salah membagikan makanan. Dia baru kali ini melihat suster yang bersikap berlebihan seperti itu dan lagi dia asal menyebutkan Shafa sebagai pacar Emir.


Emir melihat Ekspresi perubahan wajah Shafa merasa jadi tidak enak dan mencoba mencairkan suasana.


"Ohh ya suster, Nona Shafa membelikan saya makanan yang sehat dan bergizi kok, coba saja anda liat itu dari restoran apa?! Pasti semua juga tahu kalau restoran itu adalah restoran yang terkenal dan memakai bahan-bahan organik sebagai bahan bakunya,"


Ucapan Emir membuat kedua suster itu menunduk dan malu.


"Ohh iya satu lagi, Nona Shafa bukan pacar saya, dia adalah teman baik saja lagipula Nona Shafa sudah menikah,"


Kedua suster itu semakin merasa tidak enak dengan Shafa dan Emir.


"Maaf kelancangan kami nona, saya kira anda pacar Tuan Emir," ucap suster itu.


"Tidak masalah, yang aku tahu biasanya tenaga profesional lebih mengerti bagaimana mereka menjaga sikap," sindir Shafa.


Kedua suster itu sedikit kesal dan menahan amarahnya mendengar sindiran Shafa, tapi mereka lega ternyata Shafa bukan pacar Emir jadi mereka lebih leluasa bersaing mencari perhatian Emir.


"Oohh ya kak Emir, maaf saya harus pamit pergi ke kampus dulu, maaf tidak bisa menemani lebih lama, semoga kakak lekas membaik," ucap Shafa dengan tulus.


"Amiinnn, terimakasih banyak nona Shafa sudah membantu,"


Shafa mengangguk tersenyum dan meninggalkan ruangan Emir dirawat.


***


Beberapa minggu telah berlalu, Barrack dan Shafa sedang berada di butik memilih baju untuk persiapan acara kelulusan mereka. Walaupun masih dua bulan lagi tapi Shafa begitu antusias mengajak suaminya memilih baju yang akan mereka kenakan.


Mereka mencoba beberapa baju bersama di fitting room, dengan sekali-kali bercanda dan tertawa bersama.


"Baby.. Kita ini mau kelulusan cari saja yang lebih simple, Jangan memakai kebaya seperti itu! Memangnya kamu mau melaksanakan pernikahan lagi?"


Terlihat Shafa sangat cantik mamakai kebaya yang glamor dan panjang dibagian belakangnya.


"Memangnya boleh?" Shafa menjulurkan lidahnya.


"Eh?!" Barrack membulatkan matanya.

__ADS_1


"Kamu itu cuma milikku, Satu-satunya untukku saja! Enak saja mau menikah lagi," ucap Barrack yang mengerucutkan bibirnya. Shafa tertawa terbahak melihat Ekspresi suaminya yang lucu itu.


"Kan aku mau mengadakan resepsi pernikahan kita sayang, biar semua orang tahu status pernikahan kita dan para wanita penggoda tidak ada yang berani mendekati suamiku lagi,"


"Tidak akan ada yang mendekatiku baby! Lagipula siapa yang akan berani mendekatiku, bisa-bisa mereka masuk rumah sakit dan patah tulang saat berkelahi dengan macan sepertimu!" Barrack memutar malas bola matanya. Dan Shafa tertawa penuh kesombongan.


Sampai notifikasi ponsel Barrack menghentikan candaan mereka.


"Drtttt.. Drtttt.. Drtttt.. "


Ada satu pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke ponselnya. Terlihat karena pesan masuk itu raut wajah Barrack memerah menahan amarahnya dan seketika moodnya berubah menjadi sangat buruk.


"Ada apa sayang?" tanya Shafa.


"Tidak ada, ayo kita pulang! Ada urusan yang harus kita selesaikan," Barrack berjalan meninggalkan Shafa dan istrinya itu mengikutinya dari belakang.


