Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
19.Mari Kita Mulai


__ADS_3

Setelah beberapa jam berlalu Barrack terbangun dari tidurnya, Bu Farida yang daritadi sudah kembali membeli makanan tidak tega membangunkan menantunya yang terlihat capek dan letih.


"Nak Barrack.. Maaf makanannya sepertinya sudah dingin, aku tidak tega membangunkanmu, biar ibu belikan lagi ya sekarang?" ucap Bu Farida.


"Aahhh tidak usah bu, biar aku makan saja makanan yang sudah ibu beli, tidak masalah kalau sudah dingin." kata Barrack.


Kemudian dia memakan makanan yang sudah Bu Farida belikan. Saat beberapa suapan masuk mulutnya terdengar suara Shafa memanggil ibunya dengan suara khas bangun tidurnya.


"Ibu.. "


Barrack sontak mendekati Shafa dengan masih membawa makanannya. Bu farida juga ikut mendekat.


"Shafa.. Kau sudah bangun? Bagaimana rasanya? Apa Ada yang sakit? Apa kau mau minum?" tanya Barrack bertubi-tubi dengan cemas.


"Aku sudah lebih baik Barra, iya tolong ambilkan air,"


Barrack dengan telaten memberikan minum pada Shafa.


"Apa kamu mau makan juga sayang?" tanya Bu farida.


"Iya Bu"


"Biar saya yang menyuapi Shafa bu,"


kata Barrack.


"Tapi nak Barrack belum menghabiskan makanan nak Barrack tadi, biar ibu yang menyuapi Shafa,"


"Sudah tidak apa-apa, biar saya saja bu," ucap Barrack sedikit memaksa.


Barrack mengambilkan makanan dari rumah sakit yang ada di meja lalu menyuapi Shafa. Tapi Shafa terlihat enggan makan.


"Sudah Barrack, aku tidak mau lagi?"


"Kenapa Shafa? Kamu baru memakannya dua sendok, apa kamu tidak suka makanan ini?"


"Hehehe.." Shafa tersenyum lucu dan mengganggukkan kepalanya.


Barrack merasa sangat gemas melihat istrinya menampilkan senyum imutnya.


"Aku mau makan itu Barra,"


ucap Shafa sembari mengedip-ngedipkan mata bulatnya dan tersenyum malu.


Dia menunjuk makanan yang dibelikan ibunya untuk Barrack. Barrack terpana melihat ekspresi wajah lucu Shafa.


"Aiihhh.. Kenapa tingkahnya lucu sekali, ingin aku cium saja bibir mungilnya itu," gumam Barrack dalam hati.


"Jangan sayang, itu kan makanan suamimu dia juga baru memakannya separuh, biar ibu belikan sebentar ya Shafa," ucap Ibu yang membuyarkan lamunan Barrack.


"Ahh tidak apa-apa ibu.. Biar Shafa memakannya dulu, ibu tidak usah keluar lagi, nanti aku suruh bodyguard di luar untuk membelikan makanan," kata Barrack.


Ibu Farida mengganggukkan kepalanya dan tersenyum melihat Barrack menyuapi Shafa lagi.


"Bagaimana, enak tidak?"


"Ini lebih baik daripada makanan dirumah sakit, walaupun enak dan pasti bergizi tapi aku bosan dengan menu rumah sakit,"


"Apa kamu mau pizza dengan banyak topping smoke beef dan keju mozzarella?"


Mata Shafa berbinar mendengar tawaran Barrack, Dia mengganggukkan kepalanya dan sontak memeluk Barrack.


"Aauuuwwwwhh..." Pekik Shafa, saking senangnya dia lupa kalau tangannya sedang terluka.


"Pelan-pelan Shafa.. Aku berhasil membuatmu senang kan? Sampai kamu lupa kalau tanganmu itu sedang terluka, dasar ceroboh!" ucap Barrack tersenyum dan mencubit hidung Shafa.


Shafa tertawa dan tiba-tiba Barrack memeluknya.


"Terimakasih untuk semuanya Shafa," ucap Barrack dengan tulus.

__ADS_1


"Ehheemmm..." Bu Farida berdehem dan membuat Barrack melepaskan pelukannya.


"Apa kalian lupa ada ibu disini? Sepertinya ibu memang harus pulang dulu untuk ganti baju dan menyiapkan keperluan Shafa yang lain," kata Bu Farida sambil tersenyum, lalu Bu Farida pamit kepada keduanya.


Kedua pasangan itu tersenyum malu dengan wajah merona, Barrack menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia baru sadar bisa-bisanya dia lupa ada ibu mertuanya berada disitu.


"Iya bu, hati-hati di jalan! Dibawah ada supir yang akan mengantarkan ibu," kata Barrack.


