
"Shafa.. Kau tau Barrack itu sangat menyebalkan dan pemarah, aku sepuluh kali lebih baik dari Barrack, tinggalkan saja dia dan mari kita menikah!" goda Gery.
Shafa hanya tersenyum lucu melihat Gery yang terang-terangan menggodanya didepan suaminya.
"Yahh.. Walaupun aku menyebalkan dan pemarah, setidaknya aku bukan cassanova sejati seperti dirimu. Kalau Shafa bersama orang seperti mu, bisa-bisa Shafa terkena stroke muda melihat kelakuan terkutukmu!" cibir Barrack, lalu melihat benda berharga yang ada dibalik c*lana Gery.
"Atau malah s*njata andalanmu itu yang akan dipatahkan kecil-kecil oleh Shafa dan dilemparkan ke kandang buaya! Kau tau? Kau tidak bisa macam-macam dengan wanita yang jago beladiri," Barrack memperingatkan.
Sontak Gery memegang aset berharga miliknya dengan dua tangannya. Dan mereka berempat tertawa terbahak melihat ekspresi Gery yang ngeri sekaligus panik.
"B******k kau Barrack! Dasar psikopat j*h*n*m!" umpat Gery dengan kesal.
Akhirnya mereka makan bersama di kantin dengan hati bahagia, dan melanjutkan pergi ke kelas mereka masing-masing.
***
Kini Shafa dan Barrack sudah berada di kantor miliknya. Shafa memutuskan untuk menemani suaminya seharian. Shafa mempelajari data-data perusahaan, Barrack mengajarinya tentang bisnis dan memperlihatkan semua tugasnya di Perusahaan.
Awalnya Shafa pusing melihat data dan angka-angka disana tapi dengan telaten Barrack mengajari istrinya sedikit demi sedikit.
Shafa adalah Mahasiswa Jurusan Hukum dan berbanding terbalik dengan kecintaannya kepada seni musik, tapi dia juga mengambil kelas musik secara online, jadi agak memusingkan bagi dirinya mempelajari hal baru didepannya.
"Lebih baik aku dimarahin dosen karena salah menghafalkan pasal-pasal atau beradu argumen sengit dengannya daripada melihat angka-angka beserta prosentase dan teman-temannya, membuatku pusing saja!" keluh Shafa.
Barrack tersenyum lucu melihat istrinya yang sedang mengeluh, seperti murid yang mendapatkan banyak tugas dari gurunya.
"Setidaknya kalau kamu memahami dan mengerti pekerjaanku, aku tidak perlu mencari sekretaris baru untuk membantuku di Perusahaan,"
"Memangnya mau kau kemanakan sekretarismu itu sayang?"
"Rencananya beberapa bulan lagi dia mau resign, dia tidak diperbolehkan suaminya bekerja lagi,"
"Yakin mau menjadikanku sekretaris?" tanya Shafa.
"Yakin sayang, aku tau kamu wanita yang pandai, pasti tidak sulit membuatmu memahami pekerjaan ini," puji Barrack.
"Kalau aku yang jadi sekretarismu, bisa-bisa pekerjaanmu terbengkalai karena setiap hari kamu akan mengurungku didalam ruangan ini dan mengabaikan pekerjaanmu," cibir Shafa dan seketika Barrack tersenyum menyeringai.
"Terimakasih telah mengingatkan sesuatu sayang," kata Barrack memandang istrinya penuh g*irah.
Lalu Barrack mendekat pelan-pelan ke arah Shafa yang sedang duduk di sofa dengan senyum nakalnya. Dan tiba-tiba Shafa menyadari dia baru saja salah berucap dan membangunkan singanya yang sedang kelaparan.
"Apa yang mau kamu lakukan sayang?! Awas jangan macam-macam kau! Ini di kantor sayang, jangan mendekat lagi disitu sa..!"
"Cup.. "
__ADS_1
Seketika B*bir Barrack membungkam b*bir istrinya dan menc*umnya dengan ganas. Dan siang itu terjadi lagi adegan p*nas yang terjadi di dalam ruangan Barrack. Dan Shafa hanya pasrah menikmati s*ntuhan sang suami.
***
Di tempat lain, terlihat Zain sedang nongkrong bersama kawan-kawannya di depan Cafe sebelah kampusnya. Seseorang memakai Jas hitam dan kacamata hitam menghampirinya.
