
"Assalamualaikum.." ucap Barrack dan Tomy bersamaan saat masuk kedalam rumah Abah.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi..Wabarakatuh.." balas Abah dan Umi bersamaan.
"Nak Barrack.. nak Tomy.. mari silahkan masuk, mari kita duduk!"
Barrack dan Tomy tersenyum kemudian duduk di sofa milik Abah.
"Bah.. maaf kalau saya lancang bertanya, siapa laki-laki yang bicara dengan Abah barusan?" tanya Barrack dengan serius.
"Oohh itu tadi adalah Haji Hasan, beliau adalah putra satu-satunya dari pemilik tanah yang berada di samping pondok dan sebagian dari tanah milik abahnya dulu telah diwakafkan untuk pembangunan Pondok pesantren ini." ucap Abah sembari menghembuskan nafasnya panjang.
"Tapi sayangnya Haji Hasan ingin mengambil sebagian tanah yang abahnya wakafkan untuk pondok, dengan alasan dia tidak tahu menahu soal tanah yang telah diwakafkan almarhum abahnya. Terus terang Abah tidak punya uang sebanyak itu untuk mengganti tanah yang sudah terlanjur menjadi asrama para santri dan mau tidak mau Abah harus merelakan bangunan asrama itu dirobohkan," ucap Abah menerawang sedih dan Umi mengusap punggung Abah untuk menenangkan.
Abah sedih memikirkan bagaimana nasib anak-anak di pesantren, dimana mereka akan tidur.
"Abah, saya akan beli semua tanah milik Haji Hasan untuk saya wakafkan untuk Pondok pesantren," ucap Barrack dengan yakin.
Abah dan Umi kaget mendengar ucapan Barrack, Abah memandang Barrack dengan tatapan tidak percaya. Barrack membalas tatapan Abah dan tersenyum.
"Bukan hanya sebagian tanah itu, tapi seluruh tanah milik Haji Hasan akan saya beli untuk membangun Pondok pesantren yang lebih besar Bah,"
"Masyaallah.. Alhamdulillah.. Ya Allah.."
Abah dan Umi sontak beranjak dari sofanya dan bersujud syukur dibawah lantai. Barrack dan Tomy yang melihat itu ikut duduk di lantai bersama Abah Ali dan Umi Ida.
"Nak Barrack.. Abah tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terimakasih kepadamu, Alhamdulillah.. Allah mengirimkan orang baik sepertimu untuk menolong kesusahan kami, Terimakasih banyak nak!" ucap Abah penuh haru.
"Tidak Abah, tidak usah berterimakasih.. Saya yang seharusnya berterimakasih bisa bertemu orang sebaik Abah yang selalu membimbing saya dan menyayangi anak-anak disini, saya ingin mewakafkan tanah ini atas nama kedua orangtua dan kedua mertua saya sebagai bukti bakti saya kepada mereka, semoga menjadi ladang pahala untuk orang-orang yang saya sayangi Bah.."
"Amiinnn Ya Robbala'laminn.. Alhamdulillah Terimakasih nak," ucap Abah dan Umi bersamaan.
"Sungguh mulia hatimu nak," ucap Umi Ida dengan lembut.
"Terimakasih Umi, saya hanya melakukan yang semestinya saja,"
Abah dan Umi mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Barrack. Mereka tidak menyangka Barrack yang diceritakan Tomy terbiasa hidup mewah, sering mabuk-mabukan, tabiatnya yang sombong dan arogan kini malah menjadi pria dewasa yang baik hati dan semakin Istiqomah di Jalan Allah.
"Abah.. tolong Abah hubungi Haji Hasan, supaya secepatnya saya bisa melakukan pembayaran atas tanah beliau," ucap Barrack antusias.
"Baiklah nak, Adzan magrib sudah berkumandang, sebaiknya kita sholat magrib berjamaah dulu," ucap Abah dan kedua laki-laki didepannya mengangguk dan mengikuti Abah dari belakang.
__ADS_1
***
Setelah dua jam berlalu kini Barrack, Abah dan Notaris keluarga Hansel duduk berhadapan dengan Haji Hasan dan ketiga istrinya. Haji Hasan dengan sombongnya tidak ingin menjual tanahnya pada Barrack, dia bersikukuh ingin membuat kos-kosan yang besar untuk usaha ketiga istrinya.
