
"Oh tuan muda.. Selamat siang tuan muda!" Sapa Sang dokter.
"Kondisi pasien bernama Shafa Adzania sudah melewati masa kritisnya tuan tapi belum sadarkan diri, sekarang di pindahkan ke kamar VVIP nomor 10," jawab Sang dokter.
"Apakah dia bisa sadar secepatnya dok? Apa lukanya begitu serius sampai dia belum sadar juga?"
"Tuan muda tenang saja, dia akan segera sadar tinggal menunggu kondisinya stabil saja, dan lukanya memang parah tapi kami Tim dokter sudah berusaha maksimal untuk kesembuhan pasien,"
Barrack frustasi dan mengusap wajahnya dengan kasar, dia menyesal karena tindakan bodohnya Shafa mengalami semua ini.
"Baiklah.. Terimakasih informasi anda dok, saya permisi melihat Shafa dulu," pamit Barrack.
"Sama-sama tuan muda, silahkan tuan muda." jawab dokter itu dengan sopan.
Kemudian Barrack memasuki kamar rawat Shafa, terlihat disana ada Bu Farida disamping putrinya dengan mata sembab.
"Ibu.. " ucap Barrack.
"Nak Barrack.. Bagaimana Kondisimu nak? Apa Sudah lebih baik?" tanya Bu Farida dengan cemas.
"Saya sudah lebih baik bu, maafkan saya bu gara-gara menyelamatkan saya Shafa seperti ini," kata Barrack dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa nak, sudah kewajiban suami istri saling melindungi satu sama lain, semoga dengan kejadian ini nak Barrack tidak mabuk-mabukan lagi,"
"Baik bu, saya janji tidak akan mabuk-mabukan lagi dan tidak melakukan hal ceroboh lagi," Barrack tertunduk lesu.
Bu farida menepuk pundak Barrack dan berkata, "Ibu percaya padamu nak, duduklah disini dan temani istrimu, ibu mau ke kantin sebentar."
"Baik bu.. "
Kemudian Bu Farida meninggalkan Barrack yang berada di kamar Shafa. Barrack memegang tangan Shafa dengan lembut, ada perasaan aneh dihati Barrack.
"Shafa bangunlah, aku disini menjagamu, aku janji kalau kamu sadar nanti, aku akan bersikap baik padamu,"
"Shafa, maafkan aku sudah membuatmu begini,"
"Shafa, maafkan atas sikapku selama ini, bisakah kita berteman sekarang?"
Barrack masih mengoceh lirih disamping Shafa yang masih belum sadarkan diri. Kemudian Barrack tertidur disamping ranjang Shafa masih dengan memegang tangannya.
Saat Bu Farida kembali, dia tersenyum melihat pemandangan manis itu, Bu Farida tidak membangunkan Barrack, dia merebahkan tubuhnya di sofa.
***
Saat sore menjelang, Shafa mulai menunjukkan tanda-tanda dia akan sadar, dia berusaha menggerakkan tangannya dan berusaha membuka matanya.
"Eeeehhhmm.. Ib.. Ibuuu.. " Shafa mulai memanggil ibunya.
"Shafa, Haus Bu,"
Barrack sontak kaget mendengar samar-samar sebuah rintihan dan merasa tangannya seperti digenggam.
"Shafa! Kamu sudah sadar? Shafa.. Ini aku Barrack," Ucap Barrack terus memanggil Shafa.
"Aku haus, berikan air!" Shafa mulai membuka matanya pelan, dia masih belum sadar kalau disamping nya adalah Barrack.
"Baiklah tunggu sebentar, aku ambilkan," kata Barrack sambil menekan tombol untuk memanggil dokter.
Kemudian Barrack bergegas mengambilkan minum untuk Shafa dan mengarahkannya kemulut Shafa. Setelah selesai Shafa sudah mulai sadar dengan siapa yang dilihat didepan matanya. Ada rasa tidak percaya bagaimana mungkin Barrack menjaganya.
"Barrack!" Kata Shafa dengan nada lemas.
"Iya ini aku, sebentar lagi dokter kesini,"
__ADS_1
"Ibuku mana?"
"Ibu ketiduran di sofa, mungkin semalaman ibu tidak tidur untuk menjagamu," kata Barrack dengan lembut.
"Kasian sekali ibu, pasti dia lelah sekali,"
Kemudian Tim dokter datang dan memeriksa kondisi Shafa, lalu Bu Farida terbangun karena suara berisik yang tiba-tiba datang. Bu Farida lega dan tersenyum melihat putrinya sudah sadar dan diperiksa Tim dokter.