"Selamat siang anak muda, tuan besar saya ingin bertemu denganmu, mari ikut saya," ucap laki-laki berjas hitam itu kepada Zain dan Zain mengangguk patuh lalu mengikuti orang itu.
Teman-teman Zain menepuk bahu Zain dan memandangnya seolah tatapan dari temannya itu mengandung sebuah tanya, dan Zain hanya membalas dengan menggangkat bahunya.
Zain masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam dan benar saja, Tuan Henry sudah menunggunya disana. Dan supir pun melajukan mobilnya menuju restoran yang sudah dipesan asistennya.
Saat sampai di room restoran mewah itu Tuan Henry memulai pembicaraannya kepada Zain dan dia menyuruh Zain memilih menu makan siangnya.
"Bagaimana kabarmu anak muda?" tanya Tuan Henry.
"Alhamdulillah saya sangat baik Tuan, Bagaimana dengan kabar anda juga Tuan?"
"Seperti yang kau lihat aku juga baik-baik saja,"
"Maaf sebelumnya, ada keperluan apa Tuan Sampai menjemput saya di Kampus dan membawa saya ke restoran semewah ini?" tanya Zain dengan penasaran.
"Sebelumnya aku akan menceritakan kehidupan pribadiku sedikit denganmu," kata Tuan Henry.
"Aku membangun kerajaan bisnisku di Inggris, aku membutuhkan orang sepertimu untuk mendampingiku, seorang laki-laki yang kuat dan pemberani, Instingku mengatakan kamu adalah laki-laki yang bisa dipercaya dan sangat cerdas," puji Tuan Henry pada Zain.
"Aahh.. Tuan terlalu memuji saya, kemampuan saya tidak sebesar itu! Saya belum mengenal dunia bisnis, pengalaman saya juga belum terlalu banyak, rasanya tidak pantas saya mendampingi orang besar seperti anda," Zain balas memujinya.
"Aku tau semua hal tentangmu anak muda, beberapa hari ini aku menyelidiki kehidupanmu, tidak ada catatan keburukan darimu, kurasa aku telah menemukan orang yang tepat mendampingiku mengelola bisnisku di Inggris,"
"Ikutlah denganku ke Inggris, aku akan membiayai semua pendidikanmu, memberi fasilitas dan kemewahan terbaik milikku untukmu, kalau perlu ajaklah ibu dan kakakmu pindah kesana, dengan senang hati aku akan menjadi keluarga baru kalian,"
"Maaf kalau perkataanku menyinggung anda Tuan, sebenarnya apa motif anda begitu baik kepada saya? Awalnya kami menerima uang yang sangat besar dari anda padahal kita hanya orang asing yang hanya kebetulan bertemu, lalu sekarang anda menawarkan kehidupan mewah untuk kami, tentu seorang pebisnis seperti anda tidak akan memberikan semua itu cuma-cuma kan?" tanya Zain dengan penasaran.
"Hahaha.. Kamu pintar sekali anak muda, seperti yang aku bilang, aku hanya membutuhkan dirimu untuk menjadi pendampingku dan menjadi orang kepercayaanku, karena persaingan bisnis diluar negeri itu lebih menakutkan dari yang orang pikirkan. Mereka bisa melakukan berbagai cara licik dan cara kotor untuk mencapai tujuan, bahkan nyawa manusia tidak berarti apa-apa untuk mereka,"
"Seperti yang kemarin kau lihat, rival bisnisku dari sana sampai menyewa pembunuh bayaran dari negara ini hanya untuk menc*lik dan memb*nuhku, tapi sungguh beruntung kamu telah menyelamatkanku, jadi bagiku uang satu milyar itu tidak berarti apa-apa untukku dibandingkan dengan keselamatanku. Pikirkan baik-baik anak muda, kamu bisa mengembangkan ilmu dan pengalaman bisnis bersamaku, saat kamu memiliki kedudukan tinggi dalam dunia bisnis, kamu bisa melindungi orang-orang yang kamu sayangi dan tidak menutup kemungkinan resikonya juga besar tapi aku yakin kamu bisa dengan mudah mengatasinya, apakah kamu tidak ingin menjadi pebisnis yang sukses dan disegani setiap orang?" Tuan Henry memberi sedikit motivasi.