"Pak Haji, kalau anda mau menjualnya pada saya, saya akan membelinya dengan harga tertinggi diatas harga pada umumnya," ucapan Barrack membuat para istri Haji Hasan berbinar bahagia, "Bukan hanya kos-kosan saja anda bisa bangun nantinya, anda juga bisa liburan bersama para istri anda ke luar negeri, bahkan untuk mengadakan acara pernikahan yang mewah dengan istri baru pun bisa pak Haji," sarkas Barrack padanya.
Semua yang disitu hanya menahan tawa mendengar ucapan Barrack. Tapi kata-kata Barrack malah membuat ketiga istri Haji Hasan menjadi cemberut dan sedikit kesal.
"Ehemmm.." Haji Hasan berdehem memecah ketegangan.
"Sebentar Tuan Barrack Hansel, saya pertimbangkan dulu dengan ketiga istri saya,"
Barrack pun tersenyum mengangguk, terlihat Haji Hasan dan ketiga istrinya berbisik-bisik mempertimbangkan tawaran Barrack. Sedangkan Abah Ali semakin takjub dengan Barrack, pemuda itu membuat Haji Hasan yang terkenal sombong di kampung menjadi segan padanya.
"Baiklah Tuan Barrack, saya bersedia menjual tanah saya untuk anda, ini karena anda yang memaksa lho, kalau bukan anda saya tidak mau karena sebenarnya saya tidak ingin menjual tanah peninggalan abah saya," ucap Haji Hasan masih mempertahankan gengsinya.
Tomy dan Barrack hanya mencibir dalam hati.
"Terimakasih Pak Haji anda sudah bersedia menjual tanah itu pada saya, semua urusan jual beli ini sekarang saya serahkan pada notaris saya,"
Kemudian notaris keluarga Hansel maju untuk mengurus segala keperluan jual beli itu dan terlihat Haji Hasan membubuhkan tandatangan pada beberapa dokumen.
"Saya penasaran pada anda Tuan Barrack, apa tujuan anda mau membeli tanah di perkampungan ini? Apa anda akan membangun swalayan yang besar atau kos-kosan? Padahal jika dipikir-pikir anda bisa rugi kalau membeli tanah ini dengan harga tinggi kalau untuk usaha," ucap Haji Hasan penasaran.
Barrack tersenyum simpul mendengar ucapan Haji Hasan.
"Selama ini, saya hidup bergelimang harta, perusahaan-perusahaan saya tersebar dimana-mana dan tentunya semua berasal dari papa saya, apapun sudah saya miliki di dunia ini tapi saya tidak pernah merasakan ketenangan dalam hati saya, karena hanya dunia saja yang selama ini saya kejar, saya lalai telah melupakan kewajiban saya sebagai Hamba Allah dan kewajiban saya sebagai anak." Barrack menghela nafasnya panjang.
"Saat ini saya bersyukur Allah masih memberikan hidayah-Nya pada saya dan tanah ini akan saya wakafkan atas nama mereka sebagai bakti saya pada Allah dan pada kedua orangtua saya, seperti yang Abah Ali tuturkan berdasarkan sebuah Hadits bahwa amalan yang tidak akan pernah putus sampai kita meninggal adalah doa anak sholeh dan amal jariyah, saya rasa yang saya lakukan ini belum seberapa," ucap Barrack tersenyum.
Ucapan Barrack sedikit mengejutkan Haji Hasan dan seolah seperti menyindir dirinya, seketika wajahnya memerah menahan malu karena dia sadar dia lebih mementingkan harta daripada baktinya kepada Allah dan orangtuanya.
"Waahh.. Saya tidak menyangka seorang milyuner muda yang terbiasa hidup mewah seperti anda ternyata memiliki tujuan yang mulia Tuan Barrack," puji Haji Hasan dan Barrack mengangguk tersenyum, "Saya ucapkan terimakasih banyak Tuan dan saya permisi pulang dulu, Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." Jawab semua orang bersamaan.