"Tuan muda, Bu farida.. Kondisi nona sudah lebih baik dan stabil, hanya perlu 3 hari lagi untuk pemulihan dan nona bisa pulang ke rumah,"
"Baik terimakasih dokter," ucap Barrack dan Bu Farida bersamaan.
Kemudian Dokter dan Timnya meninggalkan ruangan Shafa. Bu farida menghampiri Shafa dengan senyum bahagia, mengecup seluruh wajah dan tangan putrinya dengan sayang.
"Alhamdulillah akhirnya kamu sudah sadar sayang, bagian mana yang masih sakit nak?" tanya Bu farida sembari meneliti seluruh tubuh Shafa.
"Sudah tidak terlalu ibu, nanti juga tidak sakit lagi, ibu jangan khawatir, ibu pasti lelah semalaman menjaga Shafa," jawab Shafa penuh haru.
"Tidak apa-apa sayang,"
"Eheemm.. " Barrack berdehem, dia merasa diacuhkan istri dan ibu mertuanya.
"Oh maaf nak Barrack, ibu saking bahagianya sampai lupa nak Barrack masih disini," ucap Bu Farida meras tidak enak.
"Tidak apa-apa bu saya mengerti, apa ibu tidak sebaiknya pulang dulu beristirahat dan ganti baju, biar saya yang menjaga Shafa," kata Barrack dan membuat Shafa sedikit terkejut.
"Tapi nak Barrack kan masih sakit, harus banyak istirahat, biar nanti Zain yang kesini membawakan ibu pakaian,"
"Saya sudah sembuh bu, saya ingin menjaga istri saya sebentar, nanti kalo ibu kembali saya juga akan kembali ke kamar,"
"Baiklah nak, ibu pulang sebentar ya! Nanti ibu kembali," pamit Bu Farida kepada Barrack dan Shafa.
Kemudian Shafa dan Barrack menggangguk. Shafa tidak bisa berfikir kenapa tiba-tiba Barrack bersikap manis dan ingin menjaganya.
"Ah.. Iya Barra!"
"Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit? sebelah mana yang sakit, apa yang bisa aku bantu?" tiba-tiba Barrack memberondong pertanyaan dengan nada khawatir.
"Ti.. Tidak.. Aku baik-baik saja Barrack, kamu jangan khawatir pasti luka seperti ini akan segera pulih," ucap Shafa yang tak menyangka Barrack tiba-tiba perhatian dengannya.
"Maafkan aku Shafa, gara-gara aku kamu jadi begini, aku.. "
"Apa?" Shafa menatap Barrack dengan penuh tanya dan masih tidak mengerti yang Barrack katakan.
"Aku sangat menyesal karena kecerobohanku, kamu harus menghadapi preman-preman itu sendirian, terimakasih sudah menolongku, aku berhutang nyawa kepadamu,"
"Aku minta maaf Shafa, aku janji akan bersikap baik kepadamu kedepannya," ucap Barrack penuh sesal.
"Ja.. Jadi.. Laki-laki mabuk yang aku tolong kemarin itu kamu?" Shafa masih belum percaya. Seingatnya suaminya itu akan bertemu dengan kekasihnya bagaimana mungkin tiba-tiba dia mabuk dan dikeroyok banyak preman.
"Saat itu aku sedang ada masalah lalu aku ke club untuk mabuk aku tidak sadar ternyata aku sudah membuat masalah besar," kata Barrack sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku tau kamu akan bertemu kekasihmu, apa kalian bertengkar?" ucap Shafa menyelidik.
"Hah? Bagaimana kamu tau? Apa kamu mendengar percakapanku dengannya ditelpon? "
"Iya, aku kira kalian tidak lagi berhubungan tapi ternyata kalian masih intens bertemu," ucap Shafa datar.
"Ahh.. Itu.. Tolong jangan bilang papaku Shafa, aku tidak bisa dengan mudah mencintai wanita lain, maafkan aku, aku.."
"Sudah tidak usah dijelaskan! Aku mengerti, tidak mudah bagimu menerima pernikahan ini, Barra. Apalagi hubungan kalian sudah lama, Aku tidak menyuruhmu untuk menerimaku. Aku tau siapa diriku, sungguh kita seperti bumi dan langit," ucap Shafa sedikit bergetar.
Dia merasakan nyeri dihatinya, Barrack terang-terangan selalu menolaknya dan masih berhubungan dengan kekasihnya.