Saat Bu Farida sudah pulang, Shafa dan Barrack terdiam dengan pikirannya masing-masing. Barrack mencoba memecah keheningan.


"Shafa.. " Panggil Barrack.


"Iya.." Jawab Shafa.


"Terimakasih sudah berkorban banyak untukku dan keluargaku, kenapa kamu tidak memikirkan keselamatanmu padahal kamu sedang terluka, malah membiarkan mereka membawamu?"


"Apa kamu tidak mencurigai mereka saat itu?" kata Barrack menyelidik.


"Aku sudah curiga Barrack, kalau dokter dan suster itu punya tujuan lain, karena dua jam sebelumnya aku sudah diperiksa dokter lain dan sebelum mereka masuk beruntung aku bisa membawa ponselku agar kamu bisa melacakku, aku pura-pura tidur dan benar saja, mereka menyuntikkan obat bius padaku. Aku juga ingin tahu siapa dalang dibalik ini semua, aku tidak mau keluarga kita selalu dalam bahaya," kata Shafa.


"Tapi kamu tidak boleh mengulanginya lagi Shafa.. Menjadikan dirimu umpan untuk memancing musuh keluar itu sangat berbahaya, itu akan mengancam keselamatanmu!" ucap Barrack dengan serius.


"Tidak apa-apa Barrack sesekali dua kali melakukan hal-hal ekstrim membuat kita lebih kuat menghadapi musuh, jangan melihatku seperti gadis polos dan tak tau apa-apa, kau pasti tau aku lebih kuat dari yang kau kira," ucap Shafa tersenyum sombong.


"Dasar kucing kecil yang sombong!" ucap Barrack menggacak gemas rambut Shafa.


"Tapi kamu harus tetap waspada, kalau aku tidak bisa melacakmu waktu itu, bisa saja mereka membunuhmu Shafa, jangan selalu bertindak semaumu, jangan menganggap dirimu itu superhero yang tak mudah ditembus oleh peluru! Pikirkan keselamatanmu, masih ada adik dan ibumu yang selalu menyayangimu," Barrack berbicara tanpa jeda.


"Iya.. Iya.. Tuan Muda cerewet! Hari ini Tuan muda Hansel banyak bicara sekali," ucap Shafa mencibir Barrack lalu Barrack beranjak dari duduknya akan meminum air putih.


"Baiklah Tuan Arogan, Aku akan lebih berhati-hati lagi semua demi ibuku dan adikku yang menyayangiku. Hhmmm.. Memang kamu tidak pernah menyayangiku Barra?" goda Shafa.


"Uhuukkk.. Uhukkkk.."


Sontak Barrack tersedak minumnya mendengar pertanyaan gadis itu.


"Heiii.. Pelan-pelan minumnya Barrack! Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" goda Shafa tersenyum geli.


Walaupun Barrack juga sering merasakan kesepian dan rindu saat Shafa tak di rumah. Tapi dia belum menganggapnya sebagai perasaan cinta.


"Kau menggodaku ya?!" tanya Barrack mendekati Shafa dan tersenyum menyeringai.


Seketika Shafa gugup melihat Barrack yang semakin mendekat dan menatapnya.


"Ti.. Tidak.. Aku hanya bercanda Barrack," kata Shafa dengan gugup.


"Kamu yakin?"


"I... Iya.. "


"Mari kita buktikan seperti apa perasaan kita"


"A.. Ap.. "


"Cuppp..."


Tiba-tiba bibir Barrack membungkam bibir Shafa, awalnya Shafa hanya diam dan terkejut melihat perlakuan Barrack karena ini kali pertama dia dicium seorang laki-laki, tapi lama-lama dia membalas c*uman suaminya itu.


Mereka saling merasakan b*bir mereka yang manis dan m*buk dalam perasaan mereka yang masih abu-abu.


Ada perasaan lain dihati Barrack saat menc*um istrinya, rasa bahagia, rasa tak ingin kehilangan dan seperti ingin selalu mengulanginya lagi.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka menghentikan c*uman mereka karena kekurangan pasokan oksigen.


"Ahh.. Maafkan aku Shafa!" ucap Barrack.


Shafa tersenyum malu dan menundukkan wajahnya yang merona merah.


"Tidak masalah Barrack, bahkan jika kamu memintanya lebih, itu adalah hakmu, kamu adalah suamiku dan kewajibanku adalah melayanimu sepenuh hati," ucap Shafa yang masih menunduk malu.

__ADS_1


Ada perasaan hangat menjalar dihati Barrack saat mendengar kata-kata manis istrinya, dia baru menyadari dia memiliki istri yang istimewa. Istri yang selama ini tak dianggapnya terlihat biasa diluar tapi dia cantik, begitu baik dan tangguh.


