
"Tolong saya Tuan Barrack, Nona Shafa saya sedang dikejar para perampok," pinta Emir terbata-bata.
Terlihat dia sudah tidak berdaya lagi dan Barrack membantunya duduk di kursi mobilnya pelan-pelan.
Para perampok berjumlah 5 orang itu mendekat dan tersenyum kemenangan. Mereka merasa mendapatkan mangsa yang lebih besar lagi.
"Hei kau b*****h! Serahkan semua harta bendamu! Atau kau akan aku b*nuh dan istrimu yang cantik itu akan kami n*kmati bersama! Hahaha!" ucap Perampok itu penuh kesombongan.
Saat mendengar istrinya dilecehkan sontak Barrack mengepalkan tangannya sampai semua otot-otot tangan dan kepalanya keluar, wajahnya merah menahan amarah dan Tatapan matanya begitu menakutkan.
"Baiklah, Ayo lawan aku! JANGAN MEMINTA PENGAMPUNAN DARIKU SETELAH INI!" teriak Barrack dan tersenyum menyeringai.
Kemudian mereka berlima menyerang Barrack bersamaan, Barrack menangkis pukulan dari kelima laki-laki itu. Dan dari belakang mereka, Shafa menendang dan memukul kepala dua orang laki-laki diantara mereka dengan kuat.
"Bugghhh... Bughhhh.. Bugghhh.."
Lalu keduanya jatuh tersungkur, sontak dua laki-laki yang telah dilumpuhkan Shafa menoleh ke arah Shafa.
Mereka bangkit dan menyerang Shafa, dengan cepat Shafa memukul berkali-kali, menendang dan melumpuhkan kedua laki-laki itu sampai mereka tak berdaya. Begitu juga Barrack, dia menghajar tiga laki-laki didepannya secara bergantian dengan sangat br*ngas, kekuatan mereka tidak sebanding dengan Barrack yang sudah terlatih sejak kecil.
Dia melampiaskan semua kemarahan, kekesalan dan kekacauan dalam hatinya pada para penjahat itu. Bukannya merasa sial tapi dia merasa beruntung bertemu dengan para penjahat itu sebagai pelampiasannya. Saat salah satu penjahat itu mengeluarkan pisaunya dan hampir menusuk Barrack, dengan cepat Shafa menendang tangan laki-laki itu.
"Dughhhhh.. "
Sehingga hanya tergores di tangan Barrack saja. Barrack kembali menghajar mereka sampai mereka hampir sekarat.
"Bugghhh.. Bugghhh.. Bughhhh.. "
"Arrrgghhh.. Ampun Tuan! Ampun! Arrggghhh.."
Terdengar raungan dan permintaan ampun dari penjahat-penjahat itu.
Shafa menghentikan aksi br*tal suaminya agar tidak ada yang mati di tempat, dia tidak pernah melihat Barrack meluapkan kemarahan sampai seperti itu.
"Sayang, hentikan! Kau akan membunuh mereka! Kendalikan amarahmu sayang!" Barrack pun menghentikan aksinya saat mendengar ucapan istrinya.
Dia mulai mengatur deru nafasnya dan meredam amarahnya perlahan.
"KALAU AKU LIHAT KALIAN MASIH BERKELIARAN DISINI, SAAT ITU JUGA AKU TIDAK AKAN SEGAN MEMB*NUH KALIAN, PERGI!" teriak Barrack dengan tatapan memb*nuhnya. Dan semua perampok itu lari terbirit-birit.
Kemudian mereka membawa Emir ke Rumah sakit untuk diobati. Dokter menyarankan Emir dirawat di Rumah sakit terlebih dulu agar kondisinya membaik. Barrack dan Shafa menghampiri Emir yang telah dirawat dokter.
"Bagaimana kondisimu? Apa sudah lebih baik?" tanya Barrack dengan datar.
"Saya sudah lebih baik Tuan Muda, berkat bantuan anda dan nona Shafa, terimakasih banyak atas bantuan anda," ucap Emir yang tersenyum mengangguk.
__ADS_1
Barrack mengangguk tanpa Ekspresi dan Shafa membalas anggukan dan tersenyum juga kepada Emir. Senyuman manis itu membuat Emir sangat bahagia dan lebih baik.