"Apa ada masalah Sayang?" ucap Shafa dengan penasaran. Barrack masih terus berjalan ke arah mobilnya dengan mode diamnya.


Barrack masuk mobil dan Shafa mengikuti suaminya dengan tergesa-gesa dan banyak tanda tanya dikepalanya.


***


"Buka dan Lihat ini!" Barrack berteriak dan melemparkan ponselnya ke ranjangnya.


Sontak Shafa kaget mendengar Barrack yang membentaknya, dia mengambil ponsel Barrack.


Dia membuka layar ponsel suaminya dan alangkah terkejutnya Dia, melihat banyak fotonya yang terlihat intim bersama Emir. Foto pertama, kedua dan ketiga terlihat Emir memegang tangannya, memeluknya dan menempelkan b*birnya pada rambut Shafa.


Foto keempat terlihat Shafa menyuapi Emir saat di rumah sakit dan foto kelima Emir memegang tangan Shafa padahal kenyataannya Shafa hanya memberikan tissu pada Emir agar mengelap makanannya yang berantakan.


"Apa kamu bisa jelaskan semua ini!!" ucap Barrack menahan emosi.


"Sayang ini tidak seperti yang kau pikiran! Kau salah sangka sayang! Percayalah, aku dan Kak Emir tidak ada hubungan apa-apa," Shafa mencoba bersikap lembut walaupun dirinya begitu terluka melihat suaminya meragukan kesetiaannya.


"Cihhh! Tidak ada hubungan apa-apa bagaimana?! Sampai kalian sering bertemu dibelakangku!"


"Tiga foto ini.. Ini kami tidak sengaja bertemu di cafe sayang dan itu dengan banyak temanku kuliah kami hanya tak sengaja bertabrakan sayang! Dan dua foto ini kamu pasti tahu kalau waktu itu aku menjenguknya ke rumah sakit karena dia butuh bantuan dan aku kan sudah menjelaskan semuanya kemarin, Sayang percayalah padaku ini semua tidak seperti yang terlihat, semua foto ini hanya untuk membuat hubungan kita memburuk," Shafa mulai menahan tangisnya.


"Aku sudah sering kali mengingatkan padamu untuk tidak berhubungan dengan laki-laki itu! Aku tau dari tatapannya itu, dia sangat menginginkanmu!" Barrack meninggikan suaranya lagi.


"Sayang maafkan aku, aku mohon maafkan aku, aku janji akan menghindarinya walaupun kami tidak sengaja bertemu, tapi tolong jangan meragukanku,"

__ADS_1


Airmata Shafa akhirnya jatuh juga, dia benar-benar takut suaminya membencinya, dia takut suaminya meninggalkannya dan cinta suaminya padanya hilang seketika. Selama bertahun-tahun dia mencintai suaminya dan mengorbankan segala hal untuk membuat suaminya membalas perasaannya, dia tidak mau hanya karena foto, hubungan yang mereka bangun selama ini hancur begitu saja.


"Sudah jangan menangis lagi! Aku sedang tidak ingin berdebat," Barrack pergi meninggalkan istrinya yang masih berlinang airmata.


Sebenarnya dia ingin menghapus airmata istrinya dan memeluk istrinya dengan erat, tapi hatinya masih terasa sakit terbayang foto Shafa bersama Emir. Akhirnya Dia memutuskan pergi sebentar untuk menenangkan pikirannya.


Barrack sebenarnya ingin ke club untuk minum tapi dia pernah berjanji pada ibu mertuanya tidak akan mabuk-mabukan lagi saat ada masalah. Akhirnya dia memutuskan pergi ke Cafe milik Kak Anggie.


Dia berada di lantai atas Cafe itu selama berjam-jam. Dia memegang cerutunya, Memandang suasana kota dan jalan raya yang ramai dari sana. Perlahan suasana hatinya semakin membaik, dia juga mempertimbangkan kesalahan terbesarnya pada istrinya, bahkan sampai sekarang dia belum ada keberanian untuk berbicara jujur.