Zain Menimbang-nimbang perkataan Tuan Henry dan memikirkan baik atau buruk untuknya, tapi dia masih juga belum bisa memutuskan. Kemudian Tuan Henry mengajak Zain melanjutkan makan siang mereka sampai selesai.
Zain Berdehem untuk memulai pembicaraan mereka lagi.
"Ehemm.. Baiklah Tuan.. Terimakasih atas kebaikan anda, saya akan memikirkannya lagi perkataan anda dan terimakasih juga untuk makan siangnya," kata Zain.
"Ini kartu namaku anak muda, jangan malu meminta bantuan kalau kamu membutuhkan bantuanku! Supirku akan mengantarkanmu ketempat tadi dan aku akan kembali ke negara asalku lagi hari ini. Terimakasih telah menyelamatkan hidupku, aku berhutang nyawa padamu anak muda,"
__ADS_1
"Tidak masalah Tuan, anda juga sangat baik kepada saya, sampai jumpa kembali Tuan," ucap Zain kemudian mengangguk kepada Tuan Henry.
Tuan Henry tersenyum dan membalas anggukan Zain dan dia kembali ke tempat teman-temannya yang masih nongkrong di Cafe.
"Zain.. Siapa tuh tadi?"
"Jangan-jangan tuh Sugar Daddy lo ya?! " tanya salah satu teman Zain.
"Jangan-jangan selama ini temen kita yang ganteng dan keliatan nggak suka cewek ini ternyata g*g*lo!" satu temannya lain menyahuti.
"P*mu*s n*fs* om-om kaya yang kesepian, iyuuhhhhhh!" ledek teman Zain dengan ekspresi jijik.
"B*******t lo pada.. Lo kira gue seb*jat itu! Lo kira gue laki feminim! Amit-amit dah! Kayaknya otak-otak lo pada minta dibersihin pake cairan pembersih WC biar gak kelewat k*tor kek ***," ejek Zain.
"Lagian nih ya.. Gue sama tuh om-om cuma keluar sejam lebih doank mana ada jadi g*g*lo disewa sejam doank, rugi bandarlah dia! Dia cuma mau jadiin gue mantunya, secara gue kan ganteng dan jenius," ucap Zain sombong dan menepuk-nepuk tangan didadanya.
"Idiiiihh najis!" seru salah satu temannya.
Mereka tidak ambil pusing urusan Zain yang penting bagi mereka adalah Zain orang yang setia kawan dan sering membantu mengajari mata kuliah yang belum mereka mengerti karena kecerdasan Zain diatas rata-rata. Mereka lebih paham jika Zain yang menjelaskan dengan gaya slengek-annya.
Lalu Zain dan teman-temannya kembali Mabar di Cafe sebelah kampus mereka sampai sore menjelang.
***
Sepulang kuliah Shafa pergi ke Toko Buku, tak sengaja Shafa ditabrak pemuda berparas tampan, hidungnya mancung dan kulitnya putih bersih. Wajahnya Bak seorang pangeran dari Dubai.
"Aaahhhh.." Shafa berteriak kaget karena bahunya terbentur dengan punggung pemuda tampan itu.
"Maaf nona saya tidak sengaja, saya tidak melihat anda disitu," ucap pemuda itu dan tersenyum manis pada Shafa.
"Tidak masalah kak, saya hanya terkejut saja!" ucap Shafa lalu tersenyum membalas senyuman pemuda itu.
"Sepertinya nona bukan orang sini ya? Kok saya tidak pernah melihat wajah nona? " tanya pemuda tampan itu.
"Ahh.. Iya saya memang jarang ke toko buku ini karena kebetulan lewat saja, saya lebih sering ke Toko Buku G karena lebih lengkap," jawab Shafa seadanya.
"Perkenalkan nama saya Emir, senang berjumpa dengan nona cantik seperti anda," Pemuda tampan itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan pada Shafa.
Shafa tersenyum malu mendengar pujian dari pemuda itu. Dia menyambut uluran tangan itu dan memperkenalkan diri juga.
"Nama saya Shafa, senang juga berjumpa dengan anda," ucap Shafa.
"Apa Nona kuliah Jurusan Hukum? Saya lihat nona membeli Buku-buku mengenai Hukum,"
"Iya kak, saya memang sedang menjalani kuliah Jurusan Hukum dan sudah berada disemester 7," jawab Shafa.
__ADS_1