
Melihat Barrack yang tiba-tiba muncul didepannya sontak membuat Shafa dan Bu Farida terkejut.
"Ba.. Barra! Bagaimana kamu tahu aku disini?" Shafa malah balik bertanya.
"Tidak penting bagaimana aku tahu kamu disini, yang penting bagiku aku sudah menemukan kalian dan aku sangat bahagia. Jadi tolong jangan menghindariku lagi," pinta Barrack dengan tatapan sendu.
Sedangkan Shafa terdiam dan hanya bisa mengalihkan pandangannya, dia tidak akan kuat jika memandang mata Barrack terlalu lama. Dia takut malah mendekat dan memeluk pria yang selalu dia ingin lupakan itu.
Rey yang berdiri disamping ibunya, memandang wajah Barrack dengan intens, mengingat informasi yang pernah dia rekam diotaknya sebelumnya. Laki-laki itu terasa tak asing baginya, gambarnya selalu menemaninya tidur tiap malam, tapi kini laki-laki itu telah ada dihadapannya. Dia ingin sekali memeluk laki-laki itu yang seingatnya adalah sang ayah, tapi dia memandang ekspresi ibunya yang tampak tidak bersahabat melihat kedatangan ayahnya, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk memeluk laki-laki didepannya.
"Mommy apakah dia Daddy Bala, daddyku?" tanya Rey memberanikan diri sembari menggoyak baju ibunya.
Shafa menoleh pada putranya, memandangnya dengan perasaan kasihan kemudian mengangguk pelan. Tidak seharusnya karena keegoisannya Rey tidak bisa bertemu ayahnya, padahal selama ini Rey selalu menanti untuk bertemu sang ayah.
"Apa Ley boyeh peyuk Daddy?"
Pertanyaan polos Rey pada ibunya, sontak membuat mata semua orang kembali memanas antara kasihan dan terharu.
Shafa mengangguk pelan lagi dan detik berikutnya Rey sudah menabrak Barrack yang sudah berlutut merentangkan kedua tangannya.
"Daddy!"
"Iya Rey sayang, ini Daddy. Aku benar daddymu, aku sangat merindukanmu putraku, sangat menyayangimu sayang, tolong jangan tinggalkan daddy lagi."
Lagi-lagi Barrack yang dulu terkenal arogan dan dingin, sekarang sangat mudah menangis jika berhubungan dengan sang putra kesayangan yang selama ini dia cari-cari.
"Ley juga cangat cayang cama daddy,"
Sedangkan Shafa dan Bu Farida pun ikut menangis melihat pemandangan sedih didepannya.
Setelah puas meluapkan segala kerinduan mereka, Barrack menggendong Rey ditangannya kemudian mendekat pada Shafa.
"Sayang, aku mohon beri aku kesempatan untuk bicara dan menjelaskan tentang kesalahpahaman ini." pinta Barrack.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi! Semua udah jelas dan tolong jangan mempersulitku," ucap Shafa dengan datar tanpa memandang wajah suaminya.
"Aku mohon berikan aku satu kali kesempatan untuk menjelaskan semua, dan memperbaiki hubungan kita lagi,"
Kini Barrack menurunkan Rey dari gendongannya dan berlutut dihadapan Shafa lalu menunduk. Dia tidak peduli lagi dengan harga dirinya sebagai CEO sekaligus orang yang disegani dikalangan pebisnis. Yang dia inginkan saat ini hanyalah istri dan putranya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana dia bisa hidup tanpa mereka kedepannya.
"Barra! Apa kau gila! Berdirilah dari tempatmu! Kamu tidak pantas berlutut dihadapanku!" ucap Shafa terkejut.
"Aku memang sudah gila baby! Aku gila sejak kau pergi meninggalkanku tanpa pamit dan tanpa kabar, aku tidak akan berdiri sebelum kalian bersedia pergi bersamaku!"
Shafa kesal sekaligus kasihan, dia masih mengingat jelas semua penghianatan sang suami.
Untuk apa Barrack seperti ini?
Apa dia dan Jenny sudah berpisah?
Seperti apa hubungannya mereka sekarang?" tanyanya dalam hati.
