
"Sebentar ya sayang, aku mau ganti baju dulu. " kata Shafa.
Shafa pergi ke kamar mandi untuk mandi sebentar karena pertarungan dan perdebatan di club tadi membuatnya berkeringat, dia ingin terlihat bersih dan wangi didepan suaminya.
Setelah mandi dia memilih baju tidurnya, tadinya dia hanya ingin memakai piyamanya tapi dia urungkan. Dia ingin merayu suaminya, agar suaminya tidak marah lagi.
Dia memilih memakai lingerie berwarna hitam yang memperlihatkan belahan dada yang putih dan tubuhnya yang s*xy. Awalnya dia merasa risih tapi dia berusaha membuat suaminya senang.
Saat Shafa keluar dari kamar mandi, dia duduk disamping Barrack yang fokus pada laptop nya.
"Sayang.. Apa pekerjaanmu masih banyak?" tanya Shafa.
"Hhmmm.. Sedikit lagi." jawab Barrack singkat.
Shafa kesal diabaikan suaminya padahal dia Sudah berdandan s*xy tapi tetap saja diabaikan.
"Sayang apa kamu masih marah? Aku kan sudah minta maaf, aku janji akan selalu pamit padamu kemanapun aku pergi." bujuk Shafa pada suaminya.
Kemudian Barrack melunak dan menoleh memandang istrinya. Dan betapa terkejutnya dia melihat Shafa yang sangat cantik dan s*xy yang memakai lingerie hitam, sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
Barrack menelan salivanya, g*irahnya muncul tiba-tiba. Dia melotot melihat istrinya dari atas sampai kebawah.
"Kenapa melihatku seperti itu sayang? Apa kamu tidak senang aku memakai baju tidur ini?" goda Shafa.
"Siapa yang mengajarimu memakai baju seperti ini sayang?"
" Sebenarnya baju ini kado pernikahan kita dulu dari teman kerjaku sayang, dia orangnya sangat konyol. Dulu aku tidak yakin bisa memakainya tapi aku tetap menyimpannya untuk menghargai pemberiannya." Shafa menjelaskan.
"Sepertinya aku harus berterimakasih secara pribadi pada temanmu itu sayang." ucap Barrack kemudian dengan ganas menyerang istrinya tiba-tiba. Dan malam itu mereka melakukan kegiatan p*nas mereka lagi seperti malam-malam sebelumnya.
***
Pagi telah menjelang semua anggota keluarga Hansel bersiap-siap melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Jessie yang masih dirundung patah hati memilih tidur dirumah dari pada pergi ke sekolah, dia beralasan pada mama papanya sedang tidak enak badan dan kembali ke kamarnya setelah sarapan selesai.
Sebelum Shafa pergi ke kampus dia menghampiri Jessie di kamarnya.
"Tokk.. Tokk.."
"Jessie.. "
"Masuklah kak!"
Kemudian Shafa masuklah saat jessie mempersilahkan dirinya masuk lalu menutup pintu kamar Jessie kembali.
"Bagaimana keadaanmu sayang? Apa sudah lebih baik?" tanya Shafa.
"Yahh.. Lumayan kak! Aku sedang mencoba melupakan lelaki br*****k itu, hampa sekali rasanya, tiba-tiba seperti ini," keluh Jessie yang masih terlihat sedih.
"Sabar ya sayang, aku yakin kamu bisa melewati semua ini, aku yakin gadis kesayanganku ini sebentar lagi kembali ceria dan manja lagi," Shafa menyemangati.
"Terimakasih banyak kak, kakak selalu ada untukku, coba malam itu kakak tidak datang, apa jadinya aku," Jessie menghela nafasnya panjang, "Kalau Papa dan Kak Barrack tau kejadian kemarin bisa-bisa David hilang tinggal nama." ucap Jessie yang membayangkan kejadian malam kemarin.
"Tidak usah berterimakasih sayang, aku ini kakakmu juga, sudah seharusnya kakak melindungi adiknya," ucap Shafa yang mengelus kepala adiknya dengan sayang.
"Bagaimana kalau sepulang kakak dari kampus kita jalan-jalan, makan-makan, belanja dan ke salon? Pasti sangat menyenangkan," seru Shafa antusias.
Seketika wajah Jessie berbinar dan tersenyum bahagia lalu dia memeluk Shafa dan menciumi pipinya.
"Kakak selalu bisa membuat moodku menjadi baik, terimakasih kakakku sayang!"
Shafa mengangguk tersenyum dan membalas pelukan adiknya.
