Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
33.Khawatir


__ADS_3

Pada suatu malam Barrack berada di kantornya, dia sedikit pulang telat malam ini karena beberapa pekerjaan belum terselesaikan. Sebelumnya dia sudah mengabari istrinya akan pulang telat karena banyak pekerjaan di kantor, sedangkan Shafa mulai sibuk dengan pengerjaan skripsinya yang sudah mencapai 90 persen. Dia sangat bahagia sebentar lagi dia bisa lulus kuliahnya.


Di Mansion Shafa terlihat sibuk membaca beberapa buku tebal untuk referensinya. Saat dia melihat sebuah buku didepannya, tiba-tiba dia teringat dengan Emir yang tak sengaja bertemu dengannya di sebuah cafe beberapa hari lalu.


*Flashback on


Shafa sedang berada di Cafe bersama teman-teman kuliahnya, mereka nongkrong sembari mengerjakan skripsi mereka dan sesekali bercanda. Dan tak diduga seseorang laki-laki tampan yang dia kenal berjalan menghampirinya.


"Hai Nona Shafa, Bagaimana kabar anda?" sapa Emir pada Shafa.


"Alhamdulillah seperti yang kakak lihat, aku baik sekali, lalu bagaimana kabar kakak? Tolong jangan terlalu formal bicara denganku kak, kita bicara seperti seorang teman saja kita ini bukan relasi bisnis kak," kata Shafa yang tertawa kecil pada Emir.


Emir semakin jatuh cinta pada sosok wanita yang ada di depannya itu, terlihat sangat cantik dan sikapnya begitu manis.


"Alhamdulillah aku pun juga sangat baik nona, aku senang kita bisa bertemu lagi,"


Terlihat teman-teman Shafa menyenggol bahunya dan menatap Shafa seolah bertanya. Lalu Shafa memperkenalkan teman-temannya kepada Emir.


"Ahh iya Kak Emir, kenalkan ini teman-teman kuliahku," ujar Shafa.


Lalu mereka memperkenalkan diri satu persatu pada Emir dan salah satu dari mereka mengajak Emir bergabung bersama dengan mereka.


"Kak Emir, mari bergabunglah dengan kami, kita bisa ngobrol santai disini," ajak salah satu teman Shafa.


Dan Emir menyambutnya dengan senyum termanisnya dan para wanita disitu terlihat jatuh hati pada Emir kecuali Shafa. Emir sangat bahagia karena memiliki kesempatan dekat dengan Shafa dan bisa ngobrol banyak dengannya.


Terlihat Emir duduk di antara mereka dan dia memberikan sebuah buku tebal pada Shafa.


"Nona Shafa, aku rasa buku ini akan sangat berguna untukmu, buku ini milik kakakku dia juga kuliah jurusan hukum. Terimalah sebagai tanda pertemanan kita,"


Terlihat Emir menyodorkan sebuah buku pada Shafa, Shafa sebenarnya tidak ingin menerima pemberian dari orang lain tapi dia merasa tidak enak kalau dia menolak apalagi buku yang Emir berikan adalah buku yang beberapa hari ini dia cari.


"Baiklah terimakasih banyak kak, aku memang sedang mencari buku seperti ini," ucap Shafa tersenyum pada Emir dan Emir pun mengangguk.


Beberapa teman Shafa berdehem, mereka terlihat mendekati Emir dan banyak bertanya tentang kehidupan Emir. Emir berasal dari salah satu negara Timur Tengah dan itu juga terlihat dari wajahnya yang tampan bak pangeran dari dubai. Keluarga Emir juga berada di negara asalnya dan Dia sudah lama tinggal di Indonesia untuk bekerja jadi dia sudah menguasai bahasa Indonesia. Shafa hanya mendengarkan yang mereka bicarakan dan sesekali tersenyum mendengar teman-temannya menggoda Emir.