"Baiklah kalau kau sudah membaik, kami mau pulang dulu," ucap Barrack tanpa basa-basi.
"Tapi Barra sebentar, dia masih terluka, siapa yang akan menjaganya?" tawar Shafa pada suaminya tapi tatapan Barrack seolah tidak suka jadi Shafa mengalah mengikutinya untuk pulang.
"Kak Emir maaf kami harus pergi dulu, maaf tidak bisa menjagamu," ucap Shafa merasa iba.
"Tidak masalah nona, tidak usah sungkan, Hati-hati di jalan dan terimakasih sekali lagi pada kalian," ucap Emir dengan tulus dan keduanya pun mengangguk.
"Biarkan saja, dia kan sudah dewasa tidak mungkin juga dia tidak memiliki kekasih atau teman, biar dia menghubungi salah satu dari mereka," ucap Barrack yang telah keluar dari ruangan Emir, kemudian berlalu pergi menggandeng tangan Shafa.
Beberapa menit berlalu dan mereka telah sampai di Mansion. Shafa mengobati luka Barrack yang tergores pisau tadi. dengan telaten dia merawat luka suaminya.
"Ahh.. Sudah selesai," ucap Shafa yang menepuk-nepukan kedua tangannya.
"Terimakasih sayang," ucap Barrack menc*um b*bir istrinya singkat.
Shafa bukannya malu-malu dia malah menc*um balik bibir suaminya dengan m*sra. Dia menggoda suaminya memberi k*cupan-k*cupan ringan dan belaian lembut pada tubuh suaminya sampai Barrack mulai menegang.
Barrack sadar, saat ini perc*ntaan dengan istrinya belum bisa dilakukan karena bekasnya belum semuanya hilang, walaupun dia tadi sudah memakai banyak cara untuk memudarkan bekas kissmark itu tapi masih saja sedikit terlihat.
"Astaga aku lupa! Maaf sayang aku harus ke ruang kerja sebentar, ada berkas yang harus aku kirim pada klien, sudah dari tadi dia mengirim Email aku malah kelupaan," ucap Barrack yang terpaksa berbohong lagi.
"Kenapa lagi dia?! Menyebalkan sekali dia! Dasar Tuan arogan menyebalkan! Menyebalkan! Awas saja!" Shafa yang kesal memukul-mukul bantalnya dan menutup semua tubuhnya dengan selimut.
Barrack sangat merasa bersalah pada istrinya, Dia tahu istrinya itu jarang sekali menggodanya, sekali menggodanya malah dia yang menolak. Dia memutuskan ke ruang kerjanya sampai Shafa tertidur agar dia tidak tergoda untuk menyentuh istrinya.
***
Besok paginya seperti biasa Barrack pergi ke kampus sebentar, begitu juga Shafa akan bersiap ke kampusnya untuk menyerahkan tugas akhirnya pada sang Dosen. Mereka tidak berangkat bersama karena Barrack berangkat lebih pagi.
Saat Shafa akan berangkat ke kampusnya suara ponselnya menghentikan langkahnya.
"Drtttt... Drttttt.. Drttt.. "
Shafa mengernyitkan dahinya saat melihat nomor tidak dikenal menelponnya, lalu dia mengangkat panggilan dari nomor tidak dikenal itu.
"Hallo.. Siapa ya?"
"Assalamu'alaikum Nona Shafa.. Ini aku Emir, apa nona hari ini sibuk?"
"Wa'alaikumsalam.. Kak, Sebentar lagi aku mau ke kampus, ada apa memangnya kak?" tanya Shafa.
"Apa aku boleh meminta bantuan sedikit nona? Terus terang kemarin aku di rumah sakit sendiri saja, teman-temanku semua sibuk dan tidak ada yang mau menjagaku. Kau kan tau nona, kalau keluargaku tidak ada di negara ini, aku tidak punya siapapun disini," Emir berkata dengan nada sedikit sedih.
__ADS_1
Shafa merasa kasihan mendengar keluhan Emir. Dia bisa merasakan, pasti sedih sekali disaat sakit tapi jauh dari keluarga apalagi tidak ada teman yang mau menemani.