"Kak "
"Iya? "
"Aku baru tahu kalau kakak itu jago beladiri, darimana kakak belajar semua itu? Apalagi kakak memegang senjata sendiri, itu sangat keren sekali." ucap Jessie kagum.
__ADS_1
"Kakak ikut beladiri sejak sekolah dulu, tapi dulu tidak begitu serius, tapi setelah banyak kejadian menimpa keluarga kita, kakak mulai berlatih serius lagi dan berlatih menembak juga dengan adik kakak."
"Teknik dasar beladiri sangat berguna untuk menjaga diri kita, agar tak ada yang meremehkan kita, sekali-kali ikutlah dengan kakak ke arena latihan." ajak Shafa.
"Baiklah kak, sepertinya aku juga tertarik, aku juga ingin sekeren kakak."
Shafa memutar malas bola matanya, tingkah Jessie selalu saja kekanak-kanakan.
"Sayang, beladiri itu agar kita bisa menjaga diri dari orang yang akan berbuat jahat pada kita, bukan untuk gaya-gayaan saja."
Shafa kemudian mencubit gemas hidung Jessie dan Jessie hanya tersenyum nyengir.
"Baiklah Jessie, kakak Mau berangkat kuliah dulu, nanti siang kakak jemput kita jalan-jalan." pamit Shafa.
"Siap kapten!"
Shafa hanya tersenyum mengeleng-gelengkan kepalanya dan berlalu pergi.
***
Beberapa jam telah berlalu kini Shafa dan Jessie berada di Mall untuk belanja dan ke salon. Tapi sebelum berangkat Shafa sudah pamit pada suaminya agar suaminya tidak marah lagi.
Setelah mereka belanja dan pergi ke salon, mereka makan di Restoran.
Mereka berdua melihat James yang duduk sendirian makan di Restoran itu. Kemudian Shafa menyapa James.
"Hai James! Apa kamu sendirian disini?" sapa Shafa.
Seketika James mendongkak melihat seseorang sedang menyapanya.
"Shafa! Kamu disini juga?" balas James.
Shafa mengangguk tersenyum.
James melihat Jessie disamping Shafa dia juga menyapa Jessie dan tersenyum.
"Duduklah disini, kita makan bersama saja." James mempersilahkan.
*
*
Beberapa hari telah berlalu dan Jessie sudah melupakan patah hatinya karena Shafa selalu menghibur dan menemaninya.
Pagi itu seperti biasa Barrack berada di kantornya, kemudian sekertarisnya berkata ada yang ingin bertemu dengannya.
Belum Barrack mengijinkan, seseorang wanita masuk begitu saja ke ruangannya.
"Sayang.. Bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukanmu?" Jenny muncul dan tiba-tiba memeluk Barrack yang sedang duduk.
Barrack kaget dengan pelukan Jenny yang tiba-tiba, dia merasa sedikit risih dan berusaha menjauhkan tubuh Jenny dari tubuhnya.
"Jangan seperti ini Jenny, ini di kantor! Kalau papaku melihat kamu kesini dia bisa sangat marah." ucap Barrack yang menepis pelukan Jenny.
"Barrack, apa hubungan kita tidak bisa diperbaiki lagi? Aku ingin kita seperti dulu lagi sayang." ucap Jenny pura-pura sedih.
"Sudahlah Jenny lupakan semuanya, aku juga sudah memiliki istri, dia yang selalu ada untukku, pergilah sebelum ayahku tahu kamu disini!" Barrack yang menyuruh Jenny pergi dan melanjutkan pekerjaannya.
Jenny terlihat kesal, dia mengerutu tak jelas dan menghentak-hentakkan kakinya karena Barrack mengabaikannya lagi.
"Lihat saja Barrack, aku akan menghancurkan istrimu itu dan merebutmu kembali." ucap Jenny dalam hati.
***
Setelah beberapa hari berlalu, siang itu Jessie berencana makan di cafe dia memesan makan siangnya dan kebetulan James juga baru datang di cafe itu.
"Wah, Kak James disini juga." sapa Jessie.
Sontak James menghentikan langkahnya dan menoleh pada Jessie yang tiba-tiba menyapanya.
__ADS_1
"Jessie, kamu disini?" James balik bertanya.
"Kebetulan sekali kak, ayo kita makan siang bersama aja." tawar Jessie.
Lalu James mengangguk setuju. Mereka terlihat akrab dan mengobrol santai.
Tak lama kemudian sepasang kekasih masuk ke dalam cafe bergandeng mesra, kemudian si lelaki menghentikan langkahnya saat melihat Jessie yang makan dengan James.