Saat Shafa akan ke toilet wanita, tak disangka Emir juga berdiri dan akan ke toilet juga, sontak tubuh Shafa yang kecil menabrak tubuh Emir yang tinggi dan atletis itu sampai Shafa terhuyung dan akan jatuh.


"Auuwwhhh.. " Shafa mengaduh pelan.


Dengan sigap Emir menangkap tubuh Shafa, Dia mencium aroma wangi tubuh wanita itu membuatnya sangat nyaman dan seperti tak ingin melepaskannya. Seperkian detik mata mereka bertemu dan dengan cepat Shafa melepaskan cekalan Emir.


"Ahhh, maaf Kak Emir," ucap Shafa tersenyum kikuk.


"Tidak masalah nona," balas Emir.

__ADS_1


"Ehemm, Ingat Suami di rumah Bund! Jangan sampai liat yang bening dikit langsung meleng!" goda salah satu teman kuliahnya seolah-olah mengingatkan Shafa akan suaminya.


"Hussshhh.. " ucap Shafa dan berlalu ke toilet.


Kemudian mereka melanjutkan obrolan mereka, setelah beberapa jam berlalu akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.


*Flashback off


**


Saat Barrack merapikan berkas-berkasnya dan akan bersiap untuk pulang, suara ponselnya menghentikan kegiatannya.


"Drtttt.. Drtttt.. Drtttt.. "


"Hallo, iya Jenny? Ada apa?"


Terlihat diseberang telfon Jenny menangis tersedu-sedu seperti berada di Club malam. Tomy mengernyitkan dahinya mendengar Jenny masih menghubungi bossnya itu.


"Barrack, aku sudah berusaha melupakanmu tapi aku tidak bisa, bagaimana mungkin hubungan yang kita bangun bertahun-tahun hancur dalam sekejap saja? Aku tidak bisa kehilanganmu, Aku tidak bisa hidup tanpamu Barrack, aku sudah putus asa," ucap Jenny dengan tangisannya.


"Tenangkan dirimu Jenny, aku minta maaf aku yang salah memberimu harapan tapi aku tidak bisa memenuhinya," ucap Barrack menenangkan.


"Lebih baik aku mati saja Barrack, aku hidup tapi seperti tidak memiliki jiwa, buat apa aku hidup," Jenny yang masih tersedu-sedu.


Dia merasa bersalah dengan keadaan Jenny yang putus asa seperti itu, karena dirinyalah Jenny menjadi seperti itu. Dia tidak bisa memaksakan perasaannya karena cintanya untuk Jenny sudah tidak tersisa, cintanya saat ini hanya untuk istrinya.


"Tom.. "


"Iya Boss.. "


"Kau pulanglah duluan, aku mau menemui Jenny sebentar aku hanya kasian melihatnya patah hati gara-gara aku, tolong jangan bilang apapun pada istriku maupun papaku!" pinta Barrack.


"Baik boss."


Kemudian Barrack melajukan mobilnya ke lokasi yang telah dikirim Jenny padanya.


Beberapa saat kemudian Barrack tiba di salah satu Club malam. Dia melihat Jenny yang minum sambil menangis seperti orang putus asa dan memanggil-manggil nama Barrack. Barrack sangat iba melihat Jenny yang seperti itu, kemudian Barrack menghampirinya.


"Jenny, hentikan jangan minum terus! Bagaimana jika teman-temanmu mengetahui kamu yang seperti ini? Bisa-bisa mereka menertawakan keadaanmu yang seperti ini," ucap Barrack dengan nada lembut dan memegang tangan Jenny agar tidak meminum vodkanya lagi.


"Biarkan Barrack, jangan halangi aku! Biarkan aku minum sampai aku mati! Mungkin dengan kematian aku bisa menghilangkan rasa sakit ini, bisa melupakan semua kenangan kita," Jenny semakin terisak dan Barrack reflek memeluknya.


"Maafkan aku Jenny, maafkan aku tidak bisa kembali lagi padamu, tolong mengertilah posisiku!"