"Ada beberapa obat yang harus ditebus di apotik nona, tapi aku binggung mau minta tolong sama siapa untuk membelikannya dan kebetulan di rumah sakit ini sedang kosong, bisakah nona mampir ke apotik sebentar dan membawakannya untukku?" pinta Emir sedikit ragu.
"Iya kak, aku bisa kok! Tunggu sebentar ya! Nanti aku bawakan obatnya ke Rumah sakit, ini tidak akan lama, kakak kirim saja nama obatnya lewat chat," ucap Shafa kemudian tergesa-gesa pergi.
"Baiklah nona, Terimakasih banyak, Maaf kalau menganggu waktumu,"
"Tidak masalah, aku tutup dulu ya! Ini sudah mulai jalan,"
"Baik Nona, Assalamu'alaikum.. "
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. "
Sebenarnya bisa saja dia memesan lewat Grabfood atau aplikasi lainnya tapi dia ingin sekali bertemu wanita cantik yang selalu menganggu pikirannya itu. Apalagi melihat Shafa yang kemarin menolongnya dia malah semakin jatuh cinta. Dia benar-benar tidak menyangka wanita yang terlihat lembut dan manis itu sangat pemberani dan jago beladiri sungguh membuatnya ingin menculik Shafa saat itu juga.
Shafa menelpon suaminya dan ingin mengabari kalau dia akan membelikan obat Emir, tapi berkali-kali menelpon Barrack tak kunjung mengangkat telponnya. Akhirnya Shafa hanya meminta ijin pada suaminya lewat Chat saja. Sebenarnya dia takut suaminya marah tapi dia tidak tega menolak saat seseorang meminta bantuan. Dia berfikir kalau suaminya marah nanti dia akan mengeluarkan Jurus rayuan mautnya.
***
Beberapa menit telah berlalu kini Shafa tiba di Rumah sakit dan mulai masuk ke ruangan Emir dirawat. Dia membawakan obat yang Emir minta dan membawakan sarapan untuk Emir.
"Assalamu'alaikum Kak Emir,"
"Wa'alaikumsalam nona," jawab Emir memasang senyum termanisnya.
"Ini pesanan obat kakak, apa kakak sudah sarapan? Aku bawakan sarapan buat kakak, karena aku yakin bubur di Rumah sakit ini tidak akan membuat kakak kenyang," ucap Shafa yang tersenyum.
"Terimakasih banyak nona Shafa, aku tidak tahu harus berterima kasih seperti apalagi padamu, maaf sudah merepotkan," ucap Emir sedikit sungkan.
"Tidak masalah kak, lagipula aku juga tidak terlalu sibuk hanya ke kampus sebentar nanti,"
Kemudian Shafa memberikan bungkusan makanan pada Emir dan Emir menerimanya dengan senang hati. Terlihat Emir kesusahan makan pakai tangan kiri karena tangan kanannya terluka dan ditumpu dengan perban.
Shafa sebenarnya akan pamit pergi tapi dia tidak tega melihat Emir yang susah payah menyendok makanannya. Lalu dia membantu menyuapi makan Emir, awalnya Emir berpura-pura menolak padahal dia memang berharap Shafa menyuapinya tapi pada akhirnya dengan senang hati dia menerima bantuan Shafa. Shafa menyuapinya dengan perasaan canggung, dia tidak berani memandang wajah Emir karena baru kali ini dia merawat laki-laki lain selain adik,ayah dan suaminya.
Ada dua Suster wanita masuk tapi dia belum menyadarinya, kemudian suster itu mengucapkan salam pada Emir.
"Selamat pagi Tuan Emir, apa anda sudah lebih baik?" tanya suster itu dengan senyuman manisnya.
"Sepertinya sudah lebih baik dari kemarin sus tapi masih susah digerakkan," jawab Emir menggerakkan tangannya perlahan.
Sontak Shafa menoleh dan menaruh makanan ditangannya di meja. Dia bangkit dari kursinya dan memberikan jalan agar kedua suster bisa memeriksa luka Emir. Kedua suster itu terlihat sinis memandang Shafa.
"Jangan kuatir Tuan Emir, Dua hari pasti sudah membaik, apalagi anda dirawat dengan tenaga medis profesional seperti kami," ucap salah satu suster itu dengan sombong.
__ADS_1