"Ohh.. Ini pacar barumu Jessie, seleramu terlihat sangat buruk sangat jauh dibandingkan denganku." kata David yang terlihat mengejek dan melihat James dari atas hingga bawah.
James Anantha Raja adalah anak pemilik King Corp, dimana perusahaan itu bergerak dibidang properti dan memiliki perusahaan makanan dan minuman export terbesar.
Tapi walaupun James anak orang kaya, dia selalu tampil sederhana saat dia jalan sendirian tanpa kawan-kawannya.
Kesukaannya hanya memakai T-shirt dan celana pendeknya tak lupa memakai sandal jepitnya.
Jessie kaget dan marah mendengar ejekan David yang tiba-tiba, dia benar-benar sakit hati dan ingin sekali memukul mantan pacarnya itu apalagi melihat David sudah menggandeng pacar barunya.
Tapi James malah sebaliknya, dia terlihat tersenyum mendengar ejekan David. Dia terlalu malas kalau meladeni anak kecil seperti David, hanya buang-buang waktunya saja.
Jessie menghela nafasnya panjang, dia berdiri dan menanggapi ejekan David.
" Hei br*****k! Apa urusanmu mengurusi hidupku, terserah aku mau berhubungan dengan siapapun, yang jelas dia bukan p******ng sepertimu!" umpat Jessie dengan kesal.
"Dasar wanita j*****g! Jaga bicaramu itu!" David memperingatkan. Terlihat dia akan melayangkan tamparan pada Jessie tapi James berdiri dan menepis tangan David dengan kasar.
"JANGAN SENTUH DIA SEDIKITPUN! Atau aku akan mematahkan tanganmu!" teriak James penuh amarah.
David merasa harga dirinya jatuh didepan pacar dan para pengunjung cafe mendengar seseorang yang dianggapnya miskin itu meneriakinya dengan keras.
"HEI SIAPA KAU BERANINYA MENERIAKIKU! dasar laki-laki miskin! aku bisa dengan mudah melemparkanmu ke jalanan kalau aku mau!" ucap David dengan sombongnya.
"Seharusnya kamu tidak berhubungan dengan laki-laki miskin seperti dia Jessie, memalukan sekali anak pemilik Hansel grup membuang orang terpandang sepertiku dan memilih laki-laki miskin yang tak jelas asal usulnya! Apa servisnya lebih memu*skan mantanku? " ejek david lagi seolah merendahkan Jessie.
Jessie terlihat semakin marah dan James tak sabar mendengar ucapan tajam david.
Dan tiba-tiba...
"Buugghhhh.."
"Buugghhhh.."
James memukul David dua kali sampai dia tersungkur ke lantai, mulut dan hidungnya berdarah. Sontak pengunjung cafe berlari dan memisahkan pertengkaran mereka.
Terlihat salah satu dari mereka memegangi tangan James. Dan yang lain mencoba membantu David bangun.
"Lepaskan!" James berteriak. Dia sangat marah mendengar adik temannya direndahkan dan keluarganya dianggap dari keluarga yang tidak jelas.
Semua orang seketika melepaskan tangan mereka yang sedang memegangi James.
"Jessie, siapa nama ayahnya dan perusahaan apa yang mereka punya." tanya James pada Jessie.
"Ayahnya bernama Hendra Wijaya dari Wijaya grup." ucap Jessie santai.
"Hmmm.. Hanya perusahaan kecil! Receh sekali, kita lihat nanti hasil perbuatan putra kesayangannya." ucap James tersenyum sinis dan meninggalkan cafe.
"Kak James tunggu sayang." ucap Jessie berpura-pura.
Sebelum Jessie mengejar James yang keluar cafe dia mendekati David.
" Hei b*****h sombong, kamu tau dia siapa? Dia CEO King Corp perusahaan milik ayahnya yang sekarang menjadi miliknya, dan bersiaplah menangisi hari burukmu dear." ucap Jessie melambaikan tangannya dan tersenyum meninggalkan David yang melotot kaget.
"S*al.. S*al!" David mengumpat dan tiba-tiba menyesal menantang laki-laki bernama James tadi.
"Sayang, ayo kita lanjutkan makan kita." ucap kekasih David.
Tapi David sudah tidak bernafsu makan, dia ingin segera menemui ayahnya.
"Kamu pulanglah naik taksi, ini ongkosnya! Aku mau pergi menemui ayahku." ucap David yang pergi meninggalkan kekasih barunya.
__ADS_1
Dia sudah tidak peduli pacarnya sedang marah luar biasa, dia lebih takut dengan kemarahan ayahnya karena kecerobohannya.