Kemudian Haji Hasan pergi terburu-buru bersama ketiga istrinya, dia tidak mau semakin mempermalukan dirinya sendiri.
Setelah kepergian Haji Hasan, Barrack berikrar didepan Abah Ali dan Umi Ida untuk mewakafkan tanah yang sudah dia beli. Disaksikan notaris, RT, RW setempat dan beberapa warga yang telah diundang datang. Barrack mengundang banyak orang agar tidak ada permasalahan lagi dikemudian hari.
Prosesi ikrar telah selesai Abah Ali dan Umi Ida sangat bahagia dan merasa lega, akhirnya para santri bisa tinggal dengan nyaman kembali. Barrack juga membicarakan pembangunan untuk perluasan Pondok pesantren kepada Abah Ali dan semua biaya akan ditanggung oleh Barrack. Abah Ali sangat bersyukur bertemu orang sebaik Barrack.
__ADS_1
Setelah banyak berbincang tentang konsep pembangunan bersama, akhirnya mereka pamit meninggalkan rumah Abah satu-persatu karena malam sudah semakin larut.
***
Di kediaman Shafa dan ibunya, usia kandungan Shafa sudah memasuki 9 bulan. Perut Shafa yang membesar tiba-tiba mengalami kontraksi. Semakin lama kontraksi itu semakin sering, Shafa berjalan tertatih menghampiri ibunya yang berada di dapur yang sedang memasak untuk makan malam.
"Ibu, perut Shafa sepertinya kontraksi terus," ucap Shafa dengan nada panik.
Sontak Bu Farida menoleh melihat Shafa yang mengaduh sembari berpegangan di tembok.
"Sayang.. Jangan panik! Sebentar aku hubungi adikmu, kalau kontraksinya datang lagi tarik nafas panjang dan hembuskan perlahan biar tidak terlalu sakit," ucap Ibu sembari menelpon putranya dan Shafa mengangguk mengikuti arahan ibunya.
Setelah beberapa jam berlalu Shafa dan Ibunya berada di Ruangan bersalin. Zain menunggu di luar sedangkan Bu Farida mendampingi putrinya melahirkan di dalam. Ibu Farida menyemangati putrinya begitu pula dengan Tim medis yang memberikan arahan dan semangat Shafa saat mulai mengejan. Kemudian..
"Oeekk.. ooekkk.. oeekkk.." suara tangisan bayi pun telah terdengar.
Seketika membuat hati Zain sangat lega dan bahagia.
"Alhamdulillah Ya Allah.." ucap Zain yang terharu mendengar tangisan bayi milik kakaknya.
Setelah bayi dan ibunya sudah bersih, Bu Farida mengajak Zain masuk ke kamar bersalin untuk mengadzani putra kakaknya.
Dokter kandungan itu tersenyum melihat Zain yang tampan masuk ke dalam ruangan. Tapi dia juga sedikit mengernyitkan dahinya merasa heran, karena wajah bayi itu bule tapi kenapa ayahnya juga berwajah Asia.
"Silakan masuk Tuan, selamat putra anda laki-laki," ucap Dokter Elena Rosseane.
(Mereka bicara dengan bahasa Inggris ya guys.. Mak langsung terjemahin ke bahasa Indonesia aja biar gampang dipahami, hihihi 🤭🤭ngeles)
Bu Farida, Shafa dan Zain sedikit kaget dan lalu tersenyum mendengar ucapan Dokter Elena.
"Maaf Dokter, saya paman dari bayi lucu itu dan tepatnya ibunya adalah kakak saya," ucap Zain tersenyum manis.
Sontak membuat Dokter Elena malu karena salah mengira.
"Maaf Tuan.. Saya kira anda ayahnya," Dokter Elena tersenyum kikuk.
"Tidak masalah Dok," ucap Zain kemudian mengambil bayi dalam box dan mulai mengadzani keponakan barunya.
Suara adzan Zain yang merdu membuat Dokter Elena merinding dan takjub.
"Kalimat apa yang dia ucapkan, aku pernah mendengarnya sekilas tapi baru kali ini aku mendengarnya secara langsung, sangat indah dan menenangkan hati," ucapnya dalam hati.
__ADS_1