"Bisakah kita memulai hubungan ini dari awal istriku? aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu," ucap Barrack yang menggengam tangan Shafa.


Shafa terkejut dengan ucapan Barrack, dia melihat mata Barrack mencari kesungguhan di mata abu-abu itu dan nyatanya laki-laki tampan itu mengatakan dengan tulus tanpa ada kebohongan.


Seketika itu Shafa menangis bahagia melihat Barrack menggangguk dan tersenyum. Barrack memeluk Shafa dengan erat dan menciumi pucuk kepalanya.


"Terimakasih Ya Allah.. Engkau mengabulkan doa hambamu ini.. Terimakasih Ya Rabb.. Terimakasih akhirnya suamiku membuka hatinya untukku," Shafa mengucap syukur berkali-kali dalam hati.


Tiba-tiba dia teringat hubungan Barrack dengan Jenny, dia berfikir apakah dia akan membahas Jenny hari ini, tapi dia ragu dan berperang dalam hatinya, kalau dia membahasnya sekarang mungkin akan merusak suasana hati Barrack dan hatinya yang sedang sama-sama bahagia. Moment seperti ini yang selalu dia tunggu lalu dia memutuskan dalam hati tak membahas Jenny dulu.


Shafa melonggarkan pelukannya dan berkata,


"Suamiku kau tau, aku akan mati karena bosan di rumah sakit ini tanpa ponselku," ucap Shafa memasang wajah melasnya.


Barrack tertawa terbahak mendengar ucapan shafa, bagaimana mungkin disaat moment yang romantis seperti ini istri mungilnya itu memikirkan ponselnya yang hilang entah kemana.


"Memang dimana ponselmu?" tanya Barrack pura-pura tidak tau.


"Aku tidak tau! Aku rasa terjatuh saat mereka menculikku," ucap Shafa lesu.


"Nanti akan aku belikan ponsel yang paling mahal dan terbaru untukmu, kamu mau berapa ponsel? 50?100 buah?" tanya Barrack dengan sombong.


"Memang kamu kira aku mau buka toko handphone Barrack?" ucap Shafa memutar bola matanya malas.


Selalu saja suaminya itu menyombongkan uangnya. Tapi dia tau Barrack hanya bercanda dan selera humor Tuan dingin itu tidak terlalu buruk baginya.


Barrack hanya tertawa kencang mendengar ucapan Shafa kemudian terlihat mengetik pesan pada seseorang dan berlalu pergi menuju kamar mandi.


Setelah Barrack menyelesaikan mandinya dan berganti baju pemberian Tomy tadi, Shafa pun juga dibantu ke kamar mandi.


"Tokk.. Tokkk.. Tokk... "


Suara ketukan pintu itu menghentikan aktivitas Barrack dan Shafa yang sedang makan pizza dan ngobrol ringan.


"Masuklah Tom.. "


Asisten Tomy datang dan terlihat membawa sesuatu di sebuah paperbag.


"Ini pesanan anda Tuan muda.. " ucap tomy


"Terimakasih tom, Cepat sekali kerjamu, kamu memang yang terbaik tom," puji Barrack dengan tersenyum.


Tomy hanya mengernyitkan dahi, dia merasa heran mendengar Tuan mudanya yang datar tanpa ekspresi itu tiba-tiba memujinya.


"Tumben sekali boss mudaku tersenyum dan memujiku, apa hatinya sedang berbunga-bunga karena istri kecilnya? " ucap Tomy dalam hati.


"Sama-sama tuan muda, Apa ada yang anda perlukan lagi? ucap Tomy.


" Tidak Tom,kamu bisa pergi sekarang."


Lalu Tomy menggangguk dan berlalu pergi.


Barrack mendekat ranjang Shafa, dan memberikan paper bag yang Tomy bawa tadi kepada Shafa.


"Apa ini?" tanya Shafa dan menatap Barrack penuh tanya.


" Bukalah! Itu untukmu,"


Kemudian Shafa membuka paperbag itu dan matanya berbinar melihat handphone berwarna hitam mengkilap dengan tipe yang terbaru.


"Ini untukku Barra?"


"Iya itu handphone tercanggih dan terbaru untukmu! Ohh ya nomor ponselmu yang lama sudah terpasang disitu, tadi Tomy aku suruh mengurusnya ke galeri," ucap Barrack.


"Terimakasih banyak suamiku.. Kamu baik sekali!" seru Shafa sembari tersenyum berbinar dan mendekap ponselnya didadanya dengan kedua tangannya.


"Itu tidak gratis sayang! Bayar dengan ini," ucap Barrack yang tersenyum smirk dan menepuk-nepuk pipinya.

__ADS_1


Seketika wajah Shafa merah merona, Dia tersenyum bahagia dan menunduk malu.


__ADS_2