
Tiga bulan kemudian...
Di sebuah hotel XX seorang wanita cantik nan s*xy itu sedang berada dibawah kungkungan laki-laki tampan berdarah Turki. Mereka saling mengucapkan kata sayang dan saling mem*askan satu sama lain.
Setelah kegiatan p*nas mereka berakhir laki-laki berdarah Turki itu akan pergi meninggalkan sang wanita yang masih bergelung manja di dalam selimut.
"Mau kemana sayang? Aku masih menginginkanmu lagi!" kata wanita itu menarik tangan sang pria dengan manja dan menggoda.
"Sudah cukup hari ini, pekerjaanku masih banyak sayang.. Lain kali aku akan membuatmu tak bisa berjalan!" ucap Laki-laki itu dengan menyeringai, kemudian dia berlalu pergi.
Setelah kepergian laki-lakinya wanita itu meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
"Sayang, Apa kamu sibuk? Bisakah kita bertemu hari ini? Aku sangat merindukanmu. " kata wanita itu
"Hallo Jenny.. Nanti malam pukul 07.00 aku menjemput di Apartemenmu, I love You Honey."
Kemudian laki-laki itu menutup telfonnya.
Shafa kaget tak sengaja mendengar suaminya yang berada di balkon sedang berbicara ditelpon dengan mantan pacarnya.
Lagi-lagi hatinya merasakan rasa nyeri yang luar biasa, dia mengira Barrack sudah tidak berhubungan dengan Jenny. Nyatanya pria itu malah akan pergi dengan pacarnya itu.
Shafa kemudian pergi kebawah seperti biasa akan membantu para pelayan menyiapkan makan malam. Setidaknya hal itu bisa sedikit membuatnya melupakan rasa sakitnya.
Setelah selesai makan malam Barrack pamit kepada papanya beralasan untuk pergi bersama ketiga sahabatnya. Kemudian mobil sport hitamnya melaju menuju Apartemen kekasihnya.
Shafa juga pamit kepada papanya untuk pergi ke cafe seperti biasanya untuk mengisi acara disana dan dia akan pulang pukul 09.00 malam.
Kemudian Jason menawarkan agar Shafa diantar supir tapi Shafa menolaknya dengan halus. Kemudian Jason mengijinkan menantunya untuk pergi.
Setelah mobil putihnya terparkir cantik didepan cafe, Shafa melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam cafe. Teman-temannya sangat antusias melihat Shafa dan semua menyapanya, terlihat cafe sudah ramai dan penuh karena hari itu adalah hari Sabtu.
Shafa mulai menaiki panggung live musiknya dan menyapa pengunjung disana, kali ini ada tiga personil pemain yang mengiringi penampilan nya. Semua penonton bersorak dan ikut bernyanyi saat Shafa menyanyikan lagu pembuka.
๐ผ๐ผ Well, open up your mind and see like me
Open up your plans and, damn, you're free
And look into your heart and you'll find love, love, love, love.. ๐ผ๐ผ
๐ผ๐ผListen to the music of the moment, people dance and sing
We're just one big family
And it's our God-forsaken right to be loved, loved, loved, loved, loved.. ๐ผ๐ผ
Lagu berjudul I'm Your's dari Jason Mraz itu mampu mencuri perhatian pengunjung disana, mereka ikut berjoget ringan dan bernyanyi mengikuti alunan lagu yang Shafa bawakan. Dan seketika Cafe semakin ramai dan padat.
Wanita cantik itu selalu memukau para penggemarnya, dia hanya memakai sepatu kets berwarna putih, dress berwarna hitam polos selutut, memakai jaket jeans yang sedikit dilipat dan topi jazz sebagai pelengkap penampilannya.
Di lantai atas ada seseorang laki-laki tampan mengulum senyum memperhatikan Shafa yang sedang bernyanyi. Dia terpukau dengan suara dan wajah penyanyi itu.
***
__ADS_1
Di sebuah restoran mewah seorang sepasang kekasih sedang dinner romantis bersama, mereka berbicara m*sra dan saling mengungkapkan rasa rindu mereka. Sang wanita memakai dress mini tanpa lengan berwarna gold yang menempel sempurna ditubuhnya, dan memperlihatkan lekuk tubuh wanita itu dan sang pria memakai setelan kemeja berwarna hitam.