Tapi jika dia menolak permintaan Barrack, sampai kapanpun Barrack akan terus mengejarnya tanpa lelah, jadi dia berfikir akan menyelesaikan semuanya hari ini. Agar hubungannya dengan Barrack jelas, sehingga dia bisa membuka lembaran baru lagi tanpa bayang-bayang sang suami.
__ADS_1
Sebelum Shafa mengiyakan permintaan Barrack, dia menoleh menatap ibunya, seolah meminta persetujuan, sedangkan Bu Farida membalas tatapan Shafa dengan anggukan.
Rey yang melihat ayahnya berlutut dan menunduk seperti itu, tiba-tiba ikut merasakan sedih walaupun dia sendiri belum begitu mengerti.
"Mommy, Ley boyeh itut daddy cebentar ya?"
lagi-lagi pertanyaan Rey membuat hati Shafa nyeri, dia tahu Rey sangat merindukan ayahnya, tapi disaat Rey ingin bersama ayahnya, Rey masih meminta ijin padanya. Sungguh dia akan menjadi ibu yang jahat jika sampai tega tidak mengijinkan putranya.
Shafa memandang teduh mata bulat putranya lalu mengangguk untuk mengiyakan permintaannya.
Sontak membuat Rey tersenyum kegirangan.
"Hole Ley boyeh itut daddy! telimaacih mommy, Ley cayang mommy!" ucap Rey yang kemudian memeluk ibunya.
Dan Barrack pun memandang keduanya dengan perasaan bahagia walaupun nantinya hanya Rey saja yang akan ikut dengannya, begitu pikirnya.
"Aku, ibu dan Rey akan ikut bersamamu, tapi hanya satu hari, karena besok kami sudah harus kembali ke Inggris,"
Mendengar ucapan Shafa sungguh membuat Barrack berbinar bahagia.
"Terimakasih baby! Sini biar aku yang gendong Rey!" Barrack berdiri dan segera membawa Rey untuk digendongnya.
Barrack berjalan diikuti oleh Shafa dan Bu Farida ke arah mobilnya, Rey memeluk leher ayahnya begitu erat seolah tidak ingin berpisah lagi.
Sebelum Shafa pergi bersama Barrack, dia menghampiri supir Robert dan menyuruh supir itu kembali ke Mansion Bossnya.
Setelah sampai didalam mobil, Tomy mulai mengemudikan mobil Bossnya, Barrack berada disampingnya bersama Rey sedangkan Shafa dan Bu Farida ada di kursi belakang.
Diperjalanan tak henti-hentinya Rey berceloteh dan menunjuk apapun yang dilihatnya, Barrack yang gemas pada putranya tak henti-henti menciumi bocah lucu dan cerdas itu.
Hingga dua jam berlalu, kini mobil yang mereka tumpangi telah sampai disebuah tempat yang begitu asing buat Shafa, mereka berhenti di sebuah pagar besi tinggi yang masih bisa dilihat dari luar jika didalamnya terdapat sebuah pondok pesantren yang besar dan luas. Dia juga bisa melihat jelas para santri berlalu lalang berjalan didalam pondok.
Tanpa turun dari mobil, para santri yang menyadari ada mobil yang akan masuk ke dalam pondok, sontak membukakan pagar untuk mobil Barrack.
Saat pagar dibuka dan mobil Barrack memasuki area pondok, dia membuka kaca mobilnya dan semua santri terlihat begitu bahagia dengan kedatangannya.
"Assalamualaikum Pak Barra!" Para santri dan santriwati mengucapkan salam kepadanya.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab Barrack tersenyum.
Ada sekitar 30 santri yang berusia sekitar 6-14 tahun masih mengikuti mobil Barrack sampai mobil itu terparkir di depan bangunan pondok.
"Ceklek!"
Dia membuka pintu dengan masih menggendong sang putra kesayangan, dan saat Barrack keluar dari mobil. Beberapa santri yang berdiri di samping mobil mendekatinya dan mencium tangan Barrack dengan khusuk secara bergantian dan diikuti santri yang lain.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Barrack pada mereka.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja Pak Barra," jawab mereka serentak.
"Kami sangat merindukan anda Pak Barra, apa anda baik-baik saja?"