__ADS_1
Barrack hanya terdiam lesu mendengar ucapan Shafa dia tau sikapnya selalu keterlaluan kepada Shafa, dia binggung memilih kata-kata yang tepat untuk Shafa saat ini, karena dia sudah tidak ingin menyakiti Shafa lagi dengan kata-kata pedasnya
"Kamu tidak usah merasa bersalah, nanti saat aku sudah membaik,aku akan bicara baik-baik dengan papa agar kita bisa berpisah," ucap Shafa tanpa ragu.
"Apa berpisah? " Barrack terkejut mendengar kata perpisahan itu, entah karena takut papanya marah atau rasa bersalahnya pada Shafa.
"Tidak Shafa, untuk saat ini kita tidak bisa pisah, kita jalani saja seperti ini,"
"Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan, Barra?"
"Tidak Shafa, sudah jangan dibahas dulu masalah ini, lagipula kamu juga baru sadar, kamu harus sehat dan pulih kembali, supaya kamu bisa masuk kuliah lagi,"
Kemudian Shafa mengangguk, dia tidak bisa lagi membantah ucapan Barrack, saat ini dia hanya ingin cepat pulih dan cepat menyelesaikan kuliahnya.
"Shafa.. "
"Iya.. " Jawab Shafa menatap Barrack.
"Bisakah mulai saat ini kita berteman? Aku tau sejak SMA sikapku buruk kepadamu, aku terlalu angkuh dan sombong dengan orang lain. Mari kita berteman dari awal, apapun yang kamu rasakan dan alami kamu bisa menceritakan kepadaku, anggaplah aku sahabatmu," kata Barrack penuh harap.
Tiba-tiba hati Shafa menghangat,
walaupun hanya dianggap sahabat Shafa sangat bahagia.
Dia tidak menyangka pria arogan dan dingin itu sekarang sudah mulai melihatnya, hanya karena bantuan tulus yang tak sengaja dia lakukan.
"Aku tau terkadang dimalam hari kamu terbangun dan menangis memanggil ayahmu, maaf aku tak ada saat kamu butuh seseorang untuk berbagi kesedihan, aku terlalu gengsi untuk peduli walaupun aku tau," Barrack menghembuskan nafasnya dengan kasar ada terselip penyesalan disana.
Mungkin dia tidak mencintai istrinya tapi bersamanya setiap hari membuat Barrack terbiasa melihat apapun yang dilakukan istrinya. Terkadang ada rasa bersalah karena mengacuhkan Shafa tapi disisi lain dia tidak ingin memberi celah orang lain masuk dalam hatinya karena dia tau dia hanya mencintai Jenny.
Shafa tak bisa berkata-kata mendengar ucapan Barrack dan tak bisa menahan tangisnya. Bagaimana mungkin laki-laki dingin itu mengetahui kesedihannya dan sekarang tiba-tiba memberikan perhatian untuknya.
"Sudah jangan menangis, sini aku peluk!"
Barrack merentangkan tangannya dan memeluk Shafa dengan perasaan yang tak bisa dia mengerti antara kasihan atau sayang.
"Bagaimana kita berteman kan?" ucap
Barrack yang melonggarkan pelukannya.
Shafa tersenyum dan menggangguk, lalu Barrack kembali memeluknya. Setelah tangisnya reda Barrack melepaskan pelukannya dan tiba-tiba perut Shafa berbunyi.
"Krukkkkkk.. Krukkk.. "
"Aiihh! Apa tidurku sangat lama sampai perutku ini protes minta diisi?" ucap
Shafa dan mengigit bibirnya dia tersenyum kikuk didepan Barrack.
Barrack hanya tersenyum dan segera mengambilkan makanan untuk Shafa, dia dengan telaten menyuapi Shafa walaupun awalnya Shafa menolak.
Setelah ritual makan Shafa selesai, Barrack menyuruh Shafa kembali beristirahat agar badannya lekas pulih kembali.
"Beristirahatlah Shafa! Besok sore aku akan datang dan menjagamu lagi," ucap Barrack.
"Ahh tidak usah, kan ada ibu yang menjagaku, lagipula kamu kan juga belum benar-benar sembuh, masih ada lebam-lebam," tolak Shafa sambil menunjuk luka-luka di wajah Barrack.
"Ini tidak apa-apa hanya luka kecil, nanti aku juga sudah diperbolehkan pulang,"
"Tapi.. "
"Sudah jangan membantah! didepan keluargaku dan keluargamu, kamu adalah tanggungjawabku, jadi aku akan menemanimu sampai sembuh, lagi pula hanya tiap sore sampai menjelang pagi saja,"
Shafa kemudian menggangguk dan tidak berani membantah lagi. Beberapa saat kemudian Bu Farida datang dan Barrack pamit untuk ke ruangannya lagi.
__ADS_1