"Kalau begitu biar aku minum racun ini saja biar aku lebih cepat meninggalkan dunia ini, aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini!"

__ADS_1


Terlihat Jenny membawa bungkusan kecil ditangannya dan akan meminum racun itu, tapi dengan cepat Barrack merebutnya dan membuang racun itu ke sembarang arah.


"Apa kau sudah gila Jenny! Jangan berbuat nekad! Bagaimana papa mamamu kalau tahu anak kesayangannya bunuh diri? Apa kamu tidak kasihan dengan mereka?!" Barrack memperingatkan sedikit keras.


"Tak ada yang berarti di dunia ini selain kamu sayang, kalau kamu tidak bisa kumiliki lebih baik aku mati saja!" Jenny menangis lagi dengan histeris dan semua orang disana melihat mereka dengan tatapan aneh.


"Baiklah, ayo kita pulang! Aku akan menemanimu di Apartemenmu sampai perasaanmu lebih tenang," ajak Barrack.


Barrack tidak tega meninggalkan mantan kekasihnya itu begitu saja, dia berusaha menenangkan Jenny agar tidak berbuat nekad. Sebelum pergi dari sana Barrack meminum minuman yang telah dia pesan dan membayar semua bill miliknya dan milik Jenny.


Kebetulan Club malam itu dekat dengan Apartemen milik Jenny hanya 10 menit saja mereka telah sampai di Apartemen Jenny. Saat berada di mobil tadi Barrack merasa kepalanya tiba-tiba pusing dan sedikit tidak fokus menyetir tapi dia berusaha agar tidak hilang kesadaran. Dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi tapi dia menepis perasaan itu.


Saat hampir memasuki Apartemen Jenny, tiba-tiba Barrack jatuh pingsan dan hilang kesadaran. Jenny dibantu oleh seseorang laki-laki membawa Barrack masuk ke dalam Apartemennya dan merebahkan tubuh Barrack di ranjang miliknya.


Jenny terlihat melepas pakaiannya dan pakaian Barrack dan tersisa hanya d***man mereka. Dia menc*umi tubuh laki-laki yang dia puja-puja itu dan memb*lainya dengan m*sra.


**


Sedangkan di Mansion Keluarga Hansel terlihat Shafa masih didepan laptopnya, mengerjakan skripsinya dengan gigih. Dan tak sadar tiba-tiba..


"Prankkkkkkkk!!!"


"Astaghfirullah.."


Gelas berisi Kopi itu tak sengaja tersenggol siku Shafa sampai semuanya berserakan di lantai.


"Ya Allah, ceroboh sekali aku ini, duh ada-ada aja tangan ini ya!"


"Eh jam berapa ya sekarang? Kok Barrack belum pulang juga? Apa belum selesai pekerjaannya di Kantor?" Shafa bergumam bertanya pada dirinya sendiri.


"Wahhh ternyata sudah jam 11 malam, aku coba hubungi saja dia, nanti dia sakit kalau terus-terusan bekerja,"


Shafa mencoba menelfon suaminya berkali-kali tapi tidak ada jawaban, lalu dia mencoba menelfon Tomy untuk memastikan keadaan suaminya.


"Tutt... Tuuttt.. Tuttt.. "


"Hallo.. Iya nona Shafa? Ada yang bisa saya bantu?"


"Tom, apa suamiku bersamamu? Daritadi aku menelfonnya tapi tidak ada jawaban, apa pekerjaan kalian masih banyak?" tanya Shafa.


Sontak Tomy kaget mendengar bossnya itu belum pulang, padahal mereka sudah pulang dari pukul 08.00 malam tadi. Dia tidak mungkin berkata bahwa Barrack menemui mantan kekasihnya, bisa-bisa sepasang boss mudanya itu akan bertengkar hebat.


Dia sedang memikirkan alasan apa yang tepat untuk menghindarkan bossnya dari masalah.


"Tom, apa kamu masih disana? Apa kau mendengarku?" tanya Shafa lagi.

__ADS_1


__ADS_2