Saat dia akan meninggalkan Cafe, Tiba-tiba seseorang dari belakang memeluknya.


"Sayang kamu juga disini, aku sangat.. "


Belum wanita itu menyelesaikan kalimatnya Barrack sudah menepis kasar pelukan wanita itu.


"Apa-apaan kamu Jenny! Ini tempat umum! Jaga sikapmu! Semua orang disini mengenal istriku, aku tidak mau dia salah paham dengan sikapmu," ucap Barrack yang kesal. Kedatangan Jenny membuat moodnya memburuk lagi.


"Ayo kita bicara ditempat lain, jangan disini!" Ucap Barrack kemudian pergi meninggalkan cafe.


Jenny mengikutinya dari belakang sampai mobil keduanya tiba di sebuah restoran mewah dengan fasilitas privat room didalamnya. Setelah Barrack dan Jenny memesan makanannya. Jenny mencoba mendekati Barrack dan berusaha memeluknya lagi.


"Sayang aku sangat merindukanmu," ucap Jenny dengan nada manjanya dan kembali memeluk Barrack.


"Jenny tolong jangan seperti ini, kita hanya teman tidak ada hubungan apapun lagi," Barrack menepis pelukan itu. Lagi-lagi penolakan itu membuat Jenny sangat kesal dan malu tapi dia berusaha menahan kekesalannya.


"Hmmm.. Soal kejadian yang kemarin, tolong anggaplah sebagai kesalahan yang tidak segaja, aku tidak bisa menikahimu atau menduakan istriku, aku tidak mencintaimu lagi, aku akan memberikan yang kamu inginkan selain menikahimu dan kau tahu pasti, papaku tidak akan diam saja, resiko yang kamu dapat akan lebih besar kalau papaku tahu masalah ini,"


Jenny tidak bisa berkata-kata, dia tahu sepak terjang Tuan Jason dari papanya. Tuan Jason akan melakukan segala cara untuk melindungi keluarganya jika keluarganya diusik.


"Tapi aku mohon saat aku membutuhkan teman, tolong jangan menghindar dariku, aku masih membutuhkanmu Barra, aku tidak bisa jauh darimu," ucap Jenny memelas.


"Kalau kamu terus memintaku menemanimu lalu sampai kapan kamu bisa melupakanku Jenny?! Kamu tidak akan bisa menemukan kekasih yang lain jika yang kamu pikirkan hanya aku! Cobalah untuk melupakanku dan masa lalu kita!" ujar Barrack yang sudah mulai hilang kesabaran.


"Lalu siapa yang akan mau menjadi kekasihku Barra? Sedangkan aku sudah ternoda, siapa yang mau menerima wanita sepertiku ini?" ucap Jenny yang berpura-pura menangis.


Ucapan Jenny serasa sebuah tamparan untuknya, Dia mungkin bukan laki-laki yang baik tapi dia tidak pernah bermain wanita sebelumnya karena dia sangat menyayangi mama dan adiknya, pantang baginya mempermainkan wanita. Dan sekarang secara tidak sengaja dia menghancurkan seorang wanita. Dia sangat frustasi, dia tidak tahu apa yang bisa dia perbuat untuk menghapus kesalahannya.


"Jenny.. Tolong jangan menangis! Aku minta maaf, aku tidak bisa menjanjikan apapun untukmu, tapi akan aku pastikan kamu akan menemukan laki-laki yang baik dan menerimamu apa adanya, aku yakin suatu saat nanti kamu pasti menemukan laki-laki yang tepat disaat yang tepat," ucap Barrack dengan tulus.


Dia tidak pandai memberikan kata-kata penghibur untuk mantannya itu. Dia hanya berusaha menjadi teman yang baik untuk Jenny. Jenny hanya terdiam mendengarkan ucapan Barrack, memaksa Barrack terus juga akan berakhir sia-sia. Dan kemudian mereka melanjutkan makan malam mereka.

__ADS_1


__ADS_2