"Alhamdulillah saya baik-baik saja, maaf dua minggu ini saya tidak bisa berkunjung karena sangat sibuk dengan pekerjaan. Tapi sebisa mungkin saya akan mengunjungi kalian jika tidak banyak pekerjaan penting,"
__ADS_1
"Baik Pak Barra, terimakasih. Yang terpenting bagi kami, anda bahagia dan selalu sehat,"
"Amiinn Ya Robbala'laminn, terimakasih ya atas doa kalian,"
Shafa dan Bu Farida begitu takjub melihat para santri yang begitu dekat dengan Barrack, bahkan mereka begitu perhatian pada suaminya.
Dan sejak kapan Barrack rutin ke pondok pesantren?
Apa saja yang dia lewatkan selama 3 tahun lebih ini? Barrack ternyata sudah berubah sekarang, ada rasa kagum dihati Shafa dan Bu Farida.
"Pak Barra anak tampan ini, apa putra anda?" mereka bertanya lagi.
"Oh maaf aku sampai lupa mengenalkan sama kalian, bocah tampan ini adalah Reyhan putraku." jawabnya.
"Ayo Rey beri salam pada kakak-kakak ini dan perkenalkan diri kamu!"
Reyhan menggangguk.
"Assalamualaikum akak-akak, kenayin namaku Ley, aku putla mommy Cafa dan daddy Bala,"
Mendengar ucapan Rey yang cadel membuat para santri tertawa gemas.
"Wa'alaikumsalam.. Rey yang tampan!"
"MasyaAllah, lucu dan menggemaskan sekali putra anda Pak Barra,"
"Terimakasih," Barrack tersenyum manis pada mereka.
"Oh iya kenalkan ini Bu Shafa istri saya dan Nenek Farida ibu mertua saya," Barrack mengenalkan istri dan ibu mertuanya pada para santri.
"Assalamualaikum Bu Shafa.. Assalamualaikum Nenek Farida.."
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab keduanya bersamaan sembari melemparkan senyuman mereka.
Shafa dan Bu Farida semakin takjub melihat para santri yang begitu sopan dan ramah.
"Oia, maaf ya saya tinggal dulu, saya akan menemui Abah dan Umi dulu. Kalian main sama Pak Tomy dan yang lainnya. Nanti mereka akan membagikan oleh-oleh dari Bu Shafa dan Nenek Farida pada kalian." ucap Barrack pada para santri itu dan membuat mereka semakin berbinar bahagia.
"Tom tolong bagikan bingkisan tadi!"
Tomy mengangguk dan menyuruh anak buahnya untuk membantunya. Ada sekitar 200 bingkisan yang mereka bawa jadi seperti biasa, Tomy juga meminta beberapa santri remaja untuk membantunya membagikan bingkisan itu keseluruhan santri dan santriwati.
Sedangkan Shafa dan Bu Farida mengernyit heran, keduanya merasa tidak membelikan oleh-oleh untuk para santri. Jadi keduanya menyimpulkan jika oleh-oleh itu sengaja Barrack beli dan mengatasnamakan mereka.
"Baik Pak Barra, terimakasih."
"Terimakasih Bu Shafa.. Terimakasih Nenek Farida.."
Shafa dan Bu Farida kembali tersenyum bahagia membalas ucapan terimakasih pada santri.
Barrack mengajak Shafa dan Bu Farida masuk ke rumah utama Abah Ali, rumah yang dulunya hanya biasa saja sekarang dibangun Barrack dengan model minimalis dan indah.
Abah Ali awalnya menolak saat Barrack akan merenovasi rumahnya, karena Abah Ali merasa tidak enak karena Barrack telah banyak mengeluarkan uang untuk pembangunan perluasan pondok, sekolah dan asrama para santri. Tapi Barrack memaksa Abah untuk setuju, jadi Abah Ali hanya pasrah mengikuti keinginan Barrack. Bagi Abah Barrack adalah sosok laki-laki yang sangat baik dan dermawan, dia juga tidak malu bertanya jika tidak mengerti walau saat bersama para santri pun.
__ADS_1
"Assalamualaikum Abah.. Umi"
Barrack masuk ke dalam rumah Abah yang pintunya selalu terbuka.