"Sayang seperti nya hujan akan turun, ayo kita pulang ke Apartemenku," kata Jenny.
"Ini kan masih pukul 08.00 sayang.. Kenapa terburu-buru pulang?" kata Barrack.
" Aku ingin kita berm*sraan di Apartemen agar lebih nyaman,"
"Baiklah ayo kita ke Apartemenmu!"
Kemudian Barrack menggandeng tangan kekasihnya untuk menuju ke Apartemennya. Setelah mereka sampai Jenny ke dapur membuatkan kopi untuk Barrack.
Barrack duduk santai di sofa apartemen Jenny, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah majalah dewasa.
Disitu Barrack melihat Jenny banyak berpose s*xy bersama seorang pria, saling menempel, saling menc*um terlihat juga Jenny duduk dipangkuan model Laki-laki tampan itu dengan pose yang sexy pula.
Seketika wajah Barrack merah padam, matanya memerah bagai darah. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun.
Saat Jenny melangkah untuk mendekatinya, Barrack menatapnya tajam dengan Amarah yang membara, tatapan membunuh itu seolah seperti pedang yang sedang merobek-robek jantung yang melihat.
"Aa.. Ada apa Barra sayang? Kenapa kamu menatap seperti itu?"Jenny sangat takut melihat tatapan membunuh Barrack.
" Apa ini?!" ucap Barrack melempar kasar majalah itu.
" Kau tau! Kau seperti j*****g s*alan yang berkeliaran di club malam, menempel kesana kemari kepada pria asing!" teriak Barrack dengan lantang. Sontak Jenny menampar wajah Barrack dengan keras.
"Plaaakkkkkkk...!!"
"Kau tahu itu adalah pekerjaanku, kami hanya sama-sama model dan kami bekerja profesional,"
"P*rsetan dengan pekerjaan s*alanmu, seharusnya kamu bisa menolaknya.. Hah!" Barrack semakin marah dan berlalu meninggalkan Jenny yang masih menangis.
"Barra.. Tunggu.. Barra jangan pergi! Aku bisa jelaskan! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Jenny menangis sambil mengejar Barrack.
Barrack tidak peduli dan melajukan mobilnya dengan kencang menuju club malam.
Disisi lain di cafe milik Anggie, Shafa telah selesai menghibur para pengunjung di cafe. Saat dia berjalan menyapa teman-temannya di belakang seseorang menghentikan langkahnya dan menghampiri.
"Night nona, " ucap Laki-laki blasteran itu.
"Night sir.. Ada yang bisa saya bantu?" Shafa membalas sapaanya.
"Kenalkan namaku Robert Stewart, aku seorang produser musik dari Inggris tapi aku menetap disini,"
"Wow.. Anda seorang produser musik yang terkenal itu, ohh astaga.. Senang sekali saya bertemu dengan anda sir,"
Shafa terlihat senang sekali, dia berfikir mimpi apa dia semalam bisa bertemu produser itu. Kemudian mereka berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.
"Perkenalkan nama saya Shafa Adzania, senang sekali bertemu anda sir." Shafa tersenyum.
"Aku juga senang bertemu denganmu nona,"
"Aku tidak ingin kamu terlalu formal kepadaku, anggaplah aku sebagai teman barumu dan panggil namaku Robert saja,"
__ADS_1
"Tapi sir.. " kata Shafa sedikit sungkan.
"Apa aku terlihat sangat tua Shafa? Sampai kau memanggilku tuan, bahkan umurku masih 28 tahun," kata Robert tersenyum kepada Shafa.
"Ahh.. Bu.. Bukan begitu kak Robert, aku terbiasa menghargai orang yang lebih tua dariku."
"Nah begitu juga bagus, panggil kak saja itu sangat lebih enak didengar,"
Kemudian mereka terkekeh bersama.
"Oh ya Shafa.. Ini kartu namaku tolong nanti kamu hubungi aku ya, aku rasa kamu sangat bertalenta."
"Aku tak ingin menyia-nyiakan bakatmu, bergabunglah di Stewart Music Productions milikku." ucap Robert penuh antusias.
"A.. Apa.. Bergabung di Perusahaan musik milikmu? Kamu serius kak?" Shafa tergagap tak percaya.
"Bagaimana orang sepertiku bisa bercanda untuk urusan pekerjaan girls," Robert tersenyum smirk.
"Maaf aku lupa kalau ada janji, aku pamit duluan ya dan segera hubungi nomor ponselku, sampai jumpa kembali," ucap Robert kemudian berlalu pergi.
Di club itu Barrack minum vodka dengan jumlah yang banyak sampai dia sangat mabuk, kemudian dia meracau tak jelas dan berjalan tak terarah kejalan raya.
Dia mengabaikan mobilnya yang masih terparkir di club malam.
Dia terus berjalan frustasi tak tentu arah dengan sempoyongan, dia ingin sekali menghajar siapapun yang ada didepan mukanya, kemudian dia menghampiri gerombolan preman dan menantang gerombolan preman itu. Mengumpat kata-kata kasar yang memicu kemarahan preman-preman itu.
Kemudian mereka memukul Barrack bertubi-tubi, dari wajah,perut, kaki, tangan dan dadanya. Tiba-tiba sebuah mobil Mini Cooper putih melewati gerombolan preman yang sedang mengeroyok seorang laki-laki yang tak berdaya dan penuh darah di tepi jalan raya.
Entah kenapa nalurinya mengatakan untuk menyelamatkan laki-laki itu padahal dia tidak tau jelas siapa laki-laki itu. Walaupun dia bisa bela diri, dia hanya wanita dan tidak mungkin mampu mengalahkan 4 preman berbadan besar yang beringas itu.
Kemudian Shafa menghubungi polisi dan mengirim lokasinya. Shafa kemudian turun dan berusaha menolong laki-laki itu sebelum polisi datang.
"Hei kau b*debah.. Sini hadapi aku! Jangan seperti banci kalian, bisanya memukul orang yang tidak berdaya saja," teriak Shafa kepada preman itu.
Sontak kelima laki-laki itu memandang Shafa, keempat preman itu berlari dan akan menghajar Shafa.
Barrack yang mabuk berat itu jatuh tak berdaya penuh darah, saat dia masih tersadar dia melihat seseorang yang dikenalnya dan dia masih meracau tak jelas.
"Hah.. Bukannya itu si culun, kenapa dia bodoh sekali, mengantarkan nyawanya pada preman-preman br*ngsek itu, sangat bodoh sekali." Barrack tersenyum kemudian tak sadarkan diri.
Shafa sekuat tenaga menangkis pukulan bertubi-tubi dari keempat preman dan membalas pukulan mereka satu persatu. Preman itu mengeroyok dengan sadis gadis mungil itu. Sampai kepala, tangan, kaki, wajah semua tubuhnya memar dan berdarah. Saat salah satu preman akan menusukkan pisau ke perut Shafa, polisi menembakkan pistol ke arah kaki preman itu. Dan semua polisi menangkap semua preman-preman itu.
Sirine Ambulans terdengar saat Shafa jatuh dan tak sadarkan diri juga. Dia dan Barrack segera dibawa ke Rumah sakit.
Polisi menghubungi keluarganya lewat ponsel Shafa, Ibu dan Zain sangat terkejut mendengar kabar dari polisi itu dan segera mengabari Jason dan Istrinya.
Saat Jason mendengar kabar menantunya masuk rumah sakit, Jason tadinya juga menghubungi Barrack tapi tidak ada jawaban karena ponsel Barrack tertinggal di mobil. Mereka semua sangat cemas dan bergegas ke rumah sakit.
Setiba mereka di rumah sakit,polisi memberikan info kalau Shafa sedang kritis dan berada di ruang ICU. Barrack Putranya tidak mengalami luka serius dan sudah berada di kamar rawat VVIP.
"Selamat Malam Tuan Jason.. "
"Selamat malam juga Pak! Bagaimana keadaan menantu saya pak?" kata Jason dengan cemas.